Sukses Ekonomi Porda “Memble”

Cibinong – Pemerintah Kabupaten Bogor selain menargetkan sukses penyelenggaran dan sukses juara umum dalam perhelatan Porda XIII Jawa Barat, sukses Ekonomi juga menjadi target nya.

Konsepnya, penyelenggaraan Porda 2018 diharapkan dapat mendongkrak ekonomi kerakyatan yang notabene merupakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Namun disayangkan, upaya Sukses Ekonomi Porda ini tidak sejalan dengan konsep yang dijalankan dalam Pesta Raya Bogor, karena sejumlah pelaku UMKM yang menjajakan stand malah mengeluh sepi nya pengunjung karena ditempatkan di lokasi yang kurang representatif.

Berbeda dengan stand yang ditempati oleh pedagang umum, selain dekat dengan panggung utama yang selalu ramai pengunjung, dan memang lokasi nya sangat representatif.

Karena perbedaannya, informasi yang diperoleh, stand UMKM tidak dipungut biaya, sedangkan pedagang umum yang jumlahnya ratusan dipatok harga sekitar Rp 2 sampai dengan Rp 4 juta per stand.

Ketua Forum UMKM Kabupaten Bogor Hasan Haikal Thalib kepada wartawan mengungkapkan, bahwa pihaknya tidak dapat berbuat banyak, karena pelaku UMKM yang ada di Pesta Raya Bogor hanya berjumlah 18 stand.

“Meskipun gratis, pelaku UMKM pada mengeluh, karena sepi nya pengunjung dan lokasi stand UMKM ditempatkan bukan dilokasi yang banyak lalu lalang pengunjung,” kata Haikal, Selasa (09/10).

Ia menyayangkan, masuk nya lokasi area Pesta Raya Bogor di area parkir Stadion Pakansari dikenakan biaya kepada pengunjung. “Salah satunya karena masuk nya bayar, jadi sepi,” imbuhnya.

Sementara itu, penanggung jawab Sukses Ekonomi Porda XIII Jawa Barat 2018, Roni Sukmana yang juga kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Bogor ketika dihubungi mengatakan, bahwa para pelaku UMKM diberi kesempatan untuk menjual dan memperkenalkan produknya kepada para masyarakat Jawa Barat yang sedang mengikuti event Porda.

“Jadi ada dua jenis stand, untuk UKM gratis ada di stand BJB, dan yang bayar melalui EO yang ditunjuk PB Porda dengan sistem sponsorship untuk penyelenggaraan Pesta Rakyat Bogor yang mereka kelola,” ungkapnya.

Penyelenggara event Pesta Raya Bogor, Burhani berdalih, bahwa adanya biaya yang dibebankan kepada pengunjung bukan komersil. “Pengunjung memang dikenakan biaya Rp 5 ribu, tapi mendapatkan air mineral, adapun keuntungan yang didapat untuk donasi korban bencana Palu dan Donggala,” kata Burhani.

Ketua KNPI Kabupaten Bogor ini juga mengelak, jika penempatan pelaku UMKM di tempatkan di tempat yang kurang representatif. “Tidak ada penempatan yang representatif dan tidak representatif, semuanya sama saja karena diareal yang sama,” tukasnya. (adi)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *