Oleh: Riri Wulandari*), Dian Karolin Nipu*), Wilujeng Ninda Latifah*), Medi Hidayat*), Devi Nurika Sari*), Silvia Marshanda*), Febry Aryawan*), Ridwan Apriansyah*), dan Suharno**)
*) Mahasiswa Program Magister Sains Agribisnis, IPB
**) Dosen Program Magister Sains Agribisnis, IPB University
Lembang – Di tengah tantangan industri peternakan sapi perah nasional, Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang terus menunjukkan eksistensinya sebagai contoh sukses koperasi berbasis anggota. Berawal dari keresahan para peternak terhadap dominasi kolektor susu di wilayah Lembang, KPSBU didirikan pada 1971 dengan semangat gotong royong oleh 35 peternak perintis.
Berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, wilayah Lembang memiliki kondisi geografis yang ideal untuk pengembangan sapi perah. Wilayah kerja mencakup Bandung Utara dan Subang Selatan, KPSBU saat ini menjadi salah satu koperasi susu primer paling maju di Indonesia.
Dalam kunjungan akademik mahasiswa Magister Sains Agribisnis IPB University melalui program National Agribusiness Fieldtrip (NAFT) 2025, peserta mendapatkan banyak wawasan langsung dari aktivitas KPSBU, mulai dari proses produksi pakan, manajemen susu, hingga strategi pemberdayaan peternak.

Rangkaian tour dimulai dengan kunjungan ke fasilitas produksi pakan ternak, salah satu unit usaha vital yang menopang produktivitas sapi perah. Mahasiswa menyaksikan langsung bagaimana bahan-bahan seperti dedak, jagung giling, dan bungkil kedelai diformulasikan menggunakan mesin pencampur otomatis, disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi sesuai fase laktasi dan umur sapi. Pakan yang telah dikemas kemudian disimpan di gudang jadi atau dikirim melalui sistem distribusi terjadwal ke peternak anggota.
Selanjutnya, rombongan diajak ke area truk tangki pengangkut susu, yang menjadi tulang punggung rantai pasok harian KPSBU. Truk tangki ini bertugas menjemput susu segar dari peternak dan membawanya ke pusat koperasi untuk proses pengolahan lebih lanjut. Mahasiswa diberikan penjelasan teknis tentang prosedur pengambilan, pengujian kualitas awal, dan sistem kebersihan tangki demi menjamin kualitas susu tetap terjaga sejak dari kandang.
Meski area pengolahan susu tidak bisa dimasuki karena alasan sterilisasi, penjelasan mendalam dari manajer operasional KPSBU memberi gambaran jelas mengenai standar mutu dan protokol higienitas yang diberlakukan.

Saat sesi diskusi, pihak KPSBU menjelaskan bahwa saat ini mereka memfokuskan diri pada penguatan dua produk utama: susu pasteurisasi dan yogurt. Meski produk turunan lain belum dikembangkan secara luas, kualitas yogurt KPSBU memiliki keunikan tersendiri karena penggunaan starter impor yang memberikan rasa khas.
Dalam menghadapi serbuan susu impor berbentuk skim milk powder, KPSBU memanfaatkan keunggulan susu segar lokal sebagai bahan campuran yang tidak tergantikan.
“Selama industri masih butuh susu murni untuk menyeimbangkan rasa, kami masih memiliki ruang untuk bertahan,” ujar Ramdan Sobahi selaku Sekretaris Pengurus KPSBU.
Selain fokus pada produk, KPSBU juga aktif dalam edukasi pengelolaan limbah peternakan dengan mendorong peternak membuat pupuk kompos. Namun, mereka mengakui bahwa tantangan utama adalah pemasaran pupuk yang belum optimal, meski sudah mendapat perhatian dari pemerintah pusat.
KPSBU juga dikenal akan sistem kontrol kualitas susu yang ketat, dengan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan pengawasan residu antibiotik. Untuk pemberdayaan, koperasi ini tidak hanya menyediakan pakan berkualitas dan pelayanan kesehatan hewan, tetapi juga membangun sistem komunikasi yang erat dengan peternak.
Salah satu inovasi penting dari KPSBU adalah digitalisasi manajemen internal melalui sistem informasi berbasis Microsoft Access dan jaringan lokal. Untuk pelayanan anggota, mereka telah mengembangkan aplikasi mobile yang memungkinkan peternak mengecek pendapatan, mengajukan simpanan, hingga memesan kebutuhan harian secara mandiri.
Tidak hanya itu, KPSBU juga menggunakan platform SISI (Sistem Informasi Sapiperah Indonesia) berbasis BOT Telegram untuk monitoring inseminasi buatan dan layanan kesehatan hewan secara real-time, menjadikannya koperasi yang adaptif terhadap era digital.
KPSBU masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk keterbatasan distribusi produk yang saat ini hanya tersedia di satu outlet di Lembang. Namun, strategi bergabung dalam Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) menjadi keunggulan kompetitif tersendiri dalam rantai distribusi nasional.
Dari kunjungan ini, mahasiswa Magister Sains Agribisnis IPB University belajar bahwa keberhasilan koperasi tidak hanya diukur dari besarnya omset, tetapi juga dari keberhasilan memberdayakan anggotanya secara berkelanjutan. KPSBU telah membuktikan bahwa dengan semangat kolektivitas, sistem manajemen yang baik, dan adaptasi teknologi, koperasi dapat menjadi solusi riil bagi peternak kecil di Indonesia.





