Bapaslon ESA Targetkan 32 persen Suara di Pilwalkot Bogor 2018

bogorOnline.com

Ketua Tim Pemenangan Edgar Suratman – Sefwelly Gynanjar Djoyodiningrat, Cep Al Hakim menargetkan, pasangan ESA (Edgar – Sefwelly Amanah) meraih 32 persen suara dalam Pemilihan Walikota (Pilwalkot) Bogor, Juni 2018. Salah satu upaya merealisasikan jumlah tersebut adalah dengan memfokuskan kepada pengawalan di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Selain, membentuk koordinator pada tiap – tiap kecamatan dan kelurahan.

“Di Kota Bogor ada 68 kelurahan, dan 1.784 TPS, kami akan fokus disana. Jadi akan disiapkan masing – masing dua saksi per TPS, serta dua orang untuk penggalangan massa. Sebab, per TPS rata – rata ada 400 pemilih. Dan yang perlu digaris bawahi, kami tak mau menggunakan politik menyerang calon lain, kita ingin santun,” ujar Cepi kepada wartawan, Selasa (16/1/18).

Menurut Cepi, pihaknya optimis dapat meraup 32 persen dari total suara lantaran dukungan terhadap Edgar – Sefwelly berasal dari semua golongan.

“Banyak grass root parpol mendukung. Ada juga parpol yang menyatakan dukungan secara tertulis seperti PKPI, tetapi ada juga yang tak tertulis. Misalnya, ada partai yang mendukung salah satu calon, tetapi basis massa mendukung Pak Edgar,” katanya.

Sejauh ini, Cepi mengaku telah bertemu dengan grass root dari delapan parpol, baik yang memiliki kursi di legislatif dan yang tidak.

“Ya, pokoknya warna warni, namanya juga Koalisi Rakyat Bersatu. Apalagi dua mantan walikota Pak Diani dan Pak Iswara sudah memberikan apresiasi dan dukungan,” ucapnya.

Cepi juga menjelaskan bahwa Edgar Suratman merupakan figur yang dibutuhkan Kota Bogor lantaran memiliki pengalaman di birokrasi. Selain itu, selama ini Edgar tidak mempunyai cacat sejak mulai merintis karir, dan masyarakat tahu soal hal itu.

“Kondisi Bogor saat ini seperti masalah kemacetan, korupsi,dan lain – lain, menimbulkan adanya dorongan dari warga agar Pak Edgar maju Pilkada, sehingga dapat membawa Kota Hujan ke arah yang lebih baik dengan filosofis Ngabogor,” jelasnya.

Ngabogor terdiri dari tiga, yakni Ngabogor Bodas, Ngabogor Hejo, dan Ngabogor Bulao.Bodas, sambungnya, diartikan bahwa sebagai manusia wajib hukumnya menjaga hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara Hejo diartikan bahwa manusia sudah sepatutnya menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Misalnya, tidak mengorbankan lingkungan demi kepentingan kelompok tertentu. Sedangkan Bulao berarti menjaga hubungan antar sesama manusia sebagai makhluk sosial.

“Bogor tak bisa lepas dari karakter sejarah masa lalu, kekuatan budaya dan lain –lain bila dioptimalkan, bisa membuat Bogor menjadi kota terdepan, berkarakter dan berwawasan lingkungan. Jadi Ngabogor adalah perwujudan bagaimana membangun Bogor. Di filosofi itu semua ada, hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Cepi mengakui bahwa derasnya dukungan terhadap Edgar mengalir setelah pasangan ESA mendaftar ke KPU.

“Ya, selain itu karena jauh sebelum pencalonan Pak Edgar sering menjadi khatib di masjid – masjid. Mungkin masyarakat hanya tahu bahwa beliau adalah birokrat, tetapi sebenarnya dia adalah ulama dan pengurus Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI),” pungkasnya. (Nai)