Petisi Walikota, Demi Keadilan Warga Kota Bogor
bogorOnline.com
Seringnya lapangan Sempur ditutup terutama di area yang memiliki rumputnya, membuat Walikota Bogor Bima Arya dipetisi oleh perwakilan warga Kota Bogor Rachmat Imron Hidayat.
Petisi yang dilayangkan melalui laman www.
buy bactroban online buy https://anxiety-gone.com/wp-content/themes/tribe/inc/tgm/languages/po/bactroban.html no prescription
change.org ini meminta Bima Arya untuk membebaskan Lapang Sempur.
Rachmat yang juga Ketua GP Ansor Kota Bogor tersebut menjelaskan, jika petisi yang dibuatnya tak lain adalah untuk warga agar bisa menikmati fasilitas publik yang jelas-jelas dibiayai oleh negara.
“Warga bebas disana, bukan untuk merusak tentunya. Tapi, mereka punya hak ingin menikmati keindahan lapangan Sempur yang sudah dibiayai hingga miliaran rupiah,” tegas Romy sapaan akrab Rachmat, Senin (22/1/18).
Ia menjelaskan, pihaknya banyak menerima laporan langsung dari warga atau melalui media sosial terkait larangan yang dilakukan petugas lapangan, saat akan bermain di Lapang Sempur. Padahal, hal tersebut terjadi di hari Sabtu dan Minggu, dimana awalnya hari tersebut area rumput dibebaskan untuk umum.
“Bebaskan saja warga yang ingin mengajak anak atau keluarganya bermain di area rumput itu. Toh, kalau sama petugas ketahuan ada yang sedang merusak bisa langsung ditegur atau dinasehati. Jangan, area rumput Sempur itu hanya jadi ajang tontonan saja tanpa bisa dinikmati,” ungkapnya.
Kemudian, Ketua DPD KNPI Kota Bogor, Bagus Maulana Muhammad menambahkan, jika Lapangan Sempur adalah salah satu icon Kota Bogor, yang merupakan kebanggaan masyarakat di seluruh lapisan. Banyak kenangan yang ditorehkan di lapangan itu , seiring perkembangan zaman. Lapangan Sempur pun, mendapat perhatian dari pemerintah pusat, yang mungkin berkaitan dengan seringnya Presiden Jokowi menyambangi Kota Bogor di awal-awal kepemimpinannya hingga kini.
“Lapangan sempur yang pada awalnya terkesan tidak terurus, berantakan dan kumuh, kini telah berhasil disulap menjadi lapangan yang indah dan cantik, sehingga pemerintah pun menggelontorkan anggaran sampai milyaran rupiah untuk rehabilitasi lapangan itu,” kata Bagus.
Namun di sisi lain, sambung Bagus, ada beberapa hal yang dirasakan membuat kecewa, bahkan melukai hati masyarakat Kota Bogor, diantaranya masyarakat ternyata hanya disuguhkan lapangan untuk ditonton, dan bukan dinikmati. Larangan menginjak rumput Lapangan Sempur pun terkesan membuat kastanisasi di masyarakat Kota Bogor. Mengapa demikian, karena ternyata baru-baru ini diketahui larangan menginjak area rumput Lapangan Sempur tersebut tidaklah berlaku bagi penguasa yang kembali mencalonkan diri dan memperkenalkan pasangan calonnya dengan memanfaatkan keramaian lapangan.
“Mencermati hal tersebut, maka perlu dikaji kembali larangan yang dirasa kurang tepat bahkan cenderung tidak dengan porsi berkeadilan. Fasilitas apapun semestinya dapat dimanfaatkan, dinikmati dan dijaga bersama oleh masyarakat kota Bogor. Kembalikan Lapangan sempur yang penuh kenangan, lapangan tempat bersilaturahmi tanpa sekat, sama artinya mengembalikan kedaulatan masyarakat Kota Bogor,” bebernya.
Sedangkan, Firman Wijaya, salah seorang penandatangan petisi menjelaskan, agar Pemkot Bogor tidak setengah hati dalam melayani warganya sendiri, terutama dalam aksesi Lapang Sempur, sebagai wahana wisata ruang publik.
“Kalau larangan itu dikarenakan khwatir rumputnya rusak. Jelas, alasan itu tidak bisa diterima,” tandasnya. (Nai/ist)





