Cibinong – Aktivis difabel, Nadia Hasna Humaira mengaku perlu adanya pendidikan seksual di kabupaten Bogor. Hal tersebut ia ungkapkan menyusul maraknya kasus pelecehan dan penyimpanan seksual terhadap anak dan orang difabel.
Menurutnya, edukasi seksual ini diperlukan untuk mengantisipasi dan memberikan pemahaman kepada anak sejak dini, agar anak bisa memiliki modal dalam mencegah pelecehan maupun penyimpanan seksual yang terjadi kepada si anak.
“Saya akan memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk melek terhadap edukasi seksual. Ini bukan hal negatif, karena anak-anak ini harus melindungi dirinya sendiri,” kata Nadia, Selasa (8/2).
Salah satu Tim Bogor Gerak Cepat (Gercep) ini juga menyampaikan bahwa masyarakat harus mengetahui perilaku-perilaku penyimpangan seksual yang terjadi di lingkungan mereka.
“Seperti kasus pelatih futsal itu, pelaku itu memiliki penyimpangan seksual seperti salah satunya pedofil, dia juga eksibisionis dengan memperlihatkan (kemaluan) memfoto dan membagikan tanpa izin dan diminta. Hal-hal tersebut yang kadang kita tidak sadar,” katanya.
Ketua DPP partai PPP ini mengaku, fenomena-fenomena tersebut sudah mengakar. Menurutnya, Akibat tidak adanya edukasi seksual terhadap anak, anak-anak akan kesusahan dalam mengambil sikap tatkala menghadapi penyimpangan seksual.
“Ini sudah mengakar seperti fenomena gunung ES, yang terlihat orang normal, tapi di belakang dia lakukan hal tak senonoh kepada muridnya. Nah ini kesadaran yang harus kita gaungkan kepada anak, orang tua, pendidik. maksudnya ini loh edukasi seksual itu,” katanya.





