Bangsa yang Bebal

beranda, Headline180 views

Oleh: Abah Yayat

Bangsa ini tampak kehilangan jati dirinya. Ketidakmampuan untuk mendengar dan memahami keadaan menyebabkan bangsa tidak lagi mampu merespons persoalan yang dihadapinya. Ketiadaan arah yang jelas dan pasti telah membawa bangsa ini pada kondisi salah urus dan salah jalan. Padahal, bangsa ini memiliki potensi untuk memahami, mengubah, dan memperbaiki keadaan. Namun, potensi tersebut justru hilang atau bahkan diarahkan pada jalan yang keliru, hingga arah perjalanan bangsa semakin sulit dipahami, bahkan oleh imajinasi yang paling luas sekalipun.
Pertanyaan “Quo Vadis?” (mau ke mana) menjadi relevan untuk diajukan. Bangsa ini memang sedang bergerak, tetapi masalahnya adalah ke mana langkah itu menuju dan di mana posisi bangsa saat ini. Visi atau ideologi seharusnya menjadi penentu arah dan pengarah tindakan. Ketika visi atau ideologi itu tidak hadir, maka konsekuensinya bangsa ini akan mudah diarahkan dan dikendalikan oleh kekuatan eksternal. Dalam situasi demikian, harga diri bangsa akan jatuh, bahkan terhina.
Kekuatan untuk mendengar terletak pada aspek rasionalitas, yaitu kemampuan manusia untuk membandingkan, menimbang, dan mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Potensi ini sesungguhnya dimiliki bangsa, tetapi kini tersumbat oleh kebodohan, atau bahkan dengan sengaja disumbat oleh kekuatan lain yang tidak menginginkan bangsa ini maju dan mampu bersaing. Pendengaran pemimpin tersumbat oleh kepentingan pribadi, sementara pendengaran rakyat tersumbat oleh ketidaktahuan. Dua kondisi ini mengakibatkan bangsa tidak bergerak ke mana-mana, melainkan diam di tempat yang berpotensi membusuk dengan sendirinya.
Berbagai anjuran moral telah disampaikan dengan beragam cara, mulai dari yang lembut hingga lantang, tetapi tidak mampu menembus telinga pemimpin maupun rakyat yang tertutup. Jika orang-orang waras yang masih memiliki kemampuan mendengar memilih diam, sejatinya mereka tengah menyerahkan bangsa ini untuk dikendalikan oleh mereka yang tuli: baik pemimpinnya maupun rakyatnya. Situasi ini mencerminkan kondisi kebisuan kolektif yang akut dan memerlukan “operasi besar” untuk mengeluarkan sumbatannya.
Bangsa ini perlu memasuki “rumah sakit perubahan”. Pertanyaan mendasar adalah, rekayasa sosial seperti apa yang mampu membawa bangsa keluar dari keterpurukan. Reformasi yang pernah dijalankan terbukti gagal mengangkat bangsa dari kehinaan; sebaliknya, kehinaan dan keterpurukan semakin meluas hingga mendekati batas psikologis masyarakat yang waras. Apatisme, skeptisisme, dan frustrasi kini menghantui kelompok yang masih berpikir sehat. Jika kondisi ini dibiarkan, perubahan akan meledak, dengan arah yang tidak pasti—bisa negatif atau positif—bergantung pada kesadaran yang mendorongnya.
Karena itu, orang-orang waras perlu mengambil jeda: berhenti, menepi, dan melakukan refleksi mendalam. Dari refleksi itulah alat dan cara yang tepat untuk merubah keadaan dapat ditemukan. Semakin luas dan dalam refleksi dilakukan, semakin besar kemungkinan ditemukan jalan perubahan yang benar, baik, dan tepat demi menyelamatkan bangsa dari krisis jati diri.


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *