by

Sidang Praperadilan Kasus Investasi Bisnis, Saksi Ahli: Itu Tindak Pidana

BOGORONLINE.com, Bogor Tengah – Pengadilan Negeri Bogor kembali menggelar sidang praperadilan terkait kasus investasi bisnis yang diajukan Ria Rusty Yulita pada Senin (12/10/2020). Agenda sidang yang dipimpin hakim tunggal Arya Putra Negara ini mendengarkan keterangan saksi-saksi dan bukti tambahan dari pemohon.

Dalam sidang tersebut, kuasa hukum pemohon menghadirkan tiga orang saksi. Ketiganya, adalah Ria Rusty Yulita (saksi korban), Bintatar Sinaga (ahli hukum pidana dari Universitas Pakuan) dan Rohman (auditor dari Universitas Pakuan). Sidang di ruang Kartika itu juga dihadiri pihak termohon dari Polda Jawa Barat dan Polresta Bogor Kota.

Bintatar Sinaga berpendapat bahwa kasus dugaan penipuan investasi bisnis itu merupakan tindak pidana. Ia juga mengaku sudah dimintai keterangan di kepolisian.

“Pendapat saya mengatakan, bahwa itu adalah tindak pidana. Tadi sebenarnya untuk memperkuat apa yang sudah dikatakan kepada kepolisian. Di sini, saya mengurai lebih jelas teori-teori untuk membenarkan pendapat saya itu sebagai saksi ahli, bukan saksi perkara,” ungkap Bintatar kepada awak media usai mengikuti sidang.

Ia menjelaskan, dalam proses penanganannya juga harus menganut kepada pertingkatan hukum. Menurut hukum acara pidana, sambungnya, prapenuntutan itu tanpa ada batasan. Sehingga kalau surat edaran bertentangan dengan undang-undang, maka yang digunakan itu undang-undang karena memiliki kedudukan yang lebih tinggi.

Saat ditanya kasus ini diarahkan ke perdata, Bintatar mengatakan, “Saya ikutin perdata, tetapi sudah saya tunjukkan dasar hukumnya. Jadi, biarpun sah menurut perdata, tidak menjadi soal dalam perkara penipuan. Artinya tidak bisa menjadi alasan untuk menghindari tindak pidana penipuan.”

Bintatar menegaskan, bahwa Pasal 378 itu juga tidak perlu dibuktikan kerugian, karena unsur tindak pidana yang digunakan terdapat dalam pasal tersebut sudah jelas ada.

Sementara itu, kuasa hukum pemohon, Eka Ardianto mengatakan, pihaknya dalam agenda sidang hari ini menghadirkan tiga orang saksi. Satu saksi korban, dan dua saksi ahli, hukum pidana dan auditor.

“Dalam persidangan saksi auditor menerangkan ada unsur kerugian, bahwa ada uang modal klien kami Rp480 juta belum dikembalikan oleh terlapor. Jadi unsur kerugian sudah jelas ada,” ujarnya.

“Sedangkan keterangan dari saksi ahli pidana, tadi dijelaskan panjang lebar mengenai unsur-unsur dalam Pasal 372 dan 378. Kerugian bukan merupakan hal utama yang harus dibuktikan, tapi dalam unsur itu justru tentang menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Jadi perbuatan pidananya menurut hemat kami dan seirama dengan pendapat ahli, perbuatan itu sudah terjadi, artinya layak untuk disidangkan. Ini kontradiktif dengan terbitnya SP3,” kata Eka kembali.

Pihaknya berharap melalui pengadilian ini kliennya mendapatkan keadilan dan kepastian hukum.

“Klien kami sebagai saksi juga tadi menyampaikan ingin mendapatkan keadilan dan kepastian hukum. Kami kepada majelis hakim mohon bisa secara obyektif mempertimbangkan dan mengabulkan permohonan ini demi keadilan,” tandasnya.

Sidang praperadilan ini akan diputuskan oleh majelis hakim pada Rabu (14/10/2020). (Hrs)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed