Bogor – Aktivis lingkungan hidup di Bogor, Sabilillah mengingatkan masayarakat terkait adanya krisis air bersih di Indonesia.
Menurut dia, meski Indonesia merupakan negara tropis, bukan berarti terbebas dari ancaman bencana alam kekeringan. Kelangkaan air bersih disebabkan oleh kerusakan alam akibat aktivitas manusia yang menyebabkan krisis air bersih.
Ia mengungkapkan fakta bahwa krisis air tak akan mungkin dihindarkan dan pasti terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Bogor.
“Kerusakan alam, habitat dan keanekaragaman hayati akibat ulah manusia adalah pemicu ancaman krisis air dan bencana kekeringan berkepanjangan,” kata dia, Sabtu 20 Mei 2023.
Menurutnya, faktor penyebab diantaranya adalah faktor pertumbuhan industri dan pertambangan. Adanya peningkatan aktivitas industri yang menggunakan air tanah dan sumber air lainnya juga membuat ancaman serius krisis air.
“Sebab, Industri pun menghasilkan limbah dan sampah yang mencemarkan sumber-sumber air. Termasuk aktivitas pertambangan yang tidak terkontrol, semisal galian batu, penebangan pohon dan material lainnya adalah ancaman krisis ketersediaan air tanah,” jelas dia.
Ia mengatakan, faktor pertumbuhan populasi yang erat kaitannya dengan kebutuhan air bersih, serta faktor pertumbuhan sentra komersial yang pesat menjadi ancaman serius terhadap ketersediaan air bersih. Karena, penggunaan air pun cenderung berlebihan, ditambah lagi kecenderungan terjadi polusi air akibat limbah dan sampah.
“Masyarakat yang kurang peduli dengan sumber daya alam dan air, perilaku penggunaan air secara berlebihan bisa menyebabkan kelangkaan air yang berujung krisis air bersih. Ini bukan tugas pemerintah semata, tapi secara bersama-sama masyarakat sadar untuk mencegah musibah dan dampaknya,” papar dia
Efeknya, lanjut dia, sudah dirasakan oleh masyarakat, namun tidak sedikit yang abai dan lalai. Ia mengingatkan, jika tidak siap dimulai dari sekarang untuk menghadapinya maka akan jadi musibah dan permasalahan serius.
Permasalahan tersebut, papar dia, merupakan buah tangan dari perbuatan manusia yang lalai berterima kasih terhadap anugerah yang selama ini mereka nikmati di Bumi yang mereka pijak dan oksigen yang mereka hirup setiap hela nafas.
“Yang menanggung dosa adalah mereka sendiri karena tidak menjaga kelestarian lingkungan hidup, tak terkecuali mereka yang sedang mengemban amanat alias pemangku jabatan. Jadi saya bangunkan mereka supaya segera bersiap diri menghadapi kekeringan dan fenomena cuaca saat ini dan mendatang,” beber dia.
Selain itu, Sabilillah menyebutkan sektor pertanian dan perkebunan juga tak luput terancam kekeringan dan hama. Kerusakan lingkungan, paparnya, memicu sumber penyakit yang akan menyerang manusia terutama anak-anak dan balita.
“Oleh karenanya, momentum Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia 21 Mei tahun ini dapat dijadikan sebagai pemantik bagi setiap individu supaya lebih fokus menjaga kelestarian alam dan keanekaragaman hayati dan habitatnya,” jelas dia.





