Warga Penolak Apartemen GPPC Geram Spanduknya Dicopot

Kota Bogor – bogorOnline.com

Warga Bogor Baru, Tegallega, Bogor Tengah, Kota Bogor akan segera mengirimkan surat audiensi kepada Wali Kota Bogor perihal keluhan keluarnya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Apartemen Grand Park Pakuan City (GPPC) di wilayahnya. Warga juga geram dengan hilangnya spanduk aspirasi penolakan di rumah-rumah warga.

“Kami besok akan mengirimkan surat permintaan audiensi dengan wali kota,” ungkap Koordinator warga Tegallega Imam Supriyadi, Kamis 8 Agustus 2019.

Imam melanjutkan, perihal adanya spanduk-spanduk warga yang hilang dicuri oleh sekelompok orang. Pihaknya mendapati seorang yang terpegok tengah mencabut sepanduk tersebut dan mengaku bahwa mereka mencabut atas instruksi oleh pihak Kelurahan Tegallega dan tokoh masyarakat.

“Saat dikonfirmasi ke bapak Lurah Tegallega ternyata tidak benar, tidak ada instruksi itu dari pihak kelurahan. Kami merasa kehilangan property aspirasi kami sebagai warga yang peduli lingkungan Bogor yang asri. Spanduk Aspirasi kami yang mengingatkan kepada jajaran Pemkot Bogor yang menerbitkan IMB yang cacat prosedur dan cacat hukum,” tuturnya.

Imam mengaku, bahwa spanduk yang dipasang di pagar rumah warga yang menolak apartemen GPPC, para warga juga sah dan membayar PBB puluhan tahun. Dirinya beranggapan bahwa tokoh masyarakat tersebut bertindak sendiri tanpa adanya intruksi pihak kelurahan. Disebut tokoh masyarakat, tetapi tidak mencerminkan pembelaan pada warga.

“Malahan kok memfasilitasi pihak apartemen yang IMB-nya cacat prosedur dan hukum. Perlu dipahami undang-undang melindungi warga terdampak. Kami bukan mencari pendapat orang atau menggunakan istilah pro dan kontra, ini produk adu domba. Dan umumnya digunakan oleh pengusaha nakal yang mengajak aparat ikut menggunakan istilah itu. Mari lihat undang-undang tentang prosedur izin lingkungan dan AMDAL, yang menggunakan istilah warga terdampak bukan pro dan kontra. Jadi percuma dibuat daftar nama orang yang diajak pro, jika tidak terdampak. Itulah sumber cacat prosedur dan hukumnya,” paparnya.

Pihaknya hingga hari ini belum memasang kembali karena menunggu respon dari lurah agar menegur tokoh masyarakat tersebut untuk mengembalikan spanduk. “Jika tidak dikembalikan maka kami akan protes lagi ke lurah yang mengabaikan keluhan warga. Dan kami baru akan pasang spanduk lagi,” terangnya.

Terpisah, Lurah Tegallega Ervin Yulianto saat dikonfirmasi mengatakan, bahwa pihaknya tidak pernah mengintruksikan untuk mencabut spanduk warga yang menolak apartemen, namun dari informasi yang mencabut warga juga yang keberaratan dengan adanya spanduk tersebut karena isinya terkesan kurang elok.

“Kalau saya begini, sekarang kondusif. Kalau yang menolak itu bisa menolak ke PTUN. Tempuhlah jalur itu, kalau sepanduk hanya menyampaikan aspirasi penolakan,” ucap Ervin kepada awak media. (HRS)