Renungan Kemerdekaan

RENUNGAN KEMERDEKAAN

Oleh: Wasto Sumarno, S.Hut.

 

Setelah 72 tahun Indonesia merdeka banyak kemajuan yang kita raih, pembangunan di segala bidang terus tumbuh dan berkembang; banyak melahirkan orang kaya dengan asset puluhan triliunan; telah banyak melahirkan sarjana doktor lulusan universitas terkemuka di dunia; banyak tokoh dan kaum elit menikmati musim liburan ke London, Paris, dan Beijing; dan masih banyak lagi, yang tentunya terlalu panjang deretan keberhasilan dari kemerdekaan Indonesia untuk dipajang dan disebut-sebutkan. Akan tetapi ironisnya, di saat capaian-capaian tersebut juga terjadi kesenjangan di berbagai bidang terutama dalam bidang ekonomi, Indonesia disebut-sebut sebagai negara tersenjang ke 4 di dunia. Tentunya, di negara yang sudah merdeka ini, berbagai kesenjangan itu harus bisa diatasi bahkan semestinya tidak perlu terjadi.

 

Kemerdekaan Indonesia teramat istimewa, yang barangkali tidak ada negara di dunia, yang rakyatnya bersatu padu, bahu-membahu memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan hingga begitu banyak rakyat gugur di medan perang. Sebut saja peristiwa 10 November 1945, hanya dalam sepekan saja yang gugur tidak kurang dari delapan ribu pejuang dan dalam beberapa bulan kemuadia mencapai 30 ribu pejuang. Di Serpong dalam seketika seribu pejuang gugur, yang konon menurut cerita adalah para santri dari wilayah Pandeglang, Lebak, dan Serang dalam giliran berjaga di garis perbatasan. Belum lagi kejadian di tempat lain, pertempuran di Rengas Dengklok, serta di sepanjang Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa terjadi berbagai pertempuran yang sporadis antara rakyat yang bersenjatakan apa adanya melawan tentara Belanda. Di Bandung, kemudian diabadikan oleh Ismail Marzuki  dalam Halo-halo Bandung, yang lirik baris terakhirnya …. Sekarang telah menjadi lautan api/ Mari bung rebut kembali.

Kemerdekaan Indonesia yang masa-masa perjuangannya demikian istimewa, karena di antaranya telah melahirkan banyak cerita dan kenangan,  terabadikan dalam lagu dan sajak. Penyair Indonesia terkemuka, Chairil Anawar mengabadikan dalam sajaknya Kerawang – Bekasi … Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa/ Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata/ Kaulah sekarang yang berkata/………..Kami sekarang mayat/ Berikan kami arti/ Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian/ ….

WS Rendra juga menulis dalam sajaknya berjudul — Gugur — ….. Ia merangkak/ di atas bumi yang dicintainya/ Belum lagi selusin tindak/ mautpun menghadangnya/ Ketika anaknya memegang tangannya/ ia berkata :/ ” Yang berasal dari tanah kembali rebah pada tanah/ Dan aku pun berasal dari tanah/ tanah Ambarawa yang kucinta/ Kita bukanlah anak jadah/ Kerna kita punya bumi kecintaan/ Bumi yang menyusui kita/ dengan mata airnya/ Bumi kita adalah tempat pautan yang sah/ Bumi kita adalah kehormatan/ Bumi kita adalah juwa dari jiwa/ Ia adalah bumi nenek moyang/ Ia adalah bumi waris yang sekarang/ Ia adalah bumi waris yang akan datang.”/ Hari pun berangkat malam/ Bumi berpeluh dan terbakar/ Kerna api menyala di kota Ambarawa/ ……

 

Begitu banyak catatan yang mengabadikan masa-masa perjuangan atau masa revolusi fisik, yang seyogyanya menjadi bahan perenungan untuk generasi hari ini, baik oleh para pemangku jabatan di pemerintahan maupun masyarakat Indonesia umumnya. Seakan-akan negeri ini telah terpilih sebagai negeri istimewa, yaitu yang diperjuangkan oleh seluruh anak bangsanya, bukan pemeberian penjajah, dan bukan pula hasil dari suatu golongan. Oleh karena itu, tidak benar kalau masih ada penindasan, ketakutan, dan hukum tanpa pengadilan. Tidak layak ada diskriminasi di negeri ini, yang mengistimewakan segolongan orang.

Dengan kemerdekaan, setiap orang harus dijamin untuk berserikat dan berkumpul. Begitu pula kemiskinan, ketidak-adilan, buruh yang tertindas, petani yang termarginalkan merupakan penyimpangan dari cita-cita perjuangan kemerdekaan. Bukan saja karena konstitusi kita yang bercita-cita memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi lebih dari itu, sejarah bangsa ini yang mengharuskan bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat. Dan hal itu hanya akan terwujud bila diselenggarakan oleh pemerintah yang adil, berani karena benar bukan karena tekanan oleh suatu kekuatan, dan tentunya oleh pemimpin yang memiliki cita-cita untuk menjunjung martabat bangsa.

Kini sudah saatnya petani sejahtera, Guru sejahtera, Pedagang sejahtera, Tenaga kesehatan sejahtera, pemuda sejahtera sebagai buah daru kemerdekaan. Pemerintah harus menjaga kualitas kebebasan, reformasi dan birokrasi dalam rangka mewujudkan stabilitas politik dan keamanan yang tidak refresif.

 

Selamat Hari Kemerdekaan RI 2017

Comments