Aksa 7 Bangkitkan kembali Budaya Negeri Lewat Film “Negri Dongeng”

Bogor – bogorOnline.com

 

Aksa 7 melalui Film “Negri Dongeng” mengajak generasi muda bangsa, untuk melihat Indonesia lebih dekat melalui perjalanan pendakian Tujuh Gunung Tertinggi di Indonesia.

 

Negri Dongeng, adalah film Documentary Creative yang diangkat dari kisah nyata tentang perjalanan pendakian ke puncak Tujuh Gunung tertinggi di lndonesia, yang dilakukan oleh Enam orang film maker muda Indonesia beserta satu guest expedition.

Negri Dongeng sendiri, adalah sebuah karya Film Dokumenter yang memiliki inisiatif sosial untuk menggerakkan generasi muda, agar lebih peduli terhadap potensi alam yang dimiliki Indonesia.

“Film ini digarap selama hampir 2 tahun, berlangsung sejak Pendakian pertama yang dimulai pada bulan November 2014 di Gunung Kerinci, kemudian Desember 2014 di Gunung Semeru, Januari 2015 di Gunung Rinjani, Februari 2015 di Gunung Bukit Raya, Mei 2015 di Gunung Rantemario, November 2015 di Gunung Binaiya dan ditutup dengan pendakian di Gunung Cartenz, Papua, yang termasuk dalam seven summit dunia, pada April 2016,” ungkap Sutradara Film, Anggi Frisca kepada wartawan, Minggu (10/9/17).

Anggi melanjutkan, film ini juga menghadirkan 67 public figure sebagai guest expeditor yang turut dalam tiap ekspedisi, diantaranya adalah Nadine Chandrawinata, Medina Kamil dan Matthew Tandioputra yang merupakan pendaki termuda yang telah menyelesaikan 7 puncak gunung tertinggi lndonesia.

“Perjalanan panjang seluruh tim Negeri Dongeng pun mendapat dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dan Kementerian Pariwisata Indonesian Republik Indonesia,” tuturnya.

Anggi menambahkan, bentuk dukungan juga terwujud melalui kehadiran Menteri KLHK RI Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc dan Menteri Pariwisata RI Dr. Ir. Arief Yahya, M.sc pada 17 Agustus 2017 IaIu. Sebuah harapan yang dinanti setelah menyaksikan film Negeri Dongeng Penonton mau bergerak untuk Indonesia dengan caranya masing-masing, Gotong-royong untuk Indonesia yang lebih baik dengan tidak merusak alamnya dan membangun potensi lingkungan dan wisata sebagai tulang punggung negeri ini.

“Empati , toleransi , dan gotong royong sepertinya sudah luntur di kehidupan kota. Padahal gotong royong adalah budaya negeri. Semoga film ini dapat membangkitkan lagi semangat gotong royong , membangun empati , dan toleransi terhadap lingkungan sekitar,” tandasnya. (Nai)

Comments