Oleh: Abah Yayat
Indeks Daya Saing Global menyatakan Indonesia berada di peringkat ke-50, sementara negara tetangga kita Malaysia dan Thailan berada diposisi ke-27 dan ke-40. Yang lebih mengagetkan Singapura berada diperingkat pertama. Kemudian dalam hal inovasi, menurut Indeks Inovasi Global, Indonesia berada diperingkat 85 dari 131 negara berada jauh dari negara tetangga.
Apakah kenyataan diatas disebabkan oleh IQ kita yang berada di peringkat ke-129 dengan skor IQ sebesar 78,49. Skor ini memberitahu kita, bahwa IQ kita belum bisa disebut pintar atau cerdas, dengan kata lain, melalui penilaian itu kita masih dikatagorikan bangsa yang bodoh atau dungu. Kalau kata Rocky Gerung, IQ kita masih diatas Simpanse sedikit!
Kita, kini dan disini berada dalam dua suasana psikologis yang berbeda dan bangkan bersitegang, antara harapan akan Indonesia Emas pada tahun 2045 dengan keresahan akan Indonesia Cemas 2045. Kita memiliki dua potensi besar untuk menjadi Negara maju atau menjadi Indonesia Emas di tahun 2045. Pertama, kita akan diangurahi bonus demografi. Beberapa tahun ke depan, tepatnya pada tahun 2030 hingga 2040 mendatang. Bonus demografi yang dimaksud adalah masa di mana penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar dibanding usia non produktif (65 tahun ke atas) dengan proporsi lebih dari 60% dari total jumlah penduduk Indonesia. Kedua, Sumber Daya Alam yang melimpah ruah. Keberadaan sumber daya alam akan sangat tergantung dari sumber daya manusia yang akan mengelolanya. Bisakah IQ yang sebesar 78,49 mengolala sumber daya alam, hingga bisa menjadi negara kuat dan besar hingga bisa bersaing dengan negara lain!?
Ada apa dengan kita? Siapa yang bertanggungjawab atas kebodohan ini? harus darimana kita memulai perubahan ini? Kementerian pendidikan yang mengurus otak kita telah gagal, kementrian agama yang megurus hati kita pun gagal, kementrian ekonomi yang mengurus perut kita gagal pula. Kita sepakat mengangkat mereka menjadi pemimpin buat ngurus otak, hati dan perut kita? Lantas kepada siapa lagi kita harus menyerahkan urusan kita?





