BogorOnline.com – NASIONAL
Di tengah ketimpangan pendidikan era kolonial, muncul satu terobosan radikal yang digagas oleh Sutan Ibrahim alias Tan Malaka: Sekolah Rakyat. Sekolah ini tidak hanya menjadi tempat belajar, tapi juga simbol perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial Hindia Belanda yang elitis dan diskriminatif.

Didirikan pada 21 Juni 1921 di Semarang, Sekolah Rakyat adalah hasil kolaborasi antara Tan Malaka dengan tokoh Sarekat Islam seperti HOS Tjokroaminoto, Semaun, dan Darsono. Pendidikan dipandang bukan sekadar transmisi ilmu, melainkan alat untuk membebaskan rakyat dari penindasan struktural.
“Pendidikan bukan alat penjinakan, tetapi alat pembebasan.”
— Tan Malaka
Pendidikan di Tengah Penjajahan
Pada masa itu, hanya 6% anak-anak pribumi yang bisa mengakses pendidikan formal. Sementara sekolah seperti HIS dan HBS dikhususkan bagi anak bangsawan dan keturunan Eropa. Sekolah Rakyat hadir untuk menantang dominasi tersebut.
Gagasan Progresif Tan Malaka
Sekolah Rakyat menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar—langkah yang mengejutkan karena biasanya hanya diajarkan kepada elite. Kurikulumnya mencakup berhitung, bahasa, ilmu bumi, sejarah perjuangan rakyat, dan kesadaran politik.
Tan Malaka mengembangkan sistem pendidikan yang:
Gratis dan terbuka untuk rakyat miskin
Mengintegrasikan kesadaran kelas dan sejarah lokal
Mendorong partisipasi aktif guru dan murid
Berfungsi sebagai alat perjuangan dan revolusi sosial
Dari Semarang ke Minangkabau
Setelah dideportasi oleh pemerintah kolonial karena aktivitas “subversif”, Tan Malaka tetap menyebarkan gagasan pendidikannya. Di tahun 1940-an, ia mendirikan kembali Sekolah Rakyat di Payakumbuh, Rao, dan Lintau, Sumatera Barat. Ia melatih guru dan memperluas jejaring pendidikan alternatif ini hingga ke Bandung.
Ciri Unik Sekolah Rakyat Tan Malaka
Anti-kolonial dan anti-elitis
Mengusung kurikulum tandingan dengan nilai-nilai kerakyatan
Menekankan kesadaran politik dan ekonomi
Mengedepankan kebersamaan guru-murid dalam proses belajar
Refleksi untuk Pendidikan Hari Ini
Dalam era liberalisasi pendidikan dan komersialisasi ilmu, model Sekolah Rakyat Tan Malaka kembali relevan. Ia menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya adalah alat perubahan sosial, bukan sekadar pengisi ijazah.
Menghidupkan kembali semangat Sekolah Rakyat berarti membangun pendidikan nasional yang:
Demokratis
Kritis
Emansipatoris
Catatan Redaksi:
Artikel ini merupakan adaptasi dari tulisan di Kompasiana oleh Rahardian76.
Sumber lengkap: Kompasiana – Sekolah Rakyat Tan Malaka





