Propam Polres Bogor Kota Dalami Kasus Dugaan Pemerasan Oknum Polisi Kepada

Kota Bogor-bogorOnline.com

Terkait dugaan pemerasan yang dilakukan oleh oknum anggota unit laka lantas Polres Bogor Kota kepada Sopir yang terlibat dalam kecelakaan sepeda motor beberapa waktu lalu berbuntut panjang, kasus tersebut berlanjut hingga ke penyelidikan propam Polres Bogor Kota.

Pihak sopir sendiri telah melaporkan dugaan pemerasan oleh oknum anggota laka lantas ke bagian Propam Polres Bogor Kota.

Korban sekaligus bos dari sopir truk Dede Mahdar mengatakan, saat ini kasus tersebut sudah dalam penanganan anggota Propam Polres Bogor Kota, pihak Polres Bogor Kotapun berjanji akan menuntaskan kasus ini hingga selesai.

“Sudah, saya sudah melaporkan hal tersebut kepada petugas pada Rabu (20/7) sore, saya diperiksa oleh Paminal Aiptu Budhi Wijaya dan provostnya,” kata Badar.

Badar menambahkan, pak Kapolres Bogor Kota AKBP Andi Herindra pun sudah merespon aduannya, hingga dirinya, Dede Mahdar dan Billy yang mendampingi Dede saat di unit laka Polres Bogor Kota telah dimintai keterangan.

“Masih dalam penanganan pihak propam Polres Bogor Kota untuk mendalami kasus dugaan pemerasan itu,” tandasnya.

Kasubid Penmas Bidang Humas Polda Jabar, AKBP Bakhtiar Joko mengatakan, dirinya sudah menyampaikan perihal kasus dugaan pemerasan ini langsung ke Kapolres Bogor Kota agar dituntaskan.

“Kalau memang faktanya ada pemerasan, Kapolres berjanji akan menindak anggotanya sesuai aturan yg berlaku,” ungkapnya.

Kapolres Bogor Kota AKBP Andi Herindra mengatakan, pihaknya sedang melakukan penyelidikan untuk mendalami kasus ini, saat inipun masih dilakukan pemeriksaan kepada para saksi oleh propam.

“Masih diselidiki, apabila terbukti tentunya akan ada sanksi sesuai kesalahan nya,” pungkasnya.

Perlu diketahui sebelumnya, seorang pengusaha membeberkan peristiwa pemerasan yang dialami sopirnya. Dalam cerita yang disebarkan lewat media sosial itu disebutkan, sopir truk bernama Badar menabrak pengendara motor hingga tewas. Perkara ini kemudian masuk ke polisi, namun berakhir secara kekeluargaan.

Meski perdamaian berjalan, mobil truk yang dikendarai Badar tetap ditahan di kantor polisi. Ketika mobil ingin dikeluarkan, aparat kepolisian meminta bayaran Rp 10 juta. Pengusaha tersebut menilai permintaan itu sebagai bentuk pemerasan.(bunai)