bogorOnline.com-CIBINONG
Di tengah keramaian acara Bupati Bogor, saat orang-orang sibuk mencari tempat duduk terbaik dan menikmati jalannya kegiatan, ada seorang bocah kecil berjalan pelan sambil membawa gulungan alas duduk.
Tubuhnya kecil, wajahnya polos, dan suaranya nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk, namanya Shakel Radiansyah Bana, usianya sembilan tahun.
Ia duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, hari itu seperti pada acara-acara sebelumnya, Shakel datang sendirian tanpa orang tua, tanpa pendamping.
Keramaian bukan hal baru baginya. Ia sudah hafal ritme setiap acara Bupati Bogor, kapan pengunjung datang, kapan mulai duduk, dan kapan alas-alas itu dikembalikan.
“Disewakan, lima ribuan,” ujarnya.
Shakel bukan berjualan untuk membeli mainan atau sekadar jajan, lima ribu rupiah yang ia terima dari satu alas duduk memiliki tujuan yang jauh lebih besar dari usianya. “Buat nabung, buat beli susu adek,” ucapnya singkat.
Di rumahnya yang berada di sekitar Cibinong City Mall, Shakel (9) adalah seorang kakak yang memiliki dua adik, satu masih bayi, satu lagi belum mengenyam bangku sekolah.
Ayahnya dulu bekerja sebagai petugas keamanan, namun kini berjualan air mineral sebagai pedagang asongan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Sementara itu, ibunya memilih tetap di rumah untuk menjaga bayi yang belum bisa ditinggal, ketika acara belum usai dan sebagian pengunjung mulai beranjak pulang, Shakel belum beranjak.
Ia menunggu hingga kegiatan benar-benar selesai, satu per satu alas duduk dikumpulkannya kembali, tak ada raut lelah, tak ada keluhan, yang ada hanyalah kesabaran anak kecil yang telah memahami arti tanggung jawab.
Di usia ketika anak-anak lain mungkin telah terlelap atau sibuk dengan gawai, Shakel masih berdiri sesekali duduk untuk memastikan semua alas duduk kembali, setelah itu, ia bersiap pulang dengan langkah kecilnya.
“Pulang nunggu acara selesai, nanti diambil-ambil dulu,” pungkas Shakel sambil menggenggam alas duduk yang masih tersisa.(rul)





