Brutalisme Pelajar

Headline, Sosok653 views

Potret masa depan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh eksistensi generasi muda (pelajar) kini dan disini terkait erat dengan pola pikir, sikap dan perbuatannya. Sebagian generasi muda (pelajar) tidak lagi menjadi pribadi yang mandiri, bersahaja, berani karena benar dan taqwa, namun sebagian dari mereka itu telah menjadi pribadi yang liar, anarkis dan brutal. Isi tas mereka kini bukan hanya alat tulis dan buku pelajaran, tapi kini ditambah dengan senjata tajam dengan berbagai bentuk yang mengerikan (cerulit, samurai, dll). Jalanan kini telah menjadi kegiatan ekstrakurikuler yang mengerikan dimana sebagian para senior (alumni) telah menjadi mentor atas kegiatan liar dan mengerikan ini.
Media online sering kali mengabarkan berbagai kejadian mengerikan yang menimpa para pelajar Indonesia baik sebagai korban (dibunuh) maupun sebagai pelaku (pembunuh) keadaan ini sudah berada dibawah batas ambang psikologi kita. Kesal, marah, kecewa yang berujung pada rasa apatis, skeptis dan bahkan prustasi karena sudah merasa tidak menemukan cara atau ujung dari permasalahan ini. Harus darimana, kapan dan siapa yang bertanggungjawab untuk membenahinya? Siapa yang harus disalahkan? Apakah system Pendidikan yang kini sedang dijalankan, sekolahnya, gurunya, keluarganya atau lingkungannya?
Jika kita mengacu kepada teori tri-pusat Pendidikan. Dimana rumah (anggota keluarga), sekolah (pemilik dan guru) dan lingkungan masyarakat (pemimpin dan tokoh masyarakat) seharusnya menjadi ekosistem Pendidikan yang saling terkait atau terintegrasi dalam satu visi dalam menyelenggarakan Pendidikan yang berkualitas. Dari pendekatan teori tri-pusat Pendidikan dimaksud, siapa yang bersalah atas kejadian brutalisme pelajar kita kini? Apakah sekolah sebagai pusat Pendidikan telah dan sedang menyelenggarakan Pendidikan yang memanusiakan manusia? Atau sekolah diselenggarakan khusus untuk menyiapkan manusia manusia untuk mengisi dunia kerja. Sekolah yang berorientasi dunia kerja, biasanya abai terhadap proses Pendidikan yang bisa memberi identitas yang asli dan sejati bagi peserta didiknya hingga peserta didik bisa menjadi manusia seutuhnya. Katidakutuhan inilah yang menyebabkan peserta didik memiliki kekosongan dalam dirinya (jiwanya) yang akhirnya diisi oleh sesuatu yang menyesatkan dan menyengsarakannya.
Apakah rumah dimana orangtua sebagai pendidik pertama dan utama telah memerankan dirinya sesuai dengan fungsinya? Menjadi orang tua (ayah dan ibu) adalah cita cita semua umat manusia, namun sayang, cita cita mulia ini tidak dipotret oleh system Pendidikan kita. Hampir tidak ada pelajaran atau mata kuliah “untuk menjadi orangtua yang ideal” akhirnya, orangtua kini ketika menjadi orangtua hanya belajar dari pengalaman orangtuanya dulu dalam mendidik anak anaknya. Padahal zaman terus bergerak dan berubah yang menutut cara pandang dan sikap yang harus terus terbarukan. Anak anak yang liar dan brutal, biasanya lahir atau berada dalam situasi keluarga yang tidak akrab, kurang dekat dan tidak hangat.
Apakah lingkungan masyarakat dimana anak anak melakukan aktualisasi diri? Disenyalir dalam sebuah survei bahwa watak dan perangai anak anak, 75% dibentuk oleh lingkungan masyarakat selebihnya 25% oleh keluarga dan sekolah. Jika demikian adanya, apakah anak anak yang liar, anarkis dan brutal itu dibentuk oleh atau karena pengaruh kuat lingkungan? Jika demikian, maka elemen elemen penting yang memiliki kuasa atas lingkungan seharusnya bertanggungjawab dalam menciptakan situasi yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya perilaku baik para pelajar.
Dengan demikian, maka tripusat Pendidikan (rumah, sekolah dan masyarakat) harus menjalin sinergi yang integral dan terarah dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi aktualisasi diri para pelajar. Karena, tidak ada pelajar yang nakal, yang ada adalah mereka tidak mendapati ruang aktulisiasi diri yang benar, baik dan tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *