BOGORONLINE.com – Hasil berbudidaya ikan dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat khususnya daerah Kecamatan Ciseeng. Mayoritas masyarakat dari Kecamatan Ciseeng ini pemata pencaharian sebagai Pembudidaya ikan. Ikan yang di budidayakan pun bermacam – macam mulai dari ikan hias hingga ikan konsumsi. Dengan berbudidaya ikan hias masyarakat dapat membantu meningkatkan perekonomian daerah.
Selain itu, dengan berbudidaya ikan masyarakat Kecamatan Ciseeng menjadi masyarakat yang mandiri secara finansial.
“Komoditas ikan koi adalah satu satu yang paling banyak diminati oleh para pembeli,” ujar Aulia Ikbal pemilik dari Aulia Fish Betta.
Ciseeng sendiri sudah terkenal sebagai kecamatan yang sering menyuplai berbagai jenis ikan hias maupun ikan konsumsi terbesar di sekitar Jabodetabek. Beberapa ikan hias yang di produksi oleh para pembudidaya seperti Ikan Mas Koki, Koi, Cupang, Manfish, Arwana, Guppy, Tomang, Vibas dan Ikan Oscar.
Selain ikan hias terdapat juga ikan konsumsi seperti Ikan mas, Gurame, dan Ikan lele. Tidak hanya itu, beberapa pembudidaya pun menjual beberapa ikan yang di produksi untuk menjadi makanan ikan predator seperti Udang, Cere, Ikan Mas Kecil dan Ikan Kijing.
Ikbal melanjutkan, di Kecamatan Ciseeng mayoritas masyarakatnya berbudidaya ikan dikarenakan turun temurun dari orang tuanya. Kecamatan Ciseeng juga terkenal dengan sebutan kampung ikan dikarenakan hampir seluruh masyarakatnya berbudidaya ikan. Untuk membudidayakan ikan sendiri dibutuhkan sekitar 2000 meter lahan yang perlu di persiapkan sehingga tidak heran jika melewati daerah ini akan terlihat lahan yang dijadikan empang yang sangat luas dengan di
huni berbagai macam ikan yang dibudidayakan.
Ikan yang paling banyak dibeli oleh konsumen adalah ikan koi. Ikan koi sendiri termasuk budidaya ikan yang panennya sangat cepat, sekitar 3 bulan para pembudidaya sudah dapat menjualnya. Pemberian makannya pun terbilang mudah hanya dengan memberi pelet sehari 2 kali dalam satu ember untuk satu kolam besar. Ikan koi dijual dengan kisaran harga dari Rp.800 hingga Rp. 56.000 untuk yang paling besar. Harga yang di patok pun disesuaikan dengan tingkat ukuran serta corak pada ikan tersebut. Semakin panjang dan besar semakin tinggi pula harganya dan semakin langka dan bagus corak dari ikan tersebut maka semakin mahal juga harga ikan tersebut.
Selain ikan koi, terdapat pula ikan konsumsi yang sering di beli oleh pembeli. Ikan konsumsi biasanya dibeli oleh para pengusaha restoran makanan. Setiap pembelian mereka akan menyiapkan berupa gentong ataupun styrofoam box yang akan diisi oleh ikan tersebut. Di dalam satu gentong atau styrofoam box dapat menampung ikan mencapai 2 ton. Namun proses pertumbuhan dari ikan konsumsi cenderung lebih lama sekitar enam sampai delapan bulan baru dapat dipanen. Hal itu yang membuat penghasilan para pembudidaya ikan menjadi terhambat.
Ikbal baru merintis usaha berbudidaya ikan selama 4 tahun. Sebelumnya Ia pernah bekerja menjadi kurir di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengiriman logistik.
“Penghasilan dari berbudidaya ikan sangatlah menjanjikan. Walaupun saya baru berbudidaya selama 4 tahun, dalam sebulan dapat menghasilkan pendapatan mencapai 10 juta dengan penjualan ikan tersebut. Ikan yang di panen akan di distribusikan ke pasar – pasar ikan yang berada di sekitar Jabodetabek. Ikan yang di bawa ke pasar dapat mencapai 1000 ekor per harinya dengan rata – rata habis tidak tersisa. Proses pendistribusiannya menggunakan plastik besar dan di masukkan kedalam mobil bak. Tidak hanya secara offline Aulia Fish Betta pun mulai merambah penjualannya melalui toko online shop,” ungkapnya.
Dikatakan Ikbal, dalam mendirikan budidaya ikan ini ia hanya sendiri, namun jika dalam masa panen akan dibantu oleh keluarga atau pun teman kerjasamanya yaitu pemilik Kokoi Perintis Awal.
“Kebetulan orang tua dari pemilik Aulia Fish Betta ini pun jauh lebih dulu terjun dalam berbudidaya ikan yang pengahasilannya mencapai puluhan juta rupiah,” jelasnya.
Ikbal menjelaskan, tidak dapat di pungkiri, di dalam berbudidaya ikan saya pun sempat merasakan penurunan terlebih pada saat masa pandemi. Hal itu tetapi tidak berlangsung lama dikarenakan di masa pandemi terdapat tren memelihara ikan cupang yang mengakibatkan terjadi kenaikan dalam penjualan.
“Ikan cupang sendiri di dalam penjualan online dapat mencapai pendapatan jutaan rupiah,” kata dia.
Masih kata Ikbal, di dalam berbudidaya tentunya akan mengalami kendala, hal itu pun dirasakan oleh pemilik Aulia Fish Betta. Ia pun pernah mengalami kendala dalam usahanya berbudidaya ikan.
“Dari tahun ke tahun harga pakan ikan mengalami kenaikan namun harga ikan tetap standar bahkan beberapa sampai ada yang turun. Hal itu membuat budidaya ikan menjadi imbang, tidak ada keuntungan tetapi tidak rugi yang sangat signifikan. Jika sudah seperti itu hal yang dapat dilakukan hanyalah terima nasib,” ucap Ikbal.
Dengan berbudidaya ikan sebenarnya dapat menciptakan peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat Kecamatan Ciseeng khususnya. Namun sangat disayangkan, belum adanya pelatihan, pembinaan maupun kegiatan yang serupa dari pemerintah setempat untuk mengembangkan budidaya ikan yang dilakukan masyarakat tersebut.
“Jika diamati, budidaya baik ikan hias maupun ikan konsumsi bisa menjadi sektor untuk meningkatkan perekonomian masyarakat karena dalam penjualan yang dilakukan terlihat hasilnya terlebih jika di tekan lebih dalam pendistribusiannya dengan memanfaatkan teknologi yang semakin canggih. Diharapkan pemerintah setempat dapat memperhatikan lagi sektor budidaya perikanan agar dapat merambah dunia Internasional,” Ikbal menutup.
Penulis : Ajeng Gita Permata Sari Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB University






