SOSIALISASI 4 PILAR MPR RI: Soenmandjaja Sambangi Warga Tenjo

Tenjo – bogorinline.com – Sebagai anggota MPR, dan wakil ketua Badan Pengkajian dan Ketatanegaraan MPR RI, Soenmandjaja kembali melaksanakan tugas rutin, yakni menggelar Sosialisasi 4 Pilar di Dapilnya.

Kini Anggota Komisi III DPR RI yang juga anggota MKD DPR RI itu kembali menggelar acara Sosialisasi di Desa Singabraja, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Senin (14/08) yang lalu di hadapan para pemuda, warga masyarakat dan beberapa tokoh masyarakat. Acara tersebut dipandu oleh Serkretaris Camat Kec Tenjo, Drs Heri Heryadim.

Setelah menempuh perjalanan tidak kurang dari 4 jam dari Kecamatan Cibinong, akhirnya Tb Soenmandjaja tiba di kantor Kecamatan Tenjo, tepatnya di Desa Singabraja.

Sebelum memulai acara , Soenmandjaja mengingatkan kepada seluruh hadirin agar serius dan sungguh-sungguh mengikuti acara ini. “Acara ini sangat penting, karenanya kita harus seserius mungkin mengikuti acara ini sampai selesai,” ujar Soenman dengan penuh semangat.

Pertama, Soenmandjaja menjelaskan tentang Pancasila. Pancasila menurutnya, adalah karunia terbesar dari Tuhan Yang Mahakuasa. Ia adalah pemberian untuk Bangsa Indonesia yang beraneka ragam budaya, adat, agama dan bahasa. Ia adalah pemersatu dan ideologi bangsa. Ia merupakan falsafah bangsa.

Pancasila merupakan pilar pertama. Pancasila, jelas Soenman, adalah dasar negara. Sering juga disebut dengan dasar falsafah negara (dasar filsafat negara atau philosophische grondslag dari negara). Ia adalah ideologi negara (staatsidee). Dalam hal tersebut Pancasila dipergunakan sebagai dasar untuk mengatur pemerintahan negara. Dengan kata lain ialah , Pancasila digunakan sebagai dasar untuk mengatur seluruh penyelenggaraan negara, baik dalam penyelenggaran pemerintahan maupun dalam kehidupan sehari-hari. “Pancasila harus melekat dalam setiap lini kehidupan Bangsa Indonesia,” ujar lelaki kelahiran tahun 1957 tersebut.

Pilar kedua adalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Alenia pertama Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.”

Pernyataan tersebut memiliki makna yakni, keteguhan Bangsa Indonesia dalam membela kemerdekaan melawan penjajah dalam segala bentuk. Kedua, pernyataan subjektif bangsa Indonesia untuk menentang dan manghapus penjajahan di atas dunia. Ketiga, ia merupakan peryataan objektif bangsa Indonesia bahwa penjajahan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri keadilan. Keempat, pemerintah Indonesia mendukung kemerdekaan bagi setiap bangsa Indonesia untuk berdiri sendiri.

Pilar ketiga adalah NKRI. Tujuan NKRI adalah apa yang secara ideal akan dicapai. Tujuan NKRI Menurut Pembukaan UUD 1945 yakni: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Pilar Keempat yakni Bhinneka Tunggal Ika. Kata bhinneka berarti “beraneka ragam” atau berbeda-beda. Kata neka dalam bahasa Sanskerta berarti “macam” dan menjadi pembentuk kata “aneka” dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti “satu”. Kata ika berarti “itu”. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan “Berbeda-beda namun tetap satu juga”, yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia adalah satu kesatuan yang saling terikat. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Soenman menambahkan, “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan luas wawasannya, ” ujar lelaki yang pernah menjadi nara sumber 4 Pilar di Lemhanas tersebut. Walau dalam buku Sutasoma (Purudasanta), pengertian Bhinneka Tunggal Ika lebih ditekankan pada perbedaan bidang kepercayaan dan keanekaragam agama, namun itu sudah cukup memadai bahwa kesadaran berbhinneka Bangsa Indonesia sudah muncul sejak abad 14. “Sungguh sebuah kekaguman tersendiri buat Bangsa Indonesia,” pungkas Soenman sebelum menyudahi acara Sosialisasinya di Kecamatan Tenjo tersebut. (Nha)

Comments