RINTIHAN SUMBANG KORBAN KECELAKAAN TRUK TAMBANG

 

RUMPIN – Pagi nan sepi, seorang pemuda mencoba turun dari sebuah balai bambu. Dengan sedikit “ngesod” dia julurkan kedua kakinya ke bawah, kedua tangannya menggapai tongkat yang setia menemani kehidupannya selama ini. Mencoba berjalan ditopang tongkat besi, Ragil Hermawan (19) warga Kampung Gunung Cabe RT 01 RW 04 Desa Cipinang Kecamatan Rumpin.

Ketika mencoba berjalan mencari kebugaran tubuh di sela lingkungannya yang penuh debu akibat eksplorasi dan angkutan tambang. “Saya tidak ingin terus menerus larut dalam kesedihan,” ungkapnya lirih saat ditemui awak media ini di rumahnya, Selasa (17/7/2018).

Ragil Hermawan adalah salah seorang korban selamat dari kecelakaan yang melibatkan angkutan tambang yang berlalu lalang di jalan utama daerah ekplorasi tambang di tiga kecamatan yang ada di bagian barat laut dan utara Kabupaten Bogor, tepatnya Kecamatan Rumpin, Parungpanjang dan Gunungsindur.

Dirinya menuturkan, selamat dari tabrakan maut pada tahun 2017 lalu. Akibat dari kecelakaan itu ia sempat kritis. “Alhamdulillah saya masih hidup, meski kaki sebelah kiri saya patah dan hancur. Saya hanya bisa pasrah dan berharap dapat segera sembuh,” ujarnya.

Anak kedua dari empat bersaudara putra pasangan suami istri Hasanudin dan Nyai Rosmayanti ini, mengalami musibah kecelakaan setelah satu minggu menerima pengumuman kelulusan sekolah. Ketika itu, dirinya yang mengendarai sebuah mobil avanza tertabrak kendaraan truk tronton pengangkut tambang di ruas jalan Prada Samlawi Desa Kampung Sawah, Kecamatan Rumpin.

“Yang saya ingat waktu itu, mobil Avanza yang saya tumpangi tertabrak hingga terpental masuk kebawah mobil truk tambang. Dan saya baru sadar saat sudah ada di Sukabumi. Begitu melihat, ternyata kaki saya hancur terlindas truk. Kata ibu saya, saat itu saya mengalami koma kurang lebih selama 3 bulan,” tutur Ragil sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya.

Ragil menceritakan, untuk biaya perobatan selama di Sukabumi, semua ditanggung orang tuanya. Dia mengaku sedih, karena kedua orang tuanya sudah pisah sejak lama. Kini Ragil, hanya bisa berdiam diri sambil melanjutkan belajar menuntut ilmu agama di sebuah pondok pesantren yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Untuk melaksanakan sholat Jum’at ke sebuah masjid yang berjarak ratusan meter dari rumahnya, Ragil harus berjalan menggunakan tongkat. “Bahkan ketika saya berziarah kemana-mana, tongkat inilah yang menjadi teman saya. Setiap hari saya harus pakai tongkat. Karena kalau tidak memakai tongkat, saya tidak bisa jalan,” ujarnya.

Ragil hanya bisa pasrah dan berserah diri, dengan kondisi kakinya yang belum sembuh total. Dia mengaku berusaha bersabar meski terkadang harus merasakan kesedihan mendalam saat melihat teman – teman seusianya main. Sebelum kejadian, Ragil dikenal sebagai anak yang pandai dan taat terhadap orang tua. “Saya hanya pasrah dan selalu berdoa, serta yakin jika suatu saat nanti kaki saya akan sembuh total,” ucapnya.

Sementara ibu kandung Ragil Hermawan, Nyai Rosmayanti (40) mengaku prihatin dan sedih saat melihat kondisi anak lelaki kesayangannya yang masih terbilang muda. Dengan kondisi kaki yang remuk, tutur Nyai Rosmayanti, anaknya menjadi kesulitan untuk belajar mengaji. Meski begitu Dia berharap anaknya bisa sembuh sepeti anak-anak pada umumnya.

“Sudah setahun anak saya mengalami kecelakaan. Sedangkan untuk berobat kesana kemari, saya pakai uang sendiri. Adapun bantuan dari pengendara dan perusahaan truk tambang itu, hanya sebatas tanggung jawab saat awal kejadian saja,” ujarnya.

Nyai Rosmayanti berharap, anak kesayanganya bisa menerima dengan sabar takdir Tuhan tersebut. Meskipun pasca kecelakaan tersebut, Ragil tidak bisa kemana-mana, karena kaki kirinya belum sembul total. “Saya kasihan kalau melhat anak saya seperti itu, tapi mau bagaimana lagi? Sudah nasib yang harus saya terima seperti ini,” ujar Nyai Rosmayanti dengan raut wajah penuh kesedihan. (MUL)