Ketika Pendidikan Jadi Pertunjukan, Siapa yang Menjaga Guru?

 

Oleh: A. Rahman

 

Pada era ketika kesalahan guru bisa menjadi viral, kami bertanya: Masihkan kami boleh belajar?

***

Kalimat tanya itu mungkin menjadi kerisauan banyak guru di Indonesia saat ini. Masa ketika “perseteruan” antara guru dengan murid beserta orang tua semakin sering terlihat di media massa. Masa ketika guru menjadi “samsak hidup” bagi publik. Masa ketika profesi guru menjadi hanya sebagai petugas layanan pendidikan, bukan mitra dalam perjalanan setiap anak menuju tujuan hidupnya.

Pada dunia yang semakin terkomersialisasi, pendidikan tidak lagi semata-mata dipandang sebagai rumah belajar. Ia berubah menjadi tempat pelayanan, lengkap dengan brosur menarik, penjenamaan indah, serta janji mutu yang meyakinkan. Sekolah bukan lagi tempat perjumpaan manusia, tapi panggung pertunjukan yang harus selalu tampil rapi, bersih, efektif, prima, dan memuaskan konsumen. Pada titik ini lah posisi guru menjadi semakin rentan. Ia dituntut, tanpa kesempatan untuk dituntun. Ia harus sempurna, tanpa memiliki kesempatan membuat salah.

Dalam teori dramaturgi sosial Erving Goffman, kehidupan adalah panggung. Setiap orang memainkan peran di front stage – ruang publik tempat ia tampil sesuai ekspektasi. Di sisi lain, ada back stage – ruang pribadi tempat ia mengungkapkan rasa lelah, jujur, salah, dan menjadi dirinya sebagaimana adanya. Keseimbangan hidup sangat memerlukan keduanya.

Tapi pada sistem pendidikan masa kini, setiap guru dituntut untuk terus di front stage. Guru harus berperan sebagai pendidik, fasilitator, mediator, kolaborator, psikolog, ahli IT, dan memilki semua kecakapan. Guru juga dituntut sempurna, dengan harus menjadi sabar, bijak, dan inspiratif. Belum lagi beban adminsitrasi yang menumpuk. Guru kini ibarat seorang aktor yang harus selalu tampil sempurna, 24 jam tanpa cacat dan cela.

Bersama tuntutan front stage yang semakin menguat, sayangnya ruang back stage bagi guru semakin menyempit. Guru tak lagi punya ruang untuk mengeluh, rehat, lelah, ragu, hingga kesempatan untuk melakukan salah. Guru kini harus selalu menjadi frontliner yang menjaga kepuasan pelanggan. Sedikit saja kesalahan, reputasi yang dibangun bertahun-tahun harus hancur dalam sehari. Tanpa ada naskah pembelaan, atau waktu untuk menjelaskan. Komunikasi yang harusnya berupa kolaboratif kini menjadi semakin transaksional: orang tua sebagai “klien” dan guru sebagai “pelayan”.

Hilangnya ruang back stage, tidak hanya merugikan guru, tapi juga merugikan semua pihak. Guru yang tak memiliki ruang pulih; akan stres, burnout, dan depresi ringan. Guru yang takut salah, akan kehilangan kreatifitas, kaku dan lebih defensif. Murid pun tumbuh dalam iklim pendidikan yang dingin, tanpa kehangatan sebuah hubungan manusia.

Maka, jika kita ingin pendidikan yang kembali sehat, kita harus mengembalikan pendidikan pada ruhnya. Pendidikan bukan panggung tempat jual beli. Ia adalah panggung kisah, tempat proses panjang berjalan dengan perjuangan, kesalahan, dan keberanian. Panggung tempat semua orang belajar dari siapapun dan apapun. Jika guru dituntut harus tampil sempurna tanpa ruang untuk pulih, maka yang kita hasilkan bukan generasi pembelajar, tapi generasi tontonan – yang hanya menilai tanpa berusaha memahami.

Kini saatnya kita kembalikan marwah pendidikan. Mari sebagai masyarakat, orang tua, dan murid, kita belajar memahami guru sebagai manusia. Guru tak pernah minta untuk dipuja, mereka hanya meminta untuk dimengerti. Bahwa dalam setiap keras sikapnya, ada cinta. Bahwa dalam setiap salahnya, ada niat untuk memperbaiki. Dan bahwa dalam setiap lelahnya, selalu terselip harapan dan doa agar setiap anak didiknya kelak menjadi pribadi yang hebat dan mulia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *