Capai Titik Temu, Pemkot Ubah Lebar Pedestrian Surya Kencana

Bogor Tengah – bogorOnline.com

Polemik proyek pedestrian jalan Surya Kencana tahap dua yang menyita perhatian publik belakang ini akhirnya menemui titik temu penyelesaian atau win win solution pada Jumat sore, 20 September 2019.

Pertemuan antara Wali Kota Bogor Bima Arya dengan Sekretariat Pagoejoeban Kampung Tengah (Sepakat) yang merupakan komunitas warga Surya Kencana Bogor berbuah kesepakatan utamanya terkait lebar pedestrian.

“Kita sudah mencapai titik temu. Jadi untuk ukuran jalan ditambah 0,5 meter, (trotoar) tidak 3,5 meter. 0,5 meter itu karena kita perlu untuk membuat PJU (Penerangan Jalan Umum),” kata Bima Arya seusai pertemuan pada Jum’at sore, 20 September 2019.

Lebih lanjut kata Bima, mengenai fasilitas parkir kendaraan nanti apakah diterapkan formasi serong atau pararel menunggu hasil simulasi yang dilaksanakan setelah pembangunan selesai. Terkait ini, sikap pemerintah akan menyesuaikan diri saja.

“Kalau kita fleksibel, boleh serong atau pararel tergantung simulasi nanti. Untuk konsepnya tetap tidak ada sirip Naga dan celukan. Eksisting (trotoar) ditambah 0,5 meter jadi 3 meter,” imbuhnya.

Bima mengiakan dengan adanya perubahan ukuran itu dimungkinkan terjadi perubahan desain. Meski tak secara detail, ia juga menegaskan bahwa proyek yang dibiayai APBD 2019 senilai Rp 14,2 miliar ini tengah proses pekerjaan oleh PT. Pulau Biru Ansor.

Terpisah, Koordinator Sepakat, Mardi Lim cukup mengapresiasi solusi yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Pertemuan ini juga dihadiri Ketua DPC PDI Perjuangan Dadang Iskandar Danubrata dan anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan Atty Somaddikarya serta jajaran dinas terkait.

Ia melanjutkan bahwa wali kota sudah memastikan salahsatunya untuk lebar trotoar diubah menjadi 2,5 meter dari awalnya 3,5 meter bahkan ada 4 meter dibeberapa titik karena mengacu pada lebar ruas jalan nanti 7 meter.

“Tapi untuk usulan warga terhadap fasilitas parkir yang dibuat menyerupai sirip Naga sebagai ciri khas kawasan untuk menarik dikunjungi, seandainya dianggap membahayakan secara fisik dan pengendara kajian dari Dinas PUPR dan Dishub maka warga membuka ruang untuk diubah dari 3 dimensi menjadi 2 dimensi bentuk gambar atau warna. Sebenarnya tujuan dari ini untuk memandu para pengendara parkir serong,” imbuhnya.

Ia juga berharap simulasi dapat dilaksanakan dalam waktu dekat untuk menentukan formasi parkir serong atau paralel termasuk penyesuaian akses keluar masuk nanti bagi warga.

“Kami harapkan berbagai perubahan ini nanti bisa diperiksa kembali bersama-sama dan ditandatangani sebagai kesepakatan,” ujarnya.

Disinggung soal 18 celukan di beberapa titik di kawasan tersebut, Mardi menjelaskan, bahwa dalam pertemuan memang tidak mengemukakan secara frontal. Namun terkait ini ada isyarat ‘lampu hijau’ dari wali kota untuk warga berkolaborasi dengan Dishub bersama-sama mencari solusi terbaik.

Sementara itu, Atty Somaddikarya mengemukakan dirinya sebagai pelayan masyarakat sudah menyampaikan seluruh aspirasi warga kepada wali kota dan jajarannya agar ditampung dan ditemukan jalan terbaik untuk seluruh masyarakat.

“Sudah disampaikan aspirasinya, dan dikembalikan lagi hasilnya seperti apa, yang penting tidak merugikan warga setempat atas revitalisasi dengan anggaran 14,2 miliar dan harus saling menguntungkan, untuk apa menjadi kota hebat jika sebagai rakyat tidak menikmati, setiap pembangunan pasti ada pro kontra tapi harus mampu di selesaikan secara musyawarah dengan catatan tidak menabrak regulasi atau aturan yang ada,” tegasnya. (HRS)