Tujuan, Jalan dan Arah Pendidikan

Headline, Sosok887 views

Oleh: Yayat Supriyatna

Manajer Pendidikan SIT Asy-syifa Qolbu dan Praktisi Pendidikan

 

Kurikulum 2013 belum dipahami dan dijalankan secara utuh dan menyeluruh, kini kita dihadapkan dan harus menjalani kurikulum merdeka. Ini semakin nmembuktikan bahwa “ganti Menteri, ganti kurikulum” menjadi sebuah keniscayaan yang harus diterima. Pertanyaannya, apa subtansi perubahan atau pergantian kurikulum ini? Jangan – jangan hanya perubahan atau pergantian format minus subtansi. Jika demikian adanya, maka asumsi bahwa yang penting ada hal baru yang harus dikerjakan menjadi nyata adanya (yang penting ada kerjaan)
Apakah perubahan atau pergantian kurikulum itu telah sesuai dengan kebutuhan peserta didik sebagai manusia atau kebutuhan pemangku kepentingan yang telah menciptakan pasar kapitalisme dan atau kebutuhan dan kepentingan siapa? Apakah perubahan atau pergantian kurikulum telah sesuai dengan masalah nyata yang dihadapi bangsa ini? dan apakah perubahan dan atau pergantian kurikulum ini telah sesuai dengan tantangan zaman yang harus dihadapi oleh bangsa ini? Ketika kita salah atau keliru menempatkan kebutuhan, masalah dan tantangan peserta didik sebagai manusia dan zaman yang harus dihadapinya, maka kita akan salah dan keliru pula dalam merumuskan atau menyusun kurikulum. Kesalahan dan kekeliruan dalam menyusun kurikulum akan mengakibatkan terjadinya malepraktek Pendidikan. Sumber Daya Manusia yang dihasilkan dari malpraktek Pendidikan akan berakibat buruk bagi masa depan bangsa-negara.
Kurikulum yang berasal dari kata “curare” yang artinya: “lintasan” melahirkan makna – makna baru diantaranya: dalam setiap lintasan diharuskan adanya tujuan sebagai akhir atau finish yang harus dituju. Dalam hal ini kurikulum harus memiliki tujuan yang sesuai dengan tujuan penciptaan atau keberadaan manusia dimuka bumi. Lintasan, merupakan jalan yang harus dilalui. Dalam hal ini, kurikulum harus melahirkan materi ajar yang menjadi jalan yang harus dilalui. Dengan demikian, materi yang dirumuskan harus sesuai dengan kebutuhan hakiki peserta didik sebagai manusia. Selanjutnya adalah bahwa dalam setiap lintasan dimana kita berjalan diatasnya harus sesuai dengan arah atau cara atau strategi agar perjalanan itu cepat sampai ketujuan. Dalam hal ini kurikulum harus melahirkan pendekatan, model dan metode yang tepat agar peserta didik bisa cepat sampai kepada tujuan kurikulum itu sendiri.
Dari pandangan diatas, apakah selama ini tujuan Pendidikan itu telah sesuai dengan hakikat penciptaan atau keberadaan manusia dimuka bumi. Untuk itu kita perlu mamastikan tujuan itu benar dan dibenarkan? Siapa yang memiliki wewenang atau otoritas untuk memberikan legitimasi atasnya? Berbagai falsafah dan agama lahir memberikan jawaban atas tujuan Pendidikan itu sendiri. Falsafah dan agama mana dan seperti apa yang bisa memastikan jawabanya itu benar dan bisa dibenarkan? Problem ini menjadi sangat penting dan mendesak sebelum kurikulum itu dirumuskan.
Apakah materi ajar yang menjadi jalan yang harus dilewati peserta didik sesuai dengan kebutuhan hakikinya sebagai manusia? Jawaban ini sangat tergantung dari tujuan Pendidikan yang menjadi falsafahnya. Dan yang terakhir, apakah pendekatan, model dan metode yang digunakan telah sesuai dengan kebutuhan, masalah dan tantangan yang kini dan akan dihadapi oleh peserta didik dimasa depan. Materi ajar seperti apa serta pendekatan, model dan metode seperti apa yang bisa mengantarkan peserta didik pada tujuan pendidikannya?
Perubahan dan pergantian kurikulum jangan sampai mengabaikan hal yang fundamental yaitu menganai falasafah Pendidikan itu sendiri. Jangan sampai perubahan atau pergantian itu hanya bersifat artifisial atau format belaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *