by

“Paradigma Sistem” dalam Mengidentifikasi Masalah Pendidikan di Indonesia

Oleh: Yayat Supriyatna

(Penulis adalah praktisi pendidikan Indonesia tinggal di Kabupaten Bogor)

Pendidikan adalah sub-sistem dari sebuah Negara yang eksistensinya sangat signifikan bagi keberlangsungan, perkembangan, keutuhan, dan kemajuan sebuah bangsa dan Negara. Oleh sebab itu, membentuk, menjaga, merawat, dan mengembangkan pendidikan sama dengan membentuk, menjaga, merawat, dan mengembangkan sebuah bangsa dan Negara.
Krisis multi-dimensi kehidupan bangsa telah melampaui ambang batas psikologi, masayarakat sudah mulai pesimis, apatis, prustasi, dan bahkan anarkis. Mencari akar masalah dari permasalahan bangsa seperti memasuki ruang gelap, seperti masuk kedalam sebuah lingkaran, dan seperti benang kusut. Persoalan bangsa bukan lagi persoalan individu dan lokal, tapi sudah menasional dan bahkan mengglobal. Dengan kata lain persoalan bangsa ini sudah sistemik.

Jika pendidikan sebagai sebuah sub-sistem dari system besar sebuah Negara, maka apapun kondisinya, pendidikan berperan penting dalam memberikan konstribusi SDM. Apakah krisis multi-dimensi bangsa berkaitan atau bahkan berakar pada krisis di dunia pendidikan? Dari sinilah “paradigma system” bisa digunakan dalam melihat, memahami, dan bahkan menafsirkan realitas dunia pendidikan di Indonesia.

Pendidikan melalui lembaga / sekolah belum dijadikan sebagai sebuah system organisasi yang ideal. Lembaga pendidikan / sekolah baru dijalankan apa adanya. Cara pandang apa adanya akan menghasilkan apa adanya pula. Cara pandang apa adanya, cermin dari rendahnya rasa tanggung jawab.

Membangun “paradigma system” dalam membentuk, menjaga, merawat, dan mengembangkan Sekolah adalah pilihan penting dan mendesak. “paradigm system” adalah cara / upaya untuk menjawab pertanyaan apa itu system sekolah? Mengapa sekolah harus dibangun secara sistemik? Bagaimana membangun sekolah secara sistemik? System seperti apa yang baik bagi sebuah sekolah? Orang – orang seperti apa yang bisa memahami dan menajalankan system sekolah? Dan bagaimana sekolah sebagai sebuah system dapat tumbuh dan berkembang serta berkemajuan? Inilah deretan pertanyaan – pertanyaan yang harus dijawab

Dalam teori sistem, bahwa alur kerja sebuah sistem meliputi; input, proses, output dan intrumen yang memengaruhinya adalah berupa, outcome, dan feedback.

Input
Input adalah, masukan, sesuatu yang dibutuhkan/kompenen/elemen/unsur penting yang harus ada. Alur kerja input adalah cara menerima dan memasukan unsur penting dimaksud. Jika kemajuan bangsa dimana harga diri dan jati diri bangsa dipertaruhkan, salah satu subsitem yang paling bertanggung jawab adalah sistem pendidikan, maka menghadirkan bangsa yang hebat harus sebanding dengan diantaranya menyiapkan pendidikan yang hebat pula. Pada tahap input ini, adakah lembaga pendidikan diadakan secara selektif atau alakadarnya dan apa adanya. Ini yang mengharuskan alur kerja input yang berupa system pendidikann dibuat sebanding dengan tanggung jawab yang akan dipikulnya.
Proses
Proses adalah, rangkaian tindakan/perbuatan. Pada tahap pembentukan lembaga pendidikan harus diawali dengan memiliki kesiapan niat berupa adanya kemauan atau bahwa dirinya memilih untuk mendirikan lembaga pendidikan adalah lahir dari pilihan sadar. Pilihan sadar adalah situasi psikologis dimana sudah ketemunya motivasi dan orientasi yang seharusnya dimiliki oleh seorang pendiri. Ini akan memudahkan pada tahap proses melahirkan lembaga pendidikan masa depan.
Menemukan proses sama dengan menemukan jalan yang tepat sebagai reaksi positif dan futuristik atas input yang diterima. Setelah menemukan jalan, maka langkah selanjutnya bagaimana berjalan secara cepat, tepat, terarah dan efektif. Disinilah pilihan strategi/cara/metode/tekhnik yang baik menjadi penting, walaupun harus disadari bahwa pilihan cara yang tergantung dari bacaan terhadap konteks / keadaan yang selalu bergerak dan berubah (baca: cara/metode rentang terhadap perubahan).
Pada tahap proses, sebaiknya tidak lagi mengurus/ menggarap aspek motivasi dan orientasi. Bicara proses bicara efektifitas dan efesiensi. Maka garapan proses adalah menemukan, mengolah/mengembangkan lembaga pendidikan
Membicarakan proses adalah menggagas sebuah tahapan/prosedur yang tepat. Tahapan lahir dari filosofi bahwa setiap yang ada berevolusi dan prosedur lahir dari filosofi bahwa alam memiliki keteraturan.
Output
Output adalah, hasil yang seharusnya dicapai. Seharusnya dicapai berarti membicarakan standar/kriteria. Hasil pada akhirnya bisa sesuai dengan harapan, belum sesuai harapan, diluar harapan atau tidak diharapkan. Hasil inipun tidak bisa dilepaskan dari input dan proses yang dibangun. maka input-proses-output adalah sebuah rangkaian tak terpisahkan. Inilah manajemen bebasis sistem.

Outcome
Setiap pilihan dan hasil memiliki konsekuensi. Konsekuensi adalah sebuah akibat yang bisa berdampak luas atau sempit tergantung dari kriteri dan standar keberhasilan. Bahwa menjadi lembaga pendidikan yang benar dan baik adalah hasil dari pergulatan, benturan dan pertarungan yang sengit baik secara intelektual, moral, mental dan sosial. Jika intelektual, moral dan mentalnya kurang, lemah dan terbatas, maka hasilnya pun sebanding dengannya.
Akibat / konsekuensi memiliki dua dimensi, pertama, berdimensi luas dan menyeluruh. Mewujudkan lembaga pendidikan yang benar dan baik tentunya dampak yang diberikan akan diterima secara luas pengaruhnya. Dan yang kedua, berdimensi waktu. Mewujudkan lembaga pendidikan yang benar dan baik ia akan dinanti, ditunggu dan dikenang. Lembaga pendidikan yang benar dan baik akan memotivasi dan menginsfirasi, ia bagaikan energi yang tidak akan pernah habis, kering dan padam.
Feedback (umpan balik)
Feedback adalah, Penilaian berupa output/outcome (baca: evaluasi). Jika outcome dampaknya lebih bersifat eksternal, maka feedback dampaknya lebih bersifat internal. Lembaga pendidikan yang diharapkan, belum diharapkan, diluar harapan atau tidak diharapkan akan sebanding dengan feedback yang akan diterima oleh lembaga/sekolah tersebut. Ini akan menjadi bahan evaluasi yang dengannya dapat ditemukan solusi alternatif. Umpan balik membuat lembaga berpikir ulang tentang proses yang dibuat dan dilakukan. Apakah proses pada tataran konsep yang lemah atau pada tataran aplikasi yang tidak progres. Penilaian akan feedback akan berdampak pada analisa yang integral terhadap proses yang dibangun.
Environment (lingkungan)
Setiap lembaga/sekolah berada dalam lingkungan sistem baik berskala lokal, nasioanal, regional dan bahkan global. Setiap ruang (lingkungan sistem) memiliki kuasa yang didalamnya terdapat peraturan dan ketentuan (baca: standar/ukuran/kriteria) ruang. Dan semua yang ada didalamnya terikat / mau atau tidak mau harus mengikuti standar yang ada dalam lingkungan sistem. Menjadi bagian lingkungan sistem adalah keniscayaan.
Kemajuan lembaga/sekolah harus seiring, seirama dan sejalan dengan perkembangan dan dinamika lokal sampai global. Keberhasilan lembaga/sekolah pun hari ini harus dipaksa untuk mengikuti standar dan ukuran global. Maka sikap latah terhadap apa saja yang berbau global/internasional menjadi sulit dihindari. Bahkan tidak jarang standar/ukuran dalam konteks dan dinamika globalisasi sering dijadikan rujukan dan ukuran bagi keberhasilan sebuah lembaga/sekolah. Ketika dijadikan rujukan/ukuran mau tidak mau standar kemajuan pun menjadi apa yang terjadi pada lingkungan global.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *