Jaro Ade Sampaikan Hasil Survei Kepuasan Publik Saat Kepemimpinan Bupati Ade Yasin yang Capai 60%, Iwan Lebih Rendah Segini

Cibinong, BogorOnline.com – Tokoh sekaligus Bakal Calon Bupati (Bacabup) Bogor usungsn partai Golkar, Ade Ruhandi alias Jaro Ade menilai, jika kepuasaan masyarakat Bumi Tegar Beriman atas kepemimpinan Ade Yasin mencapai kepuasan hingga 60 persen. Sementara itu, saat tongkat pimpinan Bumi Tegar Beriman diambil alih oleh seorang Iwan Setiawan, mengalami keturunan yang capaiannya hanya di kisaran 48%.

Hal itu disampaikan politisi Golkar tersebut, saat menjadi narasumber di Diskusi Publik yang digelar Jaringan Jurnalis Bogor (JJB), bertempat di Cibinong Situ Plaza, Jl. Tegar Beriman, pada Kamis (11/01/24).

Jaro mengatakan, melihat dan mendengar dari hasil survei internal yang pihaknya lakukan di periode pucuk pimpinan Kabupaten Bogor. Mulai dari eks Bupati Ade Yasin, Plt Bupati Bogor, Iwan Setiawan hingga menjadi Bupati definitif pertanggal 01 September 2023 lalu.

“Kalau saya melihat dari pimpinan kepala daerah Kabupaten Bogor itu dari visi misinya, karena dari visi misi itulah yang menjadi keberlanjutan roda pemerintahan yang dijalankan oleh siapapun. Apakah Bupati, secara otomatis dengan wakil Bupati, yang ditengah perjalanan terjadi pergantian yang diisi oleh pelaksana tugas (Plt) Bupati dan beberapa bulan kemudian menjadi Bupati definitif hingga kini dilanjutkan oleh penjabat (Pj) Bupati Bogor,” kata Jaro Ade, dilokasi acara diskusi publik, Kamis (11/1/24).

Menurutnya, seorang pimpinan daerah itu akan melekat terus dengan visi misinya saat mencalonkan diri saat pilkada Karena visi misi, baginya itu lah yang akan di ingat secara terus menerus oleh para birokrat maupun masyarakatnya di wilayah.

Selain itu juga, visi misi yang dilanjutkan dengan kesesuaian regulasi aturan. Maka penting sekali, yang namanya visi misi calon kepala daerah itu dapat diskusikan dengan birokrat, pengusaha, dan pakar akademisi.

“Termasuk juga dengan teman-teman media dan, para aktivis. Karena kalau media dan aktivis yang sering jalan-jalan itu akan merekam langsung situasi dan kondisi di bawah (wilayah perkampungan) melihat kondisi mulai dari segi infrastruktur, kesehatan, pendidikan hingga pembangun akan terekam langsung. Malah dalam kesempatan di Diskusi ini, Pj Bupati Bogor dan anggota DPRD harusnya bisa hadir dalam membahas dalam perkembangan pembangunan di Kabupaten Bogor ini secara bersama dengan mitra strategis yakni teman-teman wartawan dari JJB,” paparnya disambut dengan tepuk tangan oleh para tamu undangan yang hadir.

Politisi Golkar itu juga menjabarkan, dari data survei internal yang dilakukan tim nya itu, dimana dalam kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah Kabupaten Bogor, mulai dari Eks Bupati Bogor Ade Yasin mencapai presentasi 60%. Sementara, survei di kepemimpinan seorang Iwan Setiawan kepuasan publik atau masyarakat Kabupaten Bogor, lebih rendah dari politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

“Ini fakta loh ya, kita harus objektif by data. Kalau kepuasan publik terhadap kinerja saat kepemimpinan Iwan Setiawan hanya di angka 48%, dan nanti saya juga akan melakukan survei kepuasan publik untuk Pj Bupati Bogor Asmawa Tosepu. Penilaiannya, dari sisi apa gebrakan Pj Bupati dalam melakukan inovasi serta mengimplementasikan dari sebuah program yang diputuskan oleh DPRD melalui persetujuan dalam rapat paripurna secara bersama-sama pada akhir 2023 kemarin,” jelas Jaro.

Masih ditempat sama, Dosen Program Studi Sains Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Djuanda, Dr. Desi Hasbiyah yang hadir dalam diskusi itu juga menyampaikan, bahwa di dalam sebuah program itu sebuah penilaian evaluasi pertama-tama harus menyingkirkan secara subjektivisme yang tinggi.

Kepuasan itu kan dilihatnya bisa terlihat dari banyak sisi, apakah kepuasan itu hanya pribadi, golongan, atau kah kepuasan secara umum karena itu berbeda.

Maka, jika seorang Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda kabupaten Bogor yakni Suryanto Putra mengatakan bahwa ada nilai yang sudah dievaluasi jajarannya itu ternyata tercapai.

“Jadi kalau tercapai, memang ada standarisasi disitu, jadi jika tercapai standarnya dia sudah bisa dilakukan. Dan kalau kita kembali kepada kepuasan, kan beda ni kepuasannya, apakah kepuasan ini sebuah keinginan atau kah kebutuhan. Serta juga, bila kita melihat secara evaluatif bahwa ini adalah sebuah kepuasan objektif, maka standarisasi itu lah yang kemudian bisa dipakai sebagai evaluasi bahwa itu berhasil atau tidak berhasil,” terang Desi.

Tapi kalau ingin sesuai dengan harapan, lanjut Desi, dari masyarakat secara seutuhnya itu bisa dikatakan bahwa diatas pencapaian ada yang namanya melampaui. Menurut dia, melampaui ini lah yang kemudian bisa dijadikan acuan apakah harus mengalami perubahan, peningkatan, dan sebagainya.

“Tadi yang dikatakan, apakah perubahan-perubahan yang kemudian punya dampaknya seperti apa untuk kehidupan kedepan terhadap masyarakat. Yang pastinya kan, kalau masyarakat gini, kalau dibuat senang kalau dibuat bahagia, kalau dibuat nyaman yah asik saja. Kadang-kadang juga masyarakat kurang peduli, pokoknya yang penting asal gue senang, keluarga gue senang dia gak peduli apakah pemerintah melakukan itu dengan banting tulang ibaratnya kaki dikepala, kepala dikaki, nggak bisa begitu juga loh sebetulnya,” tutur dia.

Desi mengajak, apakah dari program dan fasilitas yang diberikan pemerintah kepada masyarakatnya dibutuhkan atau bukan, jadi program apapun harus tetap tepat sasarannya. Jadi kalau tidak tepat sasarannya, maka akan terus ada hal-hal yang memicu sebuah polemik baru.

“Jadi kita harus lihat dulu, betul tidak, ini tepat tidak sasarannya. Supaya tadi, standarisasi pemerintah untuk ketercapaian itu sesuai, kalau tidak sesuai tetapi itu memang sebuah kebutuhan kan bisa di naikkan lagi tuh standar nya supaya bisa ada kalimat atau kata melampaui diatas kata-kata ketercapaian,” ungkap Desi.

“Tetapi balik lagi, saya si lebih konsen terkait pembangunan jiwa raga itu yang harusnya seimbang dan seiring sejalan. Jadi kalau kita konsen kaya cuma di sesuatu yang bisa dirasakan secara fisik kemudian bisa dilihat secara kasat mata, itu mungkin bisa lebih mudah ya tapi juga jangan lupa bahwa ini ada jiwa-jiwa yang harus bisa memaknai itu loch, jalan yang lebar, pembangunan fasilitas. Tapi ingat, itu visi yang bisa dirasakan secara kasat mata, tapi ada makna dibalik itu,” lanjutnya menutupi.

Diketahui sebelumnya, Jaringan Jurnalis Bogor (JJB) menggelar diskusi publik perdananya, yang dilaksanakan di halaman Cibinong Situ Plaza, Kabupaten Bogor, pada Kamis 11 Januari 2024.

Dalam acara itu, dihadiri oleh Tokoh Masyarakat Kabupaten Bogor yang sekaligus Calon Bupati (Cabup) Bogor usungan Partai Golkar, Ade Ruhandi alias Jaro Ade, Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Ekbang) Setda Kabupaten Bogor, Suryanto Putra, Staf Ahli Ekbang Setda, Deni Humaedi, Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Bogor, Shinta Dec Checawati, Dosen Program Studi Sains Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Djuanda, Dr. Desi Hasbiyah, kalangan aktivis mahasiswa Rumpin, ketua PWI Kabupaten Bogor, Subagiyo, ketua DPD KNPI Kabupaten Bogor hasil Musdalub lalu, yakni Wahyu Chaniago, dan tamu undangan yang dipandu langsung oleh Nurcholis Fardilah selaku Host sekaligus moderator Diskusi Publik tersebut.

ARTIKEL REKOMENDASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *