Warga Tolak Keberadaan TransMart Tajur

bogorOnline.com

Pembangunan TransMart di Jalan Raya Tajur, Kelurahan Pakuan, Kecamatan Bogor Selatan, terus menuai polemik dan sorotan. Warga yang berada di sekitar lokasi itupun mulai melakukan penolakan terhadap supermarket besar itu.

Salah satu warga di Jalan Raya Tajur, Salim Abdullah mengaku tidak setuju dengan adanya Transmart di Jalan Tajur. Selama ini Jalan Raya Tajur sering terjadi kemacetan, bahkan setiap hari libur Sabtu dan Minggu, kemacetan di Jalan Tajur sudah tidak bisa ditahan lagi.

“Sekarang saja sudah sering macet dan Jalan Raya Tajur salah satu jalan bagi para pengendara yang melintas ke arah Ciawi maupun puncak Cisarua. Kalau jalan ini sudah macet, gimana nanti ada bangunan Transmart. Kami tidak setuju dengan adanya bangunan supermarket di Jalan Tajur,” kata Salim, Selasa (30/1/18).

Kenapa demikian, lanjut Salim, sebab disepanjang Jalan Raya Tajur sudah banyak sekali bangunan bisnis komersial, ada Supermarket Ekalos Plaza Sukasari, ada cafe SLR, ada lokasi usaha Tas Tajur dan lainnya. Tidak adanya solusi maupun pembenahan penanganan jalur jalan dan transportasi di Kota Bogor, semakin menambah krodit kemacetan di Jalan Raya Tajur. Seharusnya Pemkot Bogor menyelesaikan dulu mode transportasi, seperti program konversi angkot atau rerouting angkot. Kemudian menyelesaian pembangunan Jalan R3 sebagai solusi terbaik mengalihkan kendaraan agar tidak semua fokus ke Jalan Raya Tajur.

“Siapkan dulu infrastuktur jalan pendukung sebagai antisipasi kemacetan, serta selesaikan dulu program penanganan mode transportasi, agar tidak terlalu banyak angkot melewati jalan Raya Tajur. Kalau masalah itu sudah bisa ditangani dan diselesaikan, maka tidak apa apa ada bangunan bisnis komersial raksasa apapun di Jalan Raya Tajur ini,” tegasnya.

Sementara, tokoh warga Kelurahan Pakuan, rojik menilai, pembangunan Trans Smart di Jalan Raya Tajur dan masuk wilayah Kelurahan Pakuan, akan berdampak besar terhadap lalu lintas di Jalan Raya Tajur. Memang saat ini saja di jalan tajur kerap terjadi kemacetan karena jalan itu menjadi perlintasan pengendara dari berbagai penjuru wilayah. Seharusnya Pemkot Bogor mengkaji lebih mendalam kaitan aspek lalu lintas dan dampak dampaknya bagi masyarakat, kalau memang lebih banyak dampak dan mudhorotnya, lebih baik ditolak saja pengajuan perijinannya.

“Jangan asal mengijinkan, Pemkot Bogor harus mengkaji secara keseluruhan, jangan sampai pembangunan itu nantinya merugikan seluruh masyarakat. Soal lalu lintas menjadi perhatian utama yang harus disikapi oleh Pemkot,” jelasnya.

Sebagai warga, ia pun mengharapkan dilakukannya musyawarah dengan sekuruh warga disekitar pembangunan Trans Smart itu. Ketika Pemkot Bogor belum mengeluarkan perijinan resmi, seharusnya tidak boleh ada aktifitas apapun di lokasi.

“Lihat saja mereka pihak kontraktor sudah bekerja karena alat berat juga sudah ada disana. Apakah bangunan itu sudah mengantongi perijinan. Pemkot Bogor harus menindak tegas, apabila memang ada yang melanggar aturan Perda,” tukasnya. (Nai)

Comments