JEMBATAN GERENDONG RUSAK DAN DIPERBAIKI, WARGA BERTARUH NYAWA DIATAS RAKIT

RUMPIN – Jembatan Gerendong yang saat ini sedang diperbaiki karena rusak parah, membuat jalur lintasan dari dan menuju arah Rumpin ditutup total. Penutupan jembatan penghubung antara Ciseeng dan Rumpin ini, membuat warga pengguna kendaraan bermotor harus memutar puluhan kilometer melalui jalur jembatan Leuwiranji yang menghubungkan Rumpin dan Gunungsindur.

Dengan jarak tempuh yang cukup jauh dan waktu tempuh yang lama, banyak warga masyarakat dan pengendara sepeda motor, memilih jalan pintas menyeberangi sungai Cisadane menggunakan rakit bambu atau istilah di wilayah Rumpin disebut Getek. “Kalau memutar jalan ke arah Gunungsindur jaraknya sangat jauh. Apalagi jalan di wilayah tengah kecamatan Rumpin masih rusak parah. Jadi kami terpaksa naik Getek (rakit bambu-red) agar bisa lebih cepat sampai rumah,” ujar Pipih (36) warga Desa Rumpin, kepada wartawan ketika hendak naik rakit bambu, Senin (12/3/2018).

Pipih menuturkan, pilihan menggunakan jasa rakit bambu untuk menyeberang sungai Cisadane sebetulnya bukan pilihan terbaik. Dirinya mengaku ada rasa khawatir dan takut, saat berada di atas rakit bambu. “Ya takut sih ada, maklum sungai Cisadane kan airnya deras dan dalam. Tapi bagaimana lagi, saya pulang selalu sore jelang magrib. Dirumah’ harus kerja sebagai ibu rumahtangga. Semoga jembatan Gerendong cepat selesai perbaikannya.” Imbuh ibu yang mengaku mempunyai 2 orang anak ini.

Warga pengguna rakit bambu bukan hanya orang dewasa, tapi juga anak – anak. Para penumpang memang membayar tidak terlalu mahal untuk menyeberang sungai Cisadane tersebut. Hal ini juga membuat banyak warga memilih naik rakit bambu daripada harus berputar jauh melalui Ginungsindur. “Ongkos naik Getek murah. Memang khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Apalagi bagi yang tidak bisa berenang.” Ujar Abdulah (43) warga Desa Kampung Sawah.

Sementara salah seorang tokoh masyarakat Rumpin Asep mengatakan, rusaknya jembatan Gerendong harus menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Bogor. Menurutnya, seharusnya kerusakan bisa diperbaiki sebelum kondisinya parah. “Kita semua kan tahu, jalur jalan utama di wilayah Rumpin pasti dilewati kendaraan tronton pengangkut hasil tambang. Jadi kualitas jalan harus terus diperhatikan,” paparnya.

Asep menambahkan, perawatan dan perbaikan infrastruktur di Rumpin harus dilakukan secara simultan. Masalahnya, lanjut Asep, banyak kendaraan pengangkut tambang yang membawa muatan hasil tambang melebihi kapasitas tonase kekuatan jalan. “Dinas Perhubungan harus lebih ketat dalam bekerja. Jangan biarkan jalan Rumpin terus dirusak. Kalau pos Dishub gunanya untuk apa? Kan mengawasi bukan untuk melakukan pungli.” Tandasnya. (MUL)

Comments