BOGORONLINE.COM, CIBINONG – Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Rudy Susmanto meminta Satgas Covid-19 Kabupaten Bogor mengevaluasi pendataan pasien Covid-19, baik kasus terkonfirmasi positif dan jumlah angka kematian.
Hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan data kasus Covid-19 antara data yang dimiliki Satgas Covid-19 Kabupaten Bogor dengan catatan Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat (Pikobar).
“Terkait perbedaan data harus di evaluasi untuk lebih mengupdate dan mensinkronkan data sehingga antara rumah sakit dan tim gugus tugas dan Dinas Kesehatan itu sama,” ujar Rudy kepada wartawan, Selasa (2/2).
Menurut dia, akurasi data akan sangat membantu tenaga kesehatan dan masyarakat dalam upaya penanganan pandemi COVID-19. “Basis data yang akurat sangat-sangat penting,” kata dia.
Rudy juga meminta ada sumber informasi interaktif yang bisa diakses oleh masyarakat. Keberadaan laman SiTegar, kata dia, seharusnya menjadi sumber informasi masyarajat untuk dapat mencari ketersediaan ruang isolasi ICU, dan lain sebagainya.
“Ketersediaan ruang isolasi itu harusnya dapat diakses masyarakat secara realtime sesuai dengan kondisi di lapangan,” imbuhnya.
Ketidaksesuaian data Covid-19 Kabupaten Bogor memang sudah disadari jauh sebelumnya, politisi Gerindra itu mencontohkan data yang dirilis secara harian Satgas Covid-19 Kabupaten Bogor.
“Saya kebetulan ada di grup gugus tugas dan mengkritisi hal yang sama. Hari Sabtu 30 Januari 2021 ada saudara saya yang meninggal di RSUD Cibinong, dan di hari yang sama terdapat tiga pasien lainnya yang meninggal juga. Tapi data sepekan terakhir angka kasus meninggal flat 81 orang,” kata Rudy.
Jika melihat kasus pasien Covid-19 yang meninggal, seharusnya data yang ada pada Satgas Covid-19 Kabupaten Bogor seharusnya bertambah.
“Harusnya jadi 82 kalau memang tidak dimasukan semua. Ini harus jadi bahan evaluasi,” tegasnya.
Berdasarkan catatan Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat (Pikobar), hingga 31 Januari 2021 mencapai 304 kasus. Sementara data yang dimiliki Satgas Covid-19, angka kematian hanya 81 orang di hari yang sama.
Saat dikonfirmasi, Bupati Bogor, Ade Yasin terkejut mengetahui jika Kabupaten Bogor disebut-sebut menjadi daerah dengan angka kematian tertinggi akibat Covid-19 di Jawa Barat, dengan 304 kasus.
“Saya juga kaget mendengar kabar ini. Kami akan berkoordinasi dengan stakeholder terkait,” kata Ade Yasin di Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Bogor, Senin (1/02/2021).
Ade menduga, Pikobar memperoleh data langsung dari masyarakat, di mana ada orang di sekitarnya meninggal dunia akibat Covid-19.
“Mungkin Pikobar datanya langsung dari masyarakat, dan mungkin tidak terdata oleh kami,” katanya.
Laman Pikobar hingga Jumat (31/1), mencatat jumlah kematian akibat Covid-19 di Kabupaten Bogor mencapai 304 kasus.
Jumlah angka kematian menjadi yang tertinggi dibanding daerah lain di Jawa Barat.
Pikobar mencatat, secara keseluruhan, kasus terkonfirmasi di Kabupaten Bogor mencapai 5.885 kasus, dengan 989 orang dirawat atau isolasi dan 4.592 orang sembuh.
Pasalnya, dalam laman itu tercatat, dari akumulasi kasus kematian akibat Covid-19 di Jawa Barat mencapai 1.942 kasus dari 150.333 kasus terkonfirmasi positif.
Namun, jumlah kematian dan akumulasi positif yang dimiliki Pemprov Jawa Barat, berbeda dengan yang dimiliki Satgas Covid-19 Kabupaten Bogor.
Hingga (31/1), Satgas Covid-19 Kabupaten Bogor mencatat, dari keseluruhan kasus positif sebanyak 7.862 orang, 566 orang masih dalam isolasi atau dirawat, 7.209 orang sembuh dan 81 orang meninggal dunia. (*)





