by

DPS Tunggu Komitmen Wali Kota soal Stunting

BOGORONLINE.com, Kota Bogor – Stunting, kondisi tinggi badan anak lebih rendah dibandingkan anak seusianya, yang salahsatunya disebabkan kekurangan gizi pada masa kehamilan, menjadi masalah kesehatan di Kota Bogor disorot oleh Anggota Komisi IV DPRD Kota Bogor, Devie Prihartini Sutani (DPS).

Politisi NasDem ini mengharapkan kasus stunting di Kota Bogor diminimalisir bahkan kota berjuluk kota hujan ini dapat menyandang gelar kota zero stunting.

Menurut Devie, seharusnya di kota-kota utama termasuk seperti Kota Bogor yang sangat dekat dengan wilayah pemerintah pusat, masalah stunting harus menjadi perhatian utama.

“Angka 2 dari 10 balita itu masuk dalam kategori yang sangat tinggi artinya dari 100 balita ada 20 anak balita atau 20%. Disinilah seharusnya wali kota Bogor memberi perhatian yang lebih dan alokasi yang lebih lagi terhadap situasi sebagamana hasil study Kementerian RI terkait stunting di Kota Bogor,” kata Devie, Rabu (26/02/2020).

Dalam hal ini, ia juga tentunya berharap betul ada komitmen yang kuat dari wali kota beserta seluruh jajarannya, Dinas Kesehatan, kecamatan hingga kelurahan untuk memberikan perhatian yang lebih agar kasus stunting dapat diminimalisir bahkan diharapkan Kota Bogor dapat menyandang gelar kota zero stunting.

“Kami (Komisi IV) menyarankan agar kecamatan dan kelurahan dapat memantau lebih dekat lagi sampai ke gelaran kegiatan rutin bulanan Posyandu untuk melihat langsung bagaimana kondisi balita peserta Posyandu di wilayahnya masing-masing dan kami juga berharap agar alokasi supporting untuk kegiatan rutin Posyandu di tingkatkan,” paparnya.

Pemantauan langsung di kegiatan rutin bulanan Posyandu, lanjut dia, sebagai langkah upaya antisipasi lebih dini apabila terlihat gejala-gejala stunting ditengah-tengah masyarakat. Dan tentunya kegiatan tersebut perlu didukung dengan anggaran.

“Iya tentu akan terkait dengan besaran alokasi anggaran dan oleh karena itu kami DPRD memberikan dukungan semaksimal mungkin bilamana pemkot dan jajarannya serius dalam melakukan upaya-upaya yang dianggap penting dan perlu dalam menuntaskan masalah stunting di Kota Bogor ini,” ujar dia.

Dirinya mencontohkan Pemkot Bogor dapat mewujudkan komitmen itu dengan menaikan anggaran Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Posyandu, karena bagaimana mungkin masyarakat di tingkat paling bawah bisa terpenuhi gizi kalau anggarannya minim.

“Jadi kami tunggu komitmen wali kota untuk hal tersebut,” pungkasnya.

Sebelumnya, Plt. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Sri Nowo Retno dalam keterangannya mengatakan, terkait laboratorium pihaknya belum mengetahui secara detail, hanya saja memang ada kesepahaman Litbang Kemenkes dengan Pemerintah Kota Bogor tentang percepatan penurunan stunting.

“Jadi kami sinergi untuk kegiatan yang sama atau ada kegiatan baru akan di detailkan lebih lanjut,” kata Sri waktu itu.

Ia menerangkan, bahwa data stunting Kota Bogor pada 2019 berdasarkan data by name by address berada di angka 4,52 persen atau dari 100 ribu bayi sekitar 4,5 ribunya bayi stunting. Angka ini relatif lebih rendah karena Kota Bogor tidak masuk di locus stunting.

Pihaknya menyatakan melakukan intervensi stunting dengan cara spesifik, yakni memberikan layanan kesehatan dari mulai remaja, Calon Pengantin (Catin), Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Bayi dan Balita.

“Kalau fokus di 1000 hari kehidupan terhitung dari mulai hamil walau masih banyak orang yang telat tahunya. Sebaiknya belum hamil atau merencanakan hamil harus makan yang sehat, gizi seimbang, lakukan isi piringku, kalori cukup, jenis beragam dan micronutrient vitamin dan mineral yang ada di sayur dan buah,” jelasnya.

Sri menambahkan, Pemkot Bogor saat ini fokus pada kesehatan ibu hamil sebagai awal terjadinya stunting. Mengingat faktor stunting yang rumit karena tidak hanya faktor kesehatan saja tetapi juga bisa dari faktor ekonomi, lingkungan, pengetahuan ibu memilih makanan dan lainnya. Sehingga diperlukan kepedulian dari semua tidak hanya Pemerintah Kota tapi juga masyarakat juga.

“Harapannya kami lima tahun kedepan bisa menghilangkan stunting atau harus nol dan ini bisa terwujud jika tidak ada kasus stunting baru,” tandasnya. (Hrs)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed