Cibinong – Kasus orang tua yang anaknya menjadi korban penggunaan vaksin palsu terus bermunculan, seiring dengan gencarnya aparat berwajib melakukan penyelidikan dan penyidikan. Para orang tua yang merasa dirugikan itu ramai-ramai membawa anaknya untuk divaksin ulang, seperti yang terjadi di Kota Bekasi.
Nah, untuk Kabupaten Bogor sendiri, sejak kasus vaksin palsu diungkap polisi, belum ada satu pun orang tua yang melaporkan, kalau anaknya menjadi korban vaksin palsu. “Alhamdulillah, hingga detik ini, di Kabupaten Bogor belum ada laporan adanya penggunaan vaksin palsu,” kata Bupati Nurhayanti, kepada wartawan Jum’at (22/07).
Menurut Bupati Nurhayanti, vaksin yang digunakan untuk mengimunisasi balita di wilayah Kabupaten Bogor, seperti di RSUD, Puskesmas dan Posyandu dijamin keasliannya, karena dari laporan Dinas Kesehatan, vaksin disuplai dari Biofarma, perusahaan farmasi milik pemerintah yang lokasinya pabriknya berada di Bandung.
“Jadi para orang tua yang anaknya telah diimunisasi di RSUD, Puskesmas maupun Posyandu, tak perlu resah, apalagi khawatir, karena vaksin yang digunakan keluaran atau produksi dari pabrik yang jelas,” tegasnya.
Meski demikian, Bupati Nurhayanti mengaku telah mengintruksikan Dinas Kesehatan melakukan pengawasan ketat, terhadap vaksin-vaksin yang masuk ke Kabupaten Bogor. “Kita jangan sampai lengah lah, pokoknya pengawasan pendistribusian vaksin begitu juga obat-obatan harus diperketat,” pintanya.
Anggota Komisi IV DPRD Amin Sugandi mengaku sedikit lega, karena hingga kini belum ada temuan penggunaan vaksin palsu di Kabupaten Bogor, seperti di daerah lain. “Produsen vaksin palsu ini telah melakukan kejahatan luar biasa sehingga layak dihukum berat,” katanya.
Amin meminta, orang tua yang merasa anaknya menjadi korban penggunaan vaksin palsu, untuk tidak ragu melapor. “Kita sudah meminta Dinas Kesehatan membuka pusat pengaduan atau crisis centre vaksin palsu. Ini penting dan mendesak, untuk mengantisipasi, bila dikemudian hari ada orang tua yang melapor,” ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr.Camalia Wilayat, kepada Jurnal Bogor antara vaksin palsu dan asli sulit dibedakan, sebab perlu diuji laboratoriuam terlebih dahulu “Dinkes selau melakukan survei vaksin ke Puskesmas serta rumah sakit yang mengambil vaksin dari kami. Saat ini, PT Biofarma bersama Kemenkes RI dan BPOM sedang berkoordinasi soal peredaran vaksin palsu ini,” tegasnya.
Vaksin palsu ini, kata Camalia dibanderol dengan harga Rp 700 hingga Rp 1 juta. Namun demikian, lanjut Camalia, tak semua vaksin mahal itu palsu. Vaksin palsu yang beredar itu, kata Camalia, berisi air tawar dan ada sebagian dicampur dengan antibiotik. ”Yang berbahaya adalah vaksin yang dicampur dengan anti biotik, karena si anak yang diimunisasi tubuhnya menjadi tidak kebal,” pungkasnya. (zah)





