Menumbuhkan Budaya Kritis dan Kreatif di Lingkungan Pendidikan

Headline, Sosok734 views

Oleh: Yayat Sepriyatna
Manajer Pendidikan SIT Asy – syifa Qolbu dan Praktisi Pendidikan

 

 

Arus deras informasi telah berhasil merobohkan benteng sebuah negeri, mengotori nilai tradisi dan budaya sebuah masyarakat dan akhirnya benteng terakhir keluarga pun hanyut terbawa arusnya. Media informasi sebagai produk dari perkembangan sain dan tekhnologi bagaikan pedang bermata dua: satu sisi, ujung yang runcingnya itu bisa memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan hingga hidup bisa menjadi efektif dan episien, disatu sisi ujung yang runcing lainnya bisa menikam, merobek dan mencabik cabik nilai dan moral yang selama ini menjaga dan mengawal masyarakat.

Siapa yang menguasai informasi, ia yang akan menguasai dunia. Siapa yang menguasai dunia, ia yang akan mengarahkan dan mengendalikan dunia sesuai dengan kepentingannya. Hampir 4 abad Peradaban Barat mengarahkan dan mengendalikan dunia dengan segala kepentingannya. Media yang mereka gunakan adalah tekhnologi informasi. Melalui tekhnologi informasinya inilah berbagai kepentingan baik secara politik, ekonomi, sosial, budaya dan bahkan ideologinya disebar dan ditebar keseluruh pelosok bumi ini. Otak dan perasaan penduduk bumi ini ada dalam genggaman kekuasaannya. Ketika otak dan perasaan manusia sudah berada dalam genggaman kekuasaanya maka akan sangat mudah mengendalikan dan mengarahkannya. Inilah fakta yang suka atau pun tidak, sadar ataupun terpaksa kita kini dan disini merasakan dan menyaksikannya.

Surplus informasi, inilah yang kini kita rasakan. Arus informasi yang mengalir deras ini tidak memperdulikan kebutuhan kita, ia terus mamaksa dan bahkan menyelinap masuk kedalam otak dan perasaan kita. Kita sulit sekali mengklarifikasi dan mengklasifikasi mana dari informasi itu yang penting dan mendesak. Ketidak mampuan menglarifikasi dan mengklafisikasi akhirnya informasi yang bermuatan “hoax” pun kita anggap benar dan baik. Gempuran informasi telah membuat kesadaran kita lumpuh tidak berdaya, pilihan dan Langkah kita diarahkan olehnya. Kita nyaris tidak tahu lagi mana yang sebenarnya kita butuhkan, yang penting dan yang mendesak. Maka wajar, jika polemic, intrik dan konflik terjadi dalam kehidupan, baik skala kecil maupun besar (antar negara) karena daya kunyah dalam mencerna informasi tidak optimal dan maksimal. Akhrinya kesalahpahaman terjadi yang berbuah konflik
Dari asumsi diatas, maka tidak salah kalau dunia kini menempatkan daya kritis dan kreatif menjadi syarat atau kompetensi abad 21 yang harus dimiliki manusia yang sedang dan akan terus bergumul dengannya. Daya kritis dan kreatif tidak akan muncul kalau di otak manusia tidak tersimpan nilai yang dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran. Persoalannya nilai seperti apa yang bisa menjadi kekuatan dalam menyaring arus deras informasi dimaksud. Tanpa alat penyaringan yang kuat dan kokoh, selamanya kita tidak akan pernah memiliki daya kritis dan kreatif.

Dalam hal ini, Lembaga Pendidikan dimanapun adanya memiliki tanggungjawab moral dan sejarah bagi bangsanya dimasa depan untuk menanamkan nilai yang benar sebagai alat dan menyaring informasi hingga anak anak bangsa dimasa depan bisa mengklarifikasi dan mengklasifikasi informasi secara benar, baik dan tepat. Dan tantangan terbesar dan terberat Lembaga Pendidikan adalah memastikan niali – nilai itu benar dan dibenarkan. Untuk selanjutnya Lembaga pendidikan harus mengembangkan metode dialog, diskusi, seminar, workshop dll menjadi penting untuk diprogramkan secara berkesinambungan, agar peserta didik memiliki cara pandang dan sikap ilmiah dalam melihat, memahami dan menafsirkan realitas. Melalui nilai itulah, peserta didik memiliki tujuan, jalan dan arah yang jelas, pasti dan terukur hingga bisa menempatkan dan mengarahkan informasi secara bijaksana. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *