Kajian di Alam Kampoong Ecopreneur Diserbu Peminat

BOGORONLINE.com — Kajian agama di alam bertajuk “Sejenak, Kita Pulang, Intimate Camp & MHJA Online” yang digagas Kampoong Ecopreneur mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Kegiatan yang berlangsung pada 11-12 September 2026 di kawasan Kampoong Ecopreneur, Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, bahkan membuat panitia menyiapkan daftar tunggu untuk pelaksanaan berikutnya.

Ketua Panitia “Sejenak, Kita Pulang, Intimate Camp” Zulfikar Abdurrahman mengatakan, tingginya minat peserta membuat panitia harus membatasi jumlah peserta karena keterbatasan tempat.

“Karena peserta membludak, panitia terpaksa membuat waiting list untuk batch berikutnya,” ungkap Zulfikar.

Dari jumlah pendaftar, sebanyak 39 orang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurut Zulfikar, antusiasme tidak hanya datang dari wilayah Bogor, tetapi juga dari sejumlah daerah lain.

“Bahkan ada yang sudah mendaftar untuk kajian batch berikutnya. Mereka datang dari berbagai daerah, termasuk Jambi, Jember, dan Indramayu,” ujarnya.

Pendiri Yayasan Kampoong Ecopreneur Jamil Azzaini menyebut kegiatan tersebut sebagai terobosan dalam pelaksanaan kajian Mengasah Hati Bersama Jamil Azzaini (MHJA).

Selama ini, kajian MHJA lebih banyak dilakukan secara daring melalui Zoom dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 1.000 orang. Kali ini, kegiatan dikemas secara hybrid dengan menggabungkan kajian daring dan retret secara langsung.

Peserta yang hadir secara langsung mengikuti kegiatan selama satu malam, mulai Jumat malam hingga Sabtu siang. Mereka menginap di tenda dan mengikuti rangkaian kajian, journaling, muhasabah, serta Quranic Healing.

“Ternyata jamaah sangat antusias menyambut kajian di alam ini,” ujar Jamil.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapat kesempatan berdialog langsung dengan para pengisi kajian, yakni Jamil Azzaini, Sofie Beatrix, dan Ustaz Aris Ahmad Jaya. Ketiganya mendapat banyak pertanyaan dari peserta selama kegiatan berlangsung.

Kajian perdana pada Jumat malam dibawakan Aris Ahmad Jaya. Ia mengajak peserta memperbaiki hubungan dengan Allah, orang tua, dan sesama sebagai bagian dari ikhtiar dalam menjemput rezeki.

“Rezeki akan mendekat bila kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah, hubungan kita dengan orang tua, dan hubungan kita dengan sesama,” kata Aris.

Aris juga mengingatkan peserta agar lebih fokus terhadap hal-hal yang dapat dikendalikan, termasuk cara merespons perlakuan orang lain. Menurut dia, membalas keburukan dengan kebaikan dapat menjadi salah satu cara menjaga kehidupan tetap positif.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi Quranic Journaling Healing bersama Ketua Yayasan Kampoong Ecopreneur Sofie Beatrix.

Dalam sesi tersebut, peserta diajak memejamkan mata dan mengingat persoalan berat yang sedang dihadapi. Peserta kemudian diarahkan membuka Al-Qur’an, memilih satu ayat secara acak, lalu membaca dan merenungkan maknanya.

Sofie mengajak peserta kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai salah satu pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Pada Sabtu pagi, Jamil Azzaini menyampaikan kajian bertajuk “The Art of Surrender, Sejenak Kita Pulang” yang diikuti peserta secara langsung maupun daring.

Jamil menjelaskan perbedaan antara berserah diri dan menyerah karena kehilangan harapan.

“Give up itu artinya berhenti karena kehilangan harapan,” katanya.

Menurut Jamil, berserah bukan berarti berhenti berusaha. Berserah berarti tetap mencari jalan terbaik tanpa memaksakan kehidupan berjalan sesuai keinginan manusia.

Selain menjadi ruang untuk mengikuti kajian, kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengambil jeda dari rutinitas. Peserta diajak menata kembali diri melalui refleksi, journaling, dan muhasabah.

Kegiatan “Sejenak, Kita Pulang” juga dirancang sebagai program berkelanjutan bagi komunitas MHJA. Kelebihan infak peserta akan digunakan untuk mendukung operasional Tahfidz Ecopreneur.

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Kampoong Ecopreneur menghimpun donasi sebesar Rp45 miliar dalam kurun waktu dua tahun.

Salah seorang peserta, Aisyah, warga Bogor berusia 80 tahun, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut.

“Karena di acara ini kita diajak untuk tak pernah berhenti belajar,” ujarnya.

Peserta lainnya, Asep Sutisna, menilai kegiatan tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk sejenak keluar dari rutinitas.

“Bagus banget acaranya. Kita perlu berhenti sejenak dari semua hiruk pikuk aktivitas untuk kembali ke diri ke sesama dan ke Allah,” kata Tisna.

Sementara itu, Sri Sukmawati, seorang dosen yang datang dari Jember, mengaku mendapatkan banyak wawasan dari kegiatan perdana tersebut.

“Alhamdulillah saya beruntung ikut acara pertama ini, banyak insight yang didapat,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *