Perjuangan Hidup Sang Ayah

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya

Ku terus berjanji tak khianati pintanya

Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu

Kan kubuktikan ku mampu penuhi maumu”

Sepenggal lirik lagu berjudul “Yang Terbaik Bagimu” dari Ada Band ini amatlah tepat untuk melukiskan perasaan seorang anak kepada ayahnya. Bagiku, Ayah adalah sosok yang tegas dan pekerja keras. Dalam kamus hidupnya tak ada kata “menyerah”. “Kamu pasti bisa!” merupakan kalimat sakti yang selalu terucap dari mulutnya ketika menyemangatiku.

Ayah yang lahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara di keluarga sederhana ini sejak kecil telah dididik oleh orang tua dan kakak-kakaknya, jika ingin memperoleh sesuatu, haruslah melalui kerja keras, usaha, dan doa. Itulah yang membentuk karakter Ayah hingga dewasa dan akhirnya ditularkan kepada anak-anaknya.

Segala pekerjaan ia jalani dengan ikhlas, mulai dari kerja serabutan menjadi kuli, menjadi pengawas proyek pembangunan saluran air, tenaga pendidik honorer sampai akhirnya sebuah ungkapan “usaha tak mengkhianati hasil” itu benar adanya. Sekarang Ayah telah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Ayah pernah bilang, di dalam kehidupan ini tak ada manusia yang tidak pernah diuji. Semua manusia pasti akan diuji oleh Allah SWT sesuai dengan kemampuannya.

Begitu pun dengan Ayah, di sepanjang hidupnya tidak selalu mulus-mulus saja, Ayah pernah mengalami yang namanya keterpurukkan. Saat Ayah kehilangan putri pertamanya yang terlahir prematur, yaitu kakakku. Itu merupakan sebuah pukulan berat bagi Ayah. Bagai jatuh tertimpa tangga, saat itu kondisi Ibu juga jadi kehilangan semangat hidup dan Ayah dibohongi oleh rekan kerjanya, semua uang yang telah Ayah kumpulkan dari hasil kerja di proyek seketika raib dibawa pergi. Namun Ayah sadar, ia adalah seorang kepala keluarga. Tak mau berlarut-larut dalam kesedihan, akhirnya ayahku bisa bangkit karena dukungan dari saudaranya.

Saat Ibu sedang mengandungku, timbul kekhawatiran Ayah dengan peristiwa terdahulu hingga menganjurkan Ibu untuk melahirkan di kampung halaman dengan dampingan orang tuanya. Waktu itu Ayah segera mengambil tindakan, menggantikan posisi Ibu sebagai tenaga pengajar di Panti Latihan Karya yang sekarang dikenal sebagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Jagakarsa. Hingga akhirnya dari situ, Ayah mendapatkan penghasilan tetap walau dengan honor sebesar Rp 85.000. Tetapi tekad yang dibarengi dengan usaha menyambi berjualan sovenir serta minuman kesehatan itu bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Teringat aku akan kenangan masa kecil bersama Ayah, saat itu Ayah juga punya peran ganda, merawatku di rumah ketika Ibu sedang mengajar. Jika kebetulan Ayah sedang tak ada jadwal bekerja. Kami biasa menghabiskan waktu bersama bermain di pekarangan rumah atau melakukan hobi favorit kami, karaokean.

Tak seperti dulu, apapun yang telah ku lalui seharian pasti akan ku ceritakan pada Ayah. Semakin dewasa, anak perempuannya ini semakin jarang memperbincangkan banyak hal dengan Ayah. Hal itu yang membuat seringnya terjadi kesalahpahaman antara aku dan Ayah hingga menyebabkan pertengkaran. Terkadang aku kesal lantaran Ayah sering memarahiku tanpa tahu sebabnya. Tapi bagi Ayahku, ia tak mau anaknya menjadi orang yang “lemah”. Terkadang kata-kata pedas sering Ayah lontarkan pada anaknya ini agar aku menjadi anak yang kuat, yang bisa menghadapi badai kehidupun seberat apapun. Ia ingin aku menjadi perempuan yang mandiri.

Perasaan sayang seorang Ayah kepada anaknya memang tak mudah untuk diucapkan, tapi aku bisa merasakannya lewat perbuatan. Ayah akan mengupayakan segala cara agar anak-anaknya bahagia. Bekerja dari pagi hingga larut malam untuk mencari nafkah guna biaya pendidikan anak-anaknya. Pastinya Ia lelah, tapi hampir tak pernah kudengar keluh kesahnya. Motto hidupnya yaitu “Tiada kemulian tanpa perjuangan dan pengorbanan”. Ayahku rela berkorban menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah, hingga kadang membuatnya jarang bertemu anak-anaknya. Bagiku, perjuangan Ayah sangat mulia. Ia memang tak sedekat Ibu, tapi aku bisa sampai seperti ini, mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi berkat hasil kerja keras Ayah.

Kini Ayah semakin menua, terlihat jelas dari sebagian besar rambut putih dibalik rambut hitamnya. Namun, semangatnya dalam bekerja masih kurasakan. Harapan Ayah hanya satu, yaitu melihat anak-anaknya bahagia dan harapanku sebagai anaknya, ingin Ayah selalu sehat, agar bisa menikmati masa tua bersama Ibu dengan hasil kerja keras anak-anaknya. Terima kasih Ayah, perjuangan hidupmu akan kujadikan contoh untuk menjalani kehidupan ini. (Almira Putri Kirana/PNJ)

Comments