Waspadai Sjogren’s Syndrome, Penyakit Autoimun yang Bisa Sebabkan Kanker Limfoma

BOGORONLINE.com Dokter dari IPB University, dr Eka Nugraha, MSi, Med, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai Sjogren’s Syndrome, sebuah penyakit autoimun yang menyerang kelenjar penghasil cairan tubuh seperti air mata dan air liur. Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini berpotensi merusak berbagai organ vital dan meningkatkan risiko kanker limfoma.

Sjogren’s Syndrome adalah penyakit autoimun yang menyerang kelenjar eksokrin, terutama kelenjar air mata dan air liur,” jelas dr Eka dalam program IPB Podcast: Kenali Bahaya Sjogren’s Syndrome yang tayang di kanal YouTube IPB TV.

Menurutnya, penderita Sjogren’s Syndrome umumnya mengalami gangguan produksi air mata dan air liur yang menyebabkan mata serta mulut terasa kering. Gejala lain yang sering muncul antara lain mata gatal, infeksi mulut, bau mulut, hingga sariawan.

Penyakit ini lebih banyak menyerang perempuan dengan perbandingan 9:1 dibanding laki-laki, khususnya pada usia 44–55 tahun. Ini sangat memengaruhi kualitas hidup pasien,” tambah dosen Fakultas Kedokteran IPB University yang juga pakar biologi sel dan molekuler itu.

dr Eka menekankan bahwa Sjogren’s Syndrome tidak hanya terbatas pada gangguan kelenjar air mata dan air liur. Penyakit ini juga dapat menyerang organ lain seperti kulit, sendi, otot, saluran cerna, paru-paru, bahkan organ reproduksi wanita.

Yang paling berbahaya adalah saat penyakit ini menyerang sistem darah atau hematologi. Pada kondisi tersebut, risiko berkembang menjadi limfoma atau kanker kelenjar getah bening meningkat, terutama pada pasien laki-laki,” ungkapnya.

Menurut dr Eka, penyebab Sjogren’s Syndrome berasal dari kombinasi faktor genetik, seperti riwayat keluarga dengan penyakit autoimun dan faktor Human Leukocyte Antigen (HLA), serta faktor lingkungan seperti infeksi berulang dan kebiasaan merokok.

Penanganan penyakit ini membutuhkan pendekatan multidisiplin,” jelasnya. Koordinasi perawatan melibatkan dokter umum, dokter penyakit dalam, atau konsultan alergi imunologi dan rematologi. Dokter mata juga dibutuhkan untuk menangani keluhan pada mata kering, sedangkan dokter spesialis lain menangani organ yang terdampak.

Untuk kondisi akut, pasien biasanya diberikan obat antiradang seperti steroid atau non-steroid. Sementara itu, terapi jangka panjang menggunakan obat Hydroxychloroquine dan sparing agent. Pada kasus berat, terapi antibodi monoklonal dapat digunakan, meskipun biayanya cukup tinggi.

Selain pengobatan medis, dr Eka menekankan pentingnya perubahan gaya hidup bagi pasien Sjogren’s Syndrome. Ia menyarankan untuk berhenti merokok, mengonsumsi makanan tinggi omega 3 seperti telur, daging, dan kacang-kacangan, menjaga kebersihan gigi dan mulut, serta mengatur waktu istirahat mata dari paparan layar.

Tuhan pasti punya alasan mengapa seseorang mengalami Sjogren’s Syndrome. Karena pengobatannya jangka panjang, maka dibutuhkan kesabaran dan penerimaan,” ujarnya.

Ia berharap, dengan pengobatan yang tepat dan dukungan mental yang kuat, pasien bisa mencapai remisi atau terbebas dari gejala dalam jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *