BOGORONLINE.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak dalam upaya mempercepat penurunan angka stunting dan mencegah munculnya kasus baru. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan menuju terwujudnya Generasi Emas 2045.
Komitmen kolaborasi itu ditandai dengan pemberian penghargaan kepada Yayasan Harapan Bangsa Mandiri (HBLM) atas kontribusinya dalam mendukung program percepatan pencegahan dan penurunan stunting di Kota Bogor.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Wali Kota Bogor sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan dan Pencegahan Stunting (TPPPS) Kota Bogor, Jenal Mutaqin, dalam kegiatan konvergensi stunting di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Selasa (30/6/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting” itu berlangsung di Ruang Yerusalem, Lantai 4 GSJA Betlehem, Jalan Suryakencana Nomor 93, Kelurahan Babakan Pasar, Kota Bogor.
Jenal Mutaqin mengatakan, keberhasilan penanganan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat, tidak hanya bergantung pada program dan anggaran pemerintah.
Menurutnya, peran lembaga sosial, komunitas, dunia usaha, hingga para donatur menjadi bagian penting dalam mempercepat penurunan angka stunting di Kota Bogor.
“Siang ini saya berada di Yayasan Harapan Bangsa Mandiri. Setelah kami tracking, yayasan ini sudah lama berkiprah memberikan bantuan kepada balita dan anak-anak di sekitar kelurahan secara konsisten setiap bulan. Ini menjadi ikhtiar dan syiar yang kuat bahwa penanganan stunting di Kota Bogor dilakukan secara serius,” ujar Jenal.
Ia menjelaskan, Yayasan HBLM menjadi salah satu contoh lembaga yang secara berkelanjutan mendukung pemenuhan kebutuhan anak-anak melalui bantuan rutin bagi keluarga yang membutuhkan.
Untuk meningkatkan transparansi sekaligus memastikan bantuan tepat sasaran, Pemkot Bogor juga mengoptimalkan aplikasi Besti (Bebas Stunting) yang mulai diterapkan sejak Januari 2026.
Melalui platform tersebut, para donatur akan memperoleh akses untuk memantau perkembangan anak yang menjadi sasaran bantuan secara berkala.
“Next, pihak yayasan atau donatur bisa memantau langsung setiap bulan peningkatan anak yang dibantu melalui handphone masing-masing. Mulai dari penambahan berat badan, status gizi, lingkar kepala, hingga tinggi badan. Ruang ini kita ciptakan agar donatur mengetahui bahwa bantuan mereka betul-betul sampai dan berdampak,” jelasnya.
Jenal menambahkan, percepatan penanganan stunting menjadi salah satu arahan pemerintah pusat yang harus ditindaklanjuti oleh daerah. Kota Bogor ditargetkan mampu menekan angka stunting sekaligus mengurangi kemiskinan.
Berdasarkan hasil rekonsiliasi data periode Januari hingga Juni 2026, tercatat sekitar 512 balita di Kota Bogor telah dinyatakan keluar dari kategori stunting.
Menghadapi Bulan Penimbangan Balita (BPB) pada Agustus 2026, Pemkot Bogor akan memperkuat langkah pencegahan dari hulu dengan target menekan munculnya kasus baru atau zero new stunting.
“Bukan hanya sekadar melihat kondisi fisik seperti tinggi dan berat badan yang tidak ideal, tapi ini tentang mempersiapkan kemampuan SDM anak-anak kita hingga mereka dewasa. Selain faktor gizi seimbang, sanitasi lingkungan, dan air bersih, faktor penentu yang paling tinggi indikatornya adalah pola asuh orang tua,” tegas Jenal.
Sementara itu, Lurah Babakan Pasar, Kartini Wulandari, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai agenda seremonial, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat.
Selain pemberian penghargaan, kegiatan tersebut diisi dengan talk show bertema “Pentingnya Pengasuhan dan Nutrisi Tepat Menuju Generasi Emas Tahun 2045” dengan menghadirkan Psikolog Klinis Dinas Kesehatan Kota Bogor, Catharina Nidya Putri, M.Psi.
Kelurahan Babakan Pasar juga menyalurkan bantuan berupa susu, telur, dan buah-buahan kepada 30 penerima manfaat yang terdiri dari orang tua, anak dengan kondisi stunting, ibu hamil, keluarga berisiko stunting (KRS), serta calon pengantin.
Kartini mengungkapkan, kolaborasi bersama Yayasan HBLM, komunitas, kader kesehatan, dan tokoh masyarakat memberikan dampak terhadap penurunan angka stunting di wilayahnya.
“Kami sangat terbantu oleh Yayasan HBLM, komunitas, serta tokoh masyarakat. Berkat kerja keras kader dan seluruh tim, angka stunting di Kelurahan Babakan Pasar mengalami penurunan drastis. Berdasarkan data awal, angka stunting atau rawan stunting sempat mencapai 49 anak, lalu turun ke angka 13, dan berdasarkan penimbangan terakhir per Februari 2026, kini menyisakan 9 anak,” ungkap Kartini.
Untuk memperluas penyebaran informasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan Press Gathering bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor.
Melalui sinergi lintas sektor tersebut, Pemkot Bogor berharap seluruh elemen strategis, mulai dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dalduk KB), Puskesmas Belong, hingga sektor swasta dapat terlibat aktif melakukan pendampingan langsung terhadap keluarga yang memiliki risiko stunting.





