Mengkaji Akhir Konstruksi Masjid Agung

Kota Bogor – bogorOnline.com

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) melalui Pusat Penelitian Pengembangan Perumahan dan Pemukiman (Puslitbang Perumkim) akan melakukan kajian konstruksi Masjid Agung selama sebulan kedepan.

Tim Puslitbang Perumkim yang dipimpin langsung oleh Arief Sabaruddin mendatangi lokasi proyek masjid yang berada di Jalan Dewi Sartika, Cibogor, Bogor Tengah pada Kamis 8 Agustus 2019. Tampak mendampingi Wali Kota Bogor Bima Arya dan wakilnya Dedie A. Rachim beserta jajaran terkait.

Kepada awak media, Bima Arya mengatakan, bahwa Puslitbang Perumkim mulai saat ini akan melakukan proses kajian akhir konstruksi Masjid Agung. Kajian yang dilakukan selama satu bulan itu untuk menghasilkan rekomendasi terkait kekuatan konstruksi yang akan menjadi landasan dalam penyusunan revisi Detail Engineering Design (DED).

“Dari sinilah kita kemudian akan menyusun kembali revisi dari DED yang ada. Kenapa? Karena bisa saja ini lanjut dibangun, tapi resiko karena dari awal sudah ada kesalahan konstruksi, kira-kira begitu. Tapi sejauh mana kesalahan kontruksi ini bisa dikembangkan lagi untuk pembangunan lanjutan, ini mengunggu hasil kajian,” ujar Bima.

Dalam revisi DED yang akan dilaksanakan pada 2020 tersebut terdapat beberapa penyesuaian terhadap konstruksi masjid saat ini. Setelah itu barulah dilanjutkan pembangunan Masjid Agung.

“Jadi design and build tahun depan. Mudah-mudahan tahun 2021 (Masjid Agung) rampung. Yang penting adalah keselamatan dulu. Nanti revisi desain mengacu kepada rekomedasi dari Puslitbang,” imbuhnya.

Dijelaskan juga olehnya, terhadap kesalahan kontruksi nanti akan dilihat oleh Puslitbang pada titik-titik mana saja yang tidak sesuai dan lain-lain. Namun demikian meski tidak secara detail, ia mengatakan, bahwa kesalahan kontruksi dari awal sudah ditemukan oleh inspektorat provinsi Jawa Barat pada 2017.

“Tapi dari awal sudah ditemukan oleh inspektorat provinsi Jawa Barat bahwa ada yang tidak sesuai di lapangan,” ungkapnya.

Bima memastikan dalam pembangunan lanjutan Masjid Agung nanti tidak akan ada pembongkaran bangunan tapi hanya penyesuaian pada desain. “Untuk anggaran (Rp 15 miliar) yang ada, direlokasi untuk kebutuhan lain di perubahan. Tahun depan dianggarkan kembali,” imbuhnya.

Kedepan, masih kata Bima, kawasan ini akan menjadi ikon baru bagi Kota Bogor. Sebab, pembangunan Masjid Agung bersamaan dengan alun-alun Kota Bogor yang merupakan eks Taman Topi dan Taman Ade Irma Suryani disinkronkan dengan Blok F Pasar Kebon Kembang termasuk stasiun Bogor.

“Kita sinkronkan semuanya, Masjid Agung, Taman Bogor, Blok F dan stasiun Bogor,” tandas politisi PAN itu.

Di tempat yang sama, Arief Sabaruddin mengatakan, bahwa pihaknya saat ini baru mau memetakan terkait seberapa besar daya dukung bangunan masjid. Ia juga mengatakan, untuk pembangunan lanjutan masjid nanti tanpa ada pembongkaran pada kontruksi yang ada.

“Insya Allah tidak ada yang mubazir dan kita bisa melanjutkan tanpa ada sedikit pun yang terbuang lagi dari sini. Sinkronisasi masjid dengan alun-alun, blok F termasuk stasiun Bogor akan menjadi sebuah kawasan yang ikonik. Jadi kita tidak bicara nanti masjid single building tapi kawasan terpadu,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan Arief, kajian selama satu bulan itu meliputi juga uji laboratorium, termasuk solusi-solusi dan pengadaan pembangunan masjid diusulkan seperti halnya multiyears. “Tim baru saja masuk menelaah hasil-hasil dari institusi yang lain. Kita baru menelaah itu dan dokumen-dokumen. Setelah satu bulan, PUPR akan mengeluarkan report-nya,” tuturnya.

Sebelumnya, Komite Keselamatan Bangunan Gedung pada KemenPUPR melakukan audit konstruksi Masjid Agung yang ditandai kedatangan ke lokasi pada Senin 8 Juli 2019. Kedatangannya didampingi langsung Wakil Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim.

Anggota Komite Keselamatan Bangunan Gedung KemenPUPera, Jimmy Siswanto mengatakan, audit konstruksi ini sesuai dengan permintaan Wali Kota Bogor Bima Arya sebelum pembangunan dilanjutkan. Mengingat ada beberapa komponen yang menjadi perhatian setelah mengelilingi masjid setengah jadi tersebut.
Kompenen-komponen dimaksud terutama pada konstruksi teknis, seperti pelat, balok, kolom, sambungan hingga kemungkinan adanya kelemahan pada bangunan. Audit konstruksi ini sebagai bentuk kajian sebelum melanjutkan penyelesaian pembangunan masjid yang sempat tertunda.

“Hasil peninjauan hari ini akan kami buat kajian secara komprehensif yang kemudian akan dikeluarkan rekomendasi apakah layak atau tidak untuk dilanjutkan atau dipertahankan dengan perbaikan, atau penyesuaian baik fungsi atau fisik dan sebagainya,” kata Jimmy waktu itu.

Sementara itu, Ketua Tim Audit Iswandi menuturkan, bahwa hasil dari kajian audit konstruksi Masjid Agung ini akan memakan waktu minimal satu bulan karena harus mengkaji dan identifikasi dokumen perencanaan dan pelaksanaan, termasuk perhitungan gambar rencana detail sambil meminta Pemerintah Kota Bogor melihat kedalaman kualitas konstruksi.

“Ini kan masjid jadi sesuai ketentuan harus punya faktor keamanan yang harus jauh lebih baik dari bangunan lainnya bahkan menjadi tempat evakuasi ketika ada bencana. Makanya keamanan harus tinggi dan ini juga akan keluar dari rekomendasi kami minimal mencapai safety minimum,” tegasnya. (HRS)