Ada Apa Nih Mendikbud Kumpulkan, Kepala Sekolah Kabupaten Bogor

CIBINONG-

Kasus perkelahian antar pelajar ala di Gladiator yang dterjadi di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor  dengan memakan korban ARS (16), siswa SMP Asy-Syuhada Rumpin, langsung direspon cepat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)  Republik Indonesia, Muhadjir Effendy dengan mengumpulkan seluruh Kepala Sekolah se-Kabupaten Bogor yang bertempat di Kampus Al Madinah, Cibinong pada Selasa (28/11).

Menurut Mendikbud Muhadjir Effendy mengaku prihatin atas tewasnya pelajar SMP di Kabupaten Bogor karena diduga adu kekebalan  apalagi ini melibatkan enam siswa dari dua sekolah berbeda.

“Kasus tewasnya siswa di Kabupaten Bogor bukan baru kali pertama ini. Ini harus ditelusuri karena ada sekelompok siswa yang membentuk geng dan akhirnya duel,” ujarnya

Muhadjir juga meminta kepada para kepala sekolah untuk mengawasi seluruh siswanya, jangan sampai terjebak dalam kelompok yang menyesatkan.

“Kepsek harus memperketat pengawasan, dicek apakah ada kelompok-kelompok tersebut. Kalau tidak akan terus berulang dan ini sangat mengerikan,” ucapnya

Ia juga mengatakan orang tua telah menitipkan anaknya ke sekolah. Jadi tanggung jawab guru untuk mengawasinya dan menjaga keselamatan siswa. Jangankan nyawa, masa depan siswa pun menjadi tanggung jawab guru.

“Kembalikan fungsi guru sesuai amanat Ki Hajar Dewantara. Guru jangan hanya menuntut kesejahteraan tapi tanggung jawabnya kurang,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Bogor Nurhayanti mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Bogor telah melakukan beberapa upaya melalui Dinas Pendidikan terkait dengan peristiwa tersebut mengingat peristiwanya telah memasuki dimensi kriminal, maka Dinas Pendidikan menunggu Keputusan dari pihak yang berwajib dan berkoordinasi dengan pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak yang berada dalam binaan DP3AP2KB Kabupaten Bogor.

“kita juga menyampaikan perhatian kepada keluarga korban berupa dana santunan dari musyawarah kerja Kepala Sekolah dan berkomitmen melakukan pendampingan dan layanan pendidikan kepada pelaku dan rekan pelaku untuk masa depannya,”katanya.

Lebih lanjut Nurhayanti mengatakan berkomitmen memberikan layanan pendidikan kepada para pelaku, baik formal maupun nonformal sesuai dengan peraturan yang berlaku dan menguatkan karakter melalui Tarsala, yakni Tartil, Sarti, Lakop yaitu membaca Al-Quran secara cepat 7x pertemuan, setiap pertemuan 1 jam dilakukan pada sebelum jam pelajaran dimulai.(Diskominfo/rul)

Comments