Memaknai Tahun Baru

Hari ini kita menghadapi tahun baru. Sebagian orang menghadapinya dengan berbagai rencana. Sebagian yang lainnya tidak memiliki rencana apa-apa. Tapi tidak sedikit pula yang diliputi oleh kegelisahan karena seolah-olah menghadapi tahun ketidakpastian. Para pelaku usaha, menghadapi tahun 2016 ini ada dalam posisi ketidakpastian tersebut. Mengingat nilai tukar rupiah yang belum menunjukan kondisi yang stabil, sehingga entah oleh karena itukah sebab harta orang kaya Indonesia menyusut? Sementara kita dihadapkan kepada pasar bebas, baik di tingkat regional maupun global yang terus mendesak, sehingga membuat para pelaku usaha kita diliputi kabut cuaca yang sukar diprakirakan.

Kabut asap memang sudah berakhir seiring dengan datangnya musim penghujan, sehingga membuat kita merasa terlepas dari sesak napas. Tapi  sesak napas yang substansial belum reda-reda juga: Kita dikejutkan dengan peristiwa freeport yang konon melibatkan banyak petinggi negara yang tentu saja sudah terbiasa menghilang dalam keremangan. Kita pun dikagetkan dengan pencemaran laut Ancol yang berada di pusat kekuasaan; Artinya, kalau yang dekat dengan pusat kekuasaan saja tidak terurus, apalagi yang jauh; Ini suatu ironi.

Meski sudah terbiasa kita hidup dalam ironi. Betapa tidak. Kita hidup di negeri yang subur makmur tapi keadaannya sangat memperihatinkan.  Negeri kita disebut negeri maritim, tapi masih impor ikan. Negeri kita negeri agraris tapi masih impor beras, daging, jagung, dan lainnya. Akan tetapi tentu saja kita harus berusaha untuk menyudahi dari ironi yang tidak-tidak ini.

Begitu pula di bumi Tegar Beriman yang kita cintai ini, begitu berlikunya penetapan bupati yang tentu saja berpengaruh terhadap sistem kepemerintahan, juga masih proses pengisian  wakil bupati yang terkesan bertele-tele. Menjadi ironi, ketika Bupati, Pimpinan DPRD sampai partai politik pengusung mengatakan, Kabupaten berpenduduk 5,4 juta jiwa ini harus dipimpin Bupati dan wakil Bupati. Tapi merekatidak  menyegerakan prosesnya. Sudah hampir 10 bulan, sampai tahun ini akan berakhir, belum ada tanda posisi itu segera terisi.

Tapi bagaimanapun tahun ini telah kita lalui, seperti berjalan dengan kaki-kaki waktu yang terseret untuk terus berjalan memasuki lorong waktu tahun 2016. Sadar atau tidak, toh kita harus terus berjalan.

Namun tentu saja, kita perlu melihat kembali apa-apa yang telah kita lalui atau melakukan refleksi diri. Kemudian yang pasti, banyak yang telah kita raih, tapi lebih banyak lagi yang belum kita raih. Memang ini kata-kata klasik, namun itulah kata-kata yang mengandung nasihat yang sangat berharga. Sebab ini merupakan sikap kritis terhadap diri sendiri, dan sikap kritis sebagai salah satu syarat dalam melakukan refleksi. Yang jelas melakukan refleksi di akhir tahun sangatlah penting, jauh lebih bermanfaat ketimbang mempersiapkan hura-hura dalam menyambut tahun baru.

Demikian. Kami mengucapkan selamat tahun baru 2016. Semoga kita dapat memaknainya untuk lebih baik dari hari kemarin. Harapan esok lebih cerah. Ya, esok dan kemaren adalah realitas hari ini yang selalu kini dan di sini…

Comments




Leave a Reply

Your email address will not be published.