Menag Lepas Delegasi Budaya Umat NSI ke Laos

Jakarta – bogoronline.com –Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin didampingi Sekjen Kementerian Agama sekaligus Pgs. Dirjen Bimas Buddha melepas delegasi budaya yang beranggotakan 42 orang umat Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia(NSI) ke Laos. Delegasi seni budaya NSI yang dipimpin oleh Ketua Umumnya, Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja akan berangkat ke Laos tanggal 16-22 Agustus 2016. Selama di Laos, delegasi NSI akan menampilkan kesenian tradisional Indonesia, yaitu 4 tarian tradisional Indonesia dan persembahan grup Angklung Gita Pundarika NSI.

Dalam keterangannya, Suhadi Sendjaja mengatakan melalui kesenian, delegasi NSI ingin menyuarakan perdamaian, mencintai tanah air, dan melestarikan budaya bangsa.

“Gerakan ini juga menjadi tindak lanjut dari gerakan NSI tahun lalu ke Myanmar,” ujar Suhadi di Kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta, Senin (14/8).

Menag dalam sambutannya mengapresiasi umat Buddha khususnya umat NSI yang telah memberikan kontribusi besar dan sumbangsih dalam ikut menjaga dan memelihara sekaligus mengembangkan kehidupan keagamaan di Indonesia.

Melepas delegasi yang membawa misi mulia ini, menurut Menag, ini adalah cara pendekatan bagaimana dunia bisa melihat perkembangan kehidupan keagaman di Indonesia sehubungan dengan peristiwa di Tanjung Balai Asahan beberapa waktu lalu yang tentu bisa menimbulkan persepsi beragam.

“Karenanya, kunjungan seni budaya ini membawa makna positif di dalam ikut menjelaskan pesan ke dunia, bahwa persoalan atau konflik sosial yang terjadi itu sesungguhnya tidak terkait dengan permasalahan agama itu sendiri,” ucap Menag.

Menag menggarisbawahi, di Indonesia sejarahnya itu nyaris tidak pernah ada catatan sejarah adanya konflik karena konflik agama. Sejak ratusan tahun lalu, bangsa kita di wilayah nusantara dikenal sebagai masyarakat harmonis, menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan umat beragama, dan toleransi cukup baik sehingga tidak konflik yang ada sumbernya dari agama.

“Jadi kalaulah kemudian terjadi pembakaran rumah ibadah, kerusakan rumah ibadah,maka tindak kekerasan itu lebih karena agama dijadikan alat justifikasi untuk memobilisasi massa, tetapi akar masalah sebenanya tidak hubungan dengan agama, namun masalah sosial, ekonomi,” terang Menag.

“Karenanya, saya bersyukur kunjungan ini selain juga membawa misi kebudayan Indonesia, dan saya senang ada istilah Buddha Nusantara, saya mengapresiasi bahwa umat Buddha memiliki kesadaran tinggi bagaimana kesetiaan dan keterkaitan dengan Tanah Air menjadi bagian tak terpisahkan dari kita sebagai umat Buddha sekaligus bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia,” imbuh Menag.

Ditambahkan Menag, misi ini dengan membawakan tarian nusantara dan juga lagu-lagu daerah, sangat membantu dalam memperkenalkan Indonesia khususnya yang terkait dengan kehidupan umat beragama. Menag juga menyampaikan harapan-harapannya agar juga disampaikan kepada pihak yang akan ditemui bahwa kehidupan keagamaan di Indnesia berjalan sebagaimana biasanya, kalau ada percikan-percikan konflik sifatnya kasuistik saja, dan tidak bisa dipukul rata.

“Di Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama yang meskipun mayoritas Islam, tapi semua agama oleh konstitusi diletakkan dalam posisi yang sama. Artinya kewajiban dan hak-hak umat beragama itu oleh konstitusi, undang-undang, dan oleh regulasi yang ada, diposisikan sama,” ujar Menag. (dIe)