Oleh: Yayat Supriyatna
Manajer Pendidikan SIT Asy – Syifa Qolbu dan Praktisi Pendidikan
Sumber daya yang paling menentukan bagi eksistensi sebuah Negara adalah sumber daya manusia. Mereka adalah orang – orang yang akan menyediakan waktu, tenaga, pikiran, dan keahliannya bagi perkembangan dan kemajuan sebuah negara. Oleh karenanya wajah masa depan sebuah negara dapat dilihat dari eksistensi sumber daya manusia yang dimilikinya sekarang. Apakah SDM yang ada kini telah sesuai dengan harapan, kurang diharapkan, atau tidak diharapkan sebagai modal dalam membangun dan memajukan Negara?
Dari mana SDM diproduksi, maka Lembaga Pendidikan menjadi yang paling bertanggungjawab dalam mencetak SDM yang berkualitas. Pendidikan adalah sub-sistem yang paling utama dan menentukan bagi eksistensi sebuah negara, karena darinya stok SDM tersedia untuk mengisi berbagai sector dari sebuah negara. Bagaimana hubungan yang seharusnya terjalin antara Pendidikan sebagai sub-sistem negara dangan negara itu sendiri? Apakak negara yang mengendalikan, mempengaruhi dan mewarnai pendidikan, atau Pendidikan yang seharusnya memberi warna dan pengaruh pada penyelenggaraan negara? Untuk menjawab pertanyaan dikotomis ini sebaiknya kita gunakan teori sistem untuk memberikan gambaran dan jawaban atasnya.
Setiap negara atau bangsa memiliki flasafah / ideologi yang dianutnya sebagai system nilai yang seharusnya mengendalikan keseluruhan system yang dijalankannya. Melalui falsafah atau ideologi akan memberikan tujuan, jalan dan arah bagi sebuah negara. Maka, sub-sistem yang ada termasuk Pendidikan yang dijalankannya harus setujuan, sejalan, dan searah dengan tujuan, jalan, dan arah negara. Tujuan, jalan, dan arah inilah yang seharusnya menyatukan dan menggerakan seluruh sub- system negara, termasuk Pendidikan. Apakah Pendidikan yang selama ini diselenggarakan melalui input- proses-output-outcome nya telah selaras, setujuan, sejalan dan searah dengan cita – cita luruh bangsa-neragar ini? atau Pendidikan yang selama ini kita selenggarakan dikendalikan penuh oleh lingkungan system secara global. (baca: globalis). Pertanyaan susulannya adalah: apakah negara telah menjadi sub-sistem dari system global? Jika demikian, maka negara berada dalam pusaran kepentingan global yang harus tunduk dan patuh padanya.
Jika negara telah menjadi sub-sistem dari system global, dengan kata lain negara ada dalam kendali system global. Maka ia akan kehilangan jati dirinya, dimana falsafah / ideologi yang mengusungnya akan dibatasi hanya sekedar memberi warna bukan mengendalikan perjalanan sebuah negara. Lambat laun Negara akan kehilangan visi besarnya yang berupa falsafah atau ideologinya. Jika sudah kehilangan visinya, maka sebuah negara akan mudah ditaklukan dan dikendalikan oleh kekuatan lain. Dan jika negara sudah menjadi system global, maka sebagian dari konsekuensinya Pendidikan yang akan diselenggarakanya pun akan memenuhi tuntutan global.
KAPITALISME sebagai sebuah ideologi telah menjadi system global yang pengaruhnya cukup kuat dan luas menjangkau dan mengendalikan berbagai negara. “trademark” Kapitalisme itu adalah kesenjangan dan penindasan. Kapitalisme itu licik, culas tanpa moral, minus Nurani. Jika keadaan sedang damai ia akan mengigit, namun jika keadaan sedang kacau ia akan menguasai dan menindas. Maka untuk menguasai dan menindas sebuah negara ia akan membuat kekacauan dinegara tersebut. Pendidikan ketika ia berada dalam kuas kapitalisme hanya akan dijadikan mesin produksi yang akan menghasilkan robot robot beryawa (manausia) yang akan mengisi ruang ruang industry buat mempertahan eksistensinya.
Merdeka belajar seharusnya merdeka untuk keluar dari cengkraman kapitalisme dengan melahirkan sekolah penggerak, kepala sekolah penggerak, dan guru penggerak untuk bebas dan melepaskan diri dari kapitalisme, bukan merdeka dan bergerak lepas dari falsafah atau ideologi negara untuk menjadi bagian dari sestem global kapitalisme.





