Terumbu Karang yang Sehat: Fondasi Kesejahteraan dan Ketahanan Pesisir

Headline897 views

BOGORONLINE.com – Guru Besar IPB University, Prof. Dr. Neviaty P Zamani M.Sc mengatakan, terumbu karang Indonesia ibarat “si cantik yang tidak menyadari dirinya cantik”. Demikian hal itu disampaikannya saat pra orasi ilmiah yang digelar secara virtual pada Kamis kemarin.

Profesor Neviaty menyampaikan, sebagai negara kepulauan (archipelagic Country) dengan 17.500 pulau yang sebagian besar dikelilingi terumbu karang, Indonesia adalah untaian mutiara tropis di khatulistiwa. Keindahan terumbu karang yang ada tak tertandingi di dunia, namun sayangnya, seringkali tidak menyadari betapa berharganya aset ini.

Ia mengatakan, terumbu karang tidak hanya mendukung kehidupan biota laut, tetapi juga penting untuk kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Pulau-pulau kecil dengan terumbu karang yang sehat akan menjadi habitat untuk pemijahan, pembesaran, dan mencari makan bagi berbagai biota laut yang penting baik secara ekologis maupun ekonomis. Berbagai jenis biota laut yang menjadi produk perikanan komersial menggunakan kawasan terumbu karang sebagai tempat pemijahan dan pembesaran sebelum migrasi ke laut lepas dan ditangkap nelayan.

“Dengan hampir 60 persen penduduk Indonesia tinggal di kawasan pesisir, kesehatan terumbu karang menjadi sangat penting dalam mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir untuk “mandiri dan tangguh,” katanya dikutip Jumat (5/7/2024).

Profesor Neviaty mengimbuhkan, rusaknya ekosistem terumbu karang dapat merusak sektor perikanan, dan rusaknya sektor perikanan akan melemahkan kehidupan para nelayan, yang jadi garda depan pertahanan negara kepulauan.

Dirinya sangat menyayangkan terumbu karang yang melindungi pulau-pulau kecil dan besar di negara kepulauan Indonesia tercinta, berada pada kondisi yang cukup memprihatinkan. Kualitas terumbu karang terus mengalami penurunan baik luasan maupun kualitas.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, saat ini berada di bawah BRIN, melaporkan pada tahun 2020, hanya 6,56 persen terumbu karang dalam kondisi sangat baik, sementara 35,42 persen dalam kondisi buruk.

“Keindahan terumbu karang sebenarnya dapat dinikmati tanpa merusaknya,” ujarnya.

Menurutnya, pariwisata berkelanjutan merupakan salah satu kunci untuk menjaga kesehatan terumbu karang. Wisatawan dapat menikmati snorkeling, diving, dan fotografi bawah air tanpa merusak ekosistem yang unik dan indah ini.

Turis mancanegara juga berani membayar mahal perjalanan mereka hanya sekedar untuk dapat menikmati keindahan panorama bawah air ini. Namun, kata Profesor Neviaty, peluang ini tidak terkelola dengan baik.

“Sayangnya kita tidak mengelola dengan baik peluang ini, sehingga, seringkali terumbu karang yang indah, dinilai sangat murah, tidak selayaknya barang yang sangat berharga,” katanya.

“Dengan mempromosikan pariwisata yang ramah lingkungan dan pengelolaan yang tepat, kita dapat melindungi keindahan alam sekaligus menciptakan sumber pendapatan yang signifikan bagi negara dan masyarakat lokal,” imbuhnya.

Menurut Profesor Neviaty, ancaman terhadap terumbu karang sangat kompleks. Tekanan dari fenomena alam seperti badai dan tsunami bisa menjadi berkah karena membantu memulihkan keanekaragaman karang.

Beberapa penyebab utama kerusakan terumbu karang akibat aktivitas manusia antara lain reklamasi lahan, alih funsi lahan, penangkapan ikan yang destruktif, overfishing, pencemaran laut, pembangunan pesisir yang tidak berkelanjutan, serta marine debris, dan mikroplastik.

Penggunaan bahan peledak dan racun untuk menangkap ikan merusak struktur terumbu karang dan membutuhkan waktu lama untuk pulih. Limbah industri dan rumah tangga yang tidak diolah dengan baik menyebabkan eutrofikasi dan merusak keseimbangan ekosistem laut. Sampah laut seperti plastik juga mengotori terumbu karang dan mengganggu kehidupan biota laut.

“Hal ini diperparah dengan adanya perubahan iklim global yang mengakibatkan peningkatan suhu, naiknya muka air laut dan pengasaman laut. Semua tekanan ini saling bersinergi yang mengakibatkan karang stress dan rusak. Terumbu karang yang seharusnya bisa menjadi sumber devisa negara, malah menjadi beban negara untuk memulihkan kesehatannya,” katanya.

Ia mengatakan, penanganan kesehatan yang tidak tepat dan efisien akan memakan biaya yang besar dengan prospek pemulihan yang tidak pasti. Akibatnya banyak investasi restorasi dan rehabilitasi ini berakhir dengan kerusakan yang lebih parah.

Menurutnya, dampak kerusakan yang timbul tidak hanya berupa kerusakan fisik, tetapi juga menurunkan daya tahan karang terhadap penyakit. Penyakit karang, seperti White Band Disease dan Black Band Disease menyebar dan merusak jaringan karang, serta dapat menyebabkan kematian karang dalam skala besar.

Adapun tekanan yang tidak langsung dan bersifat global, seperti perubahan iklim yang mengakibatkan naiknya suhu permukaan laut, mencairnya es di kutub yang mengakibatkan naiknya muka laut, serta hujan asam, dapat membunuh karang secara masal pada skala global.

Profesor Neviaty menyampaikan tercatat beberapa periode 1983, 1085, 1987, 1991 dst terjadi fenomena coral bleaching hampir diseluruh belahan bumi yang ada terumbu karang. Penyebab utamanya adalah peningkatan suhu, karena karang sangat sensitif terhadap perubahan suhu.

“Suhu meningkat 1oC diatas suhu rata-rata musim panas, dapat mengakibatkan karang bleaching dan kadangkala berakhir dengan kematian,” katanya.

Oleh karena itu, kata Profesor Neviaty, diperlukan strategi rehabilitasi dan restorasi yang tepat untuk memulihkan resiliensi dan kondisi kesehatan karang. Ia mengatakan, IPB telah mengembangkan berbagai metode rehabilitasi, seperti transplantasi karang dan biorock.

Metode biorock, sambungnya, meskipun ramah lingkungan, menghadapi tantangan dalam mendapatkan anoda titanium. Sebagai alternatif, campuran karbon dan semen portal telah diuji dan menunjukkan hasil yang baik tanpa merusak biota laut.

“Dalam orasi saya akan membahas kesehatan dan resiliensi ekosistem terumbu karang, serta strategi rehabilitasi dan restorasinya. Lebih lanjut dalam orasi ini, juga akan mengulas kebijakan pemulihan terumbu karang dan prospek masa depannya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan ini, dirinya mengajak semua pihak untuk menjaga keindahan terumbu karang Indonesia, aset berharga yang harus dilestarikan untuk masa depan yang lebih cerah.

“Dengan upaya bersama, kita dapat memastikan terumbu karang tetap mempesona dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat pesisir khususnya dan Indonesia,” tandas Guru Besar Departemen Ilmu dan teknologi Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University itu. (*)

ARTIKEL REKOMENDASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *