by

Berjamaah, Oknum Kades dan Staf Rekayasa Surat Tanah

BOGORONLINE.com, CIKARANG – Perbuatan melawan hukum berupa pemalsuan surat lahan orang lain oleh oknum kepala desa (Kades) Tamanrahayu Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, AW mulai disidangkan. Sidang pertama digelar Kamis (15/4) lalu, dengan agenda membacakan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Cikarang.

AW diajukan ke meja hijau sebagai pesakitan, sesuai hasil penyelidikan penyidik Polrestro Bekasi Kabupaten, sebagaimana laporan pelapor Gunawan alias Kiwil. AW disangka melanggar KUHP pasal 263 dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. Pengadilan Negeri (PN) Cikarang yang mengadili perkara sesuai nomor perkara 285 dan 286.

Dalam memalsukan surat, membuat kepemilikan baru atasnama Utar, AW melibatkan Ketua BPD IRF, Kaur Pemerintahan SKR dan seorang ASN Kecamatan Setu, AHM. Keempat tersangka itu, saat ini berubah status jadi Terdakwa setelah berkas pemeriksaan penyidik dinyatakan lengkap (P 21) oleh JPU.

Memasuki sidang ke II pemeriksaan saksi, tujuh orang saksi diajukan JPU Danang, untuk menjerat terdakwa. AW dan rekan yang hadir pada Kamis (22/4) di PN Cikarang menggunakan baju batik didampingi dua orang pengacara.

Karena padatnya acara sidang, Majelis Hakim yang memimpin sidang Chandra Ramadhani, dibantu dua hakim lainnya Yudha dan Agus serta Panitera Frans menunda sidang sampai Selasa (27/4).

Sebelum mengetuk palu, hakim meminta persetujuan terdakwa melalui pengacara dan JPU. Keduanya setuju atas penundaan itu dengan alasan jadwal sidang hari Kamis padat.

“Sidang ditunda sampai hari selasa, dengan agenda memeriksa saksi. Kami minta maaf karena padatnya sidang dan terbatasnya ruangan sidang membuat persidangan kasus ini terlambat,” kata Hakim Ketua Chandra Ramadhani.

Usai sidang, terdakwa beserta pengacara langsung meninggalkan tempat. Awak media yang menunggu terdakwa dan pengacaranya dari siang, kecewa atas kejadian itu.

“Terdakwa kok cepat banget perginya, seperti terburu-buru. Ada apa dengan kejadian ini,” tutur seorang wartawan.

Sementara pelapor mengatakan kecewa atas penundaan sidang. Pasalnya, saksi yang telah disiapkan, tidak dilakukan pemeriksaan. Diakui, kehadirannya bersama saksi merupakan bentuk ketaatannya terhadap proses hukum yang sedang berjalan.

“Saya kecewa dengan pelaksanaan sidang hari ini. Kami sudah datang jauh-jauh, tapi tidak ada hasil. Malah ditunda sampai selasa depan. Padahal, kami hadir dalam sidang ini sebagai bentuk ketaatan kami atas pelaksanaan hukum di negeri ini,” tegas Kiwil.
(Soeft)

ARTIKEL REKOMENDASI

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *