Petaka Komersialisasi Stadion Pakansari

CIBINONG– Nasib Stadion Pakansari tiba-tiba saja memprihatinkan. Masih belum hilang betapa Bupati Bogor, Nurhayanti membanggakan stadion berkapasitas 30.000 tempat duduk itu pada PON XIX/2016 Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Tapi kini, sejumlah pembatas antrean penonton rusak akibat ulah suporter Persija Jakarta, Jakmania, yang ingin menonton tim kesayangan mereka melawan PS TNI, Jumat, 14 Oktober 2016 kemarin.

Coretan 'manis' para Jakmania yang tidak bertanggungjawab

Coretan ‘manis’ para Jakmania yang tidak bertanggungjawab

Corat coret tembok seperti dianggap keren oleh ribuan suporter yang didominasi anak-anak yang seharusnya fokus saja mengenyam pendidikan. Tapi apa mau dikata. Jakmania sudah bikin onar di Bogor.

Polres Bogor pun menerjunkan kekuatan penuh untuk mengamankan ring satu Bumi Tegar Beriman. Bahkan, pasukan Kapolres AKBP AM Dicky itu menangkap beberapa diantaranya karena kedapatan membawa ganja di perjalanan menuju stadion.

Polisi menangkap seorang oknum Jakmania ke Mapolres Bogor

Polisi menangkap seorang oknum Jakmania ke Mapolres Bogor

Massa pun merusak apapun yang ada didepan mereka saat keluar stadion. Seperti sudah jadi tradisi. Kalau tidak bentrok tidak keren. Mungkin itu yang ada di benak mereka.

Tapi setidaknya Jakmania bisa mencontoh suporter lainnya di Indonesia yang mulai bisa berprilaku santun. Sukur-sukur bisa mencontoh suporter sepakbola di negara lain. Jepang misalnya. Disana suporter juga fanatik tapi jarang ada anarkis. Tapi mungkin ada saja yang anarkis.

Sejumlah 'perabotan' stadion rusak

Tapi di Indonesia, sudah kelewat batas. Keributan suporter seperti sudah lumrah dilakukan. Ujung-ujunya, merusak apapun dan bahkan menghilangkan nyawa orang lain!

Fanatisme boleh. Tapi sesuai lah pada tempatnya. Saya ingat cerita teman yang pernah pergi ke Italia. Dia merupakan fans berat Lazio, yang merupakan musuh bebuyutan AS Roma.

Dia bilang, suporter disana, saat pertandingam tim sekota (Roma vs Lazio) yang terkenal dengan Derby Della Capitale di Stadion Olimpico, hanya beringas didalam stadion. Pun jika rusuh, tidak berbuntut panjang-panjang amat.

Kata dia, saat tidak ada pertandingan, di Ibukota Italia, Roma, seorang yang mengenakan jersey Lazio berjumpa dengan fans AS Roma, ya mereka biasa saja. Tidak ada friksi yang terjadi.

Tapi di Indonesia, orang pakai atribut Persija dan ketemu yang pakai atribut Persib. Bayangkan sendiri saja. Terlebih mereka sama-sama suporter garia keras. Ya, sudahlah. Tak lama juga muncul di sejumlah media massa. (Cex)

Comments




Leave a Reply

Your email address will not be published.