Merdeka dari Merdeka Belajar

Manusia adalah mahluk merdeka untuk memilih dan tidak memilih, untuk istirahat, berhenti atau diam. Tidak ada sebab tanpa akibat, tidak ada pilihan tanpa konsekuensi dan tidak ada kebebasan tanpa tanggungjawab. Manusia adalah mahluk sadar diri, jika ia menghidupkan fakultas berfikirnya. Melalui kegiatan berfikir, setiap orang akan mempertanyakan segala realitas untuk kemudian mencari jawaban yang benar secara mutlak. Jawaban yang akan memberikan keteguhan dan kepastian untuk memilih dan melangkah. Jawaban yang benar adalah jawaban yang diberikan oleh pemilik kebenaran yang akan membuat seseorang sadar akan situai dan kondisi dimana dirinya berada dan akan mengetahui untuk apa, mengapa dan bagaimana ia harus “mengada”. Jawaban itu adalah menjadi sebuah “paradigma” yang dijadikan kaca mata dalam melihat dan memahami realitas. Seperti apa realitas yang dilihatnya, seperti itulah kaca mata yang digunakannya. Melalui paradigma, seseorang bisa melihat realitas secara jelas tergambar hingga kita mengetahui apa yang seharusnya kita pilih. Melalui pilihan itulah kita dituntut tanggungjawab untuk menjaga dan mengembangkannya. Darisinilah kreatifitas dan inovasi akan keluar untuk menjaga, merawat dan mengembangkan pilihan hidupnya.
Apakah merdeka belajar lahir dari sebuah kesadaran mendalam akan situasi pembelajaran yang membelenggu yang membuat peserta didik dan guru tidak berkembang sebagaimana semestinya. Kesadaran itu lahir dari paradigma seperti apa? Paradigma atau kaca mata yang digunakan dibuat dari system nilai yang mana? Apakah system nilai itu lahir dari langit atau keluar dari fenomena kehidupan. Pertanyaan ini penting untuk memastikan kaca mata yang kita gunakan benar yang seharusnya kita kenakan. Jangan sampai kaca mata itu rentan terhadap keruksakan, kesalahan dan kekeliruan. Kita harus memiliki paradigma yang dibuat dari akar prinsif yang tidak akan pernah goyah oleh situasi dan kondisi apapun untuk mengendalikan dan mengarahlan keadaan untuk tetap berada dalam prinsif yang benar, baik dan tepat. Jika paradigma itu lahir dari fenemonologi kehidupan yang rentan terhadap pergerakan dan perubahan, maka kacama mata itu rentan untuk terus dirubah dan diganti. Ini akan membahayakan penyelenggaraan Pendidikan, karena tujuan, jalan dan arah yang ditujunya ada dalam ketidakjelasan dan ketidakpastian.
Jika merdeka belajar yang ditawarkan tidak menyentuh aspek subtantif dari belajar itu sendiri atau merdeka belajar itu hanya membebaskan kita secara artifisial-prosedural (persoalan perubahan adminsitrasi). Maka dapat dipastikan merdeka belajar pun akan kembali mencekik guru melalui bentuk atau jenis administrasi yang baru. Merdeka dari merdela belajar adalah upaya menempatkan pelajar sebagai manusia yang harus memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar sejati (belajar sepanjang hayat). Karena sejatinya belajar itu tidak memiliki batas ruang dan waktu, setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah dan kelas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *