by

SEGS Tingkatkan Indeks Keanekaragaman Hayati, Macan Tutul Bertambah Dua Kali Lipat di TNGHS

 

Pamijahan – Star Energy Geothermal Salak, Ltd. (SEGS) berkomitmen untuk membuktikan, pengusahaan panas bumi bisa selaras dengan upaya konservasi di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dengan program restorasi hutan dan konservasi sumber air.

Manager Policy, Government and Public Affairs (PGPA) SEGS, Nungki Nursasongko mengaku, SEGS berhasil meningkatkan indeks keanekaragaman hayati di kawasan TNGHS “Dengan pelbagai program, sampai 2019, SEGS telah berhasil meningkatkan indeks keanekaragaman hayati dari 3,90 menjadi 3,93 di kawasan TNGHS,” kata dia.

Menurutnya, hasil pemantauan satwa kunci yang dilakukan sejak SEGS memulai program Prakarsa Lintasan Hijau atau Green Corridor Initiative (GCI) pada 2018, terjadi peningkatan populasi Macan Tutul Jawa dari 6 ekor menjadi 13 pada 2020, Elang Jawa dari 6 ekor menjadi 14, dan Owa Jawa dari 4 ekor menjadi 10 ekor.

Nungki menyebut, Program GCI ini bertujuan merestorasi 265 hektar hutan untuk menghubungkan dua habitat besar yaitu Gunung Halimun dan Gunung Salak demi kelangsungan ekologi dan habitat dari satwa dilindungi dan terancam punah seperti Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis commata), Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), dan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas).

“Program GCI meliputi kegiatan ekowisata, restorasi mata air, dan konservasi hutan dengan melibatkan pelbagai elemen masyarakat. Melalui program ini, SEGS berharap dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa ekologi yang terjaga dapat bermanfaat bagi ekonomi berkelanjutan,” harapnya.

Upaya-upaya tersebut, lanjut Nungki, sejalan dengan upaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk memastikan pemanfaatan panas bumi berprinsip konservasi melalui Permen LHK No.46/2016 tentang Pemanfaatan Jasa Lingkungan Panas Bumi dan Permen LHK No.P3/2021 tentang Standar Kegiatan Usaha pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Resiko Sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Selain program-program itu, SEGS juga membangun Perpustakaan Taman Pamekar dan Taman Endemik Salak untuk pendidikan lingkungan dan penerbitan buku-buku serta konservasi flora dan fauna endemik langka, seperti pembangunan Suaka Elang oleh Balai TNGHS dan pembentukan Garda Konservasi dengan kegiatan patroli bersama,” ungkap Nungki

Lebih lanjut Nungki menerangkan, Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 23,9 gigawatt. Pemerintah menargetkan potensi tersebut mampu mendongkrak realisasi bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025. “Karena potensi tersebut sebagian besar berada di kawasan hutan, maka prinsip keselarasan pengusahaan panas bumi dengan konservasi harus dipatuhi oleh pengembang panas bumi,” tegasnya.

ARTIKEL REKOMENDASI

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *