Terdakwa Kurir Ganja 3,8 Ton Diputus Bebas

Cibinong, Bogoronline.com – Pengadilan Negeri Cibinong akhirnya memutuskan bebas terdakwa kurir ganja 3,8 ton Taufik Hidayat (47) dalam sidang pembacaan putusan, Kamis (8/9/2016). Sekjen Organda Kabupaten Bogor ini sebelumnya didakwa Pasal 55 ayat 2 UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika junto Padal 55 ayat 1 kesatu KUHP sebagai kurir narkoba jenis ganja.

“Menyatakan terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan tersakwa melakukan tindak pidana sesuai dakwaan penuntut umum. Membebaskan terdakwa saudara Taufik Hidayat sebagaimana dakwaan kesatu dan kedua,” kata Ketua Majelis Hakim Bambang Setiawan.

Selain itu, hakim juga memerintahkan kepada penuntut umum untuk memulihkan nama baik terdakwa, mengembalikan 3 buah HP terdakwa, mengembalikan 2 mobil dump truck kepada pemiliknya dan memerintahkan untuk memusnahkan barang bukti ganja.

Bebasnya Taufik Hidayat karena terdakwa tidak terbukti sebagai kurir narkoba dan bukan pemilik ganja.
“Terdakwa juga tidak mengetahui muatan truk berupa ganja. Terdakwa terbukti diminta mencarikan truk untuk memindahkan limbah sepatu dari Rest Area Sentul ke Cibubur Jakarta Timur,” imbuh Bambang.
Ditemui usai persidangan, Bambang mengatakan, dalam perkara tersebut, majelis hakim melihat ada beberapa kejanggalan dalam kasus itu. Lanjut Bambang, dalam proses penyidikan terhadap saksi yang dilakukan Polres Bogor, penyidik tidak melakukan penyidikan sesuai aturan. “Mereka tidak diperlakukan dengan baik
Ditemui usai persidangan, Bambang mengatakan, dalam perkara tersebut, majelis hakim melihat ada beberapa kejanggalan dalam kasus itu. Lanjut Bambang, dalam proses penyidikan terhadap saksi yang dilakukan Polres Bogor, penyidik tidak melakukan penyidikan sesuai aturan. “Mereka tidak diperlakukan dengan baik sebagaimana mestinya seorang saksi. Selama menjalani pemeriksaan, para saksi tidak diperbolehkan keluar dari area penyidikan. Ada yang diperiksa 4 hari hingga 11 hari tanpa boleh keluar ruangan penyidik,” jelas dia.
Karena itu, majelis hakim menilai, dalam penyidikan kasus tersebut bertentangan dengan pasal 64 Undang-undang Kepolisian Negara RI No 14 tahun 2016 tentang Managemen Penyidikan Tindak Pidana.

“Hal yang paling utama bertentangan dengan hukum menjalani pemeriksaan, para saksi tidak diperbolehkan keluar dari area penyidikan. Ada yang diperiksa 4 hari hingga 11 hari tanpa boleh keluar ruangan penyidik,” jelas dia.

Karena itu, majelis hakim menilai, dalam penyidikan kasus tersebut bertentangan dengan pasal 64 Undang-undang Kepolisian Negara RI No 14 tahun 2016 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana. “Hal yang paling utama bertentangan dengan hukum acara pidana dan hukum pemeriksaan saksi,” tutur dia.

Ditemui usai persidangan, istri Taufik, Nina Nurwati (36) merasa bersyukur karena hakim telah bersikap adil. “Sudah jelas, suami saya tidak bersalah. Tidak semua orang yang dizholimi itu bakal masuk penjara. Saya berterimakasih kepada majelis hakim yang sudah memutuskan perkara secara adil. Suami saya tidak mengetahui bahwa itu berisi ganja melainkan limbah sepatu,” kata Nina.

Meski suaminya sudah divonis bebas, Nina mengaku, ia dan anaknya yang berusia 17 tahun masih trauma atas kejadian tersebut. “Apalagi anak saya, dia masih trauma karena ikut menyaksikan, mendengar jeritan orang-orang disiksa dan ikut ditahan di kantor polisi selama empat hari untuk diminta keterangan sebagai saksi,” paparnya.
Dalam kasus ini, Taufik dituduh terlibat dalam distribusi ganja yang hingga kini belum diketahui siapa pemiliknya. Taufik didakwa dengan pasal berlapis, diantaranya pasal 115 ayat 2, pasal 132 ayat 1 Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika, dan pasal 55 ayat 1 KUHPidana dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.
Belakangan, diketahui Taufik sama sekali tidak mengetahui keberadaan ganja dalam truk bernopol BL (Aceh) itu. Ia hanya dimintai tolong oleh rekannya bernama Junaedi untuk dicarikan truk lain untuk menggantikan truk asal Aceh yang mogok itu. (Herry Keating)

Comments




Leave a Reply

Your email address will not be published.