bogorOnline.com-NASIONAL
Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas menyinggung anggaran MBG saat menanggapi kasus bunuh diri siswa di NTT.
Siswa usia 10 tahun berinisial YBR di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT itu gantung diri di pohon cengkeh diduga kecewa lantasan tidak bisa membeli buku dan pena untuk sekolah. YBR bunuh diri pada Kamis, 29 Januari 2026, sekitar pukul 11.00 WITA.
YBR disebut sempat meminta uang Rp 10 ribu untuk membeli buku dan pena. Tetapi kondisi ekonomi ibunya yang berstatus janda dan sebagai buruh tani tidak mampu memberikan uang tersebut. YBR diduga kecewa dan memutuskan bunuh diri dengan cara menggantung diri di pohon cengkeh tidak jauh dari pondok neneknya. Bahkan, ia meninggalkan surat perpisahan karena kecewa.
Anwar mengatakan kejadian ini menjadi tamparan keras bagi negara. “Lalu timbul pertanyaan ini salah siapa? Jelas salah negara karena negara tidak hadir melindungi warganya,” kata dia dalam keterangan kepada Tempo, Kamis, 5 Februari 2026.
Padahal, kata Anwar, Pasal 34 Undang-Undang Dasar telah menegaskan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Ia menyebut peristiwa ini membuktikan sistem kerja negara belum berjalan dengan baik. Negara belum mampu memantau kesengsaraan yang dialami oleh warganya sehingga ada kejadian seperti ini.
Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia ini juga menyoroti jumlah uang yang diminta sang anak. Uang tersebut hampir setara harga satu kali makan bergizi gratis. Padahal, kata Anwar, kalau program MBG dilaksanakan sesuai amanat konstitusi dengan menyediakan anak-anak fakir dan miskin saja, dana yang diperlukan untuk MBG cukup sekitar 10 persen dari jumlah yang sudah dianggarkan.
Sehingga sisanya yang 90 persen bisa dipergunakan oleh pemerintah untuk hal-hal lain, termasuk bagi mendukung dunia pendidikan dan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan seperti yang dilakukan YBR,” ujar Anwar.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra mengatakan, jenazah bocah berumur 10 tahun itu ditemukan di kebun milik neneknya.
“Korban sudah dalam keadaan tergantung pada salah satu dahan pohon (cengkeh),” kata Henry kepada Tempo, Rabu, 4 Februari 2026.
Henry bercerita, korban awalnya dibangunkan oleh ibunya untuk bersekolah pada pagi hari sekitar pukul 7.30 WITA. Bocah tersebut sempat menolak karena merasa sakit kepala, tetapi oleh ibunya tetap dipaksa berangkat.
Korban diantar ke rumah neneknya oleh tukang ojek untuk mengambil seragam sekolah. Namun, sesampainya di sana, korban justru beranjak menuju bale yang berada di sekitar kebun milik neneknya.
Beberapa kerabat yang ada di sekitar rumah nenek korban juga sempat menanyakan alasan bocah tersebut tidak bersekolah. “Korban menjawab tidak pergi karena sakit kepala,” tutur Henry lewat pesan singkat pada Rabu, 3 Februari 2026.
Sekitar pukul 11.00 WITA, korban terlihat sudah dalam kondisi tergantung di dahan pohon cengkeh di dekat bale tersebut. “Selanjutnya korban dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk dilakukan visum,” kata Henry.
Di sekitar lokasi kejadian, petugas menemukan beberapa barang bukti, termasuk tali nilon, pakaian korban, dan selembar kertas tulisan tangan dalam bahasa daerah Ngada. Surat tersebut berisi pesan perpisahan korban kepada ibunya.
Henry mengatakan kepolisian hingga saat ini masih menyelidiki kasus kematian siswa SD tersebut. “(Proses) pengumpulan keterangan dari para saksi guna memastikan secara menyeluruh rangkaian peristiwa,” ujar Henry.(rul)
Sumber:
https://www.tempo.co/politik/siswa-sd-bunuh-diri-anwar-abbas-tamparan-keras-bagi-negara-2112750





