by

Memaknai Arti Samidha Dalam Prasasti Batu Tulis

BOGORONLINE.com, Tamansari – Nama Samidha terdapat dalam prasasti batu tulis yg dibuat oleh Prabu Surawisesa untuk mengenang ayahandanya Sri Baduga Maharaja.

Nama Samidha menjadi bahan menarik untuk diteliti seperti apakah pohonnya dan apakah gunanya?.

Baru-baru ini ada yang mengklaim bahwa Samidha itu adalah pohon ploso. Dasar nama pohon ploso dikarenakan samidha adalah bahasa sansekerta dan di india yang namanya kayu samidha adalah pohon plasa atau ploso yang biasa dipakai untuk memuja dewa api dalam agama Hindu.

Akan tetapi, saat itu orang Sunda Pajajaran bukanlah menganut agama Hindu, tapi agama Sunda.

Berdasarkan naskah pantun Bogor menceritakan, Kayu samida adalah kayu yang wangi untuk ngukus, mudah terbakar dan berwarna hitam.

Menurut pantun bogor, wanginya kayu samidha bisa menembus 9 mandala dan bisa untuk memanggil karuhun turun ke bumi. Pada saat itu kayu samidha juga dipakai untuk mengkremasi raja-raja besar dan untuk memohon doa kepada sanghyang tunggal.

Jadi jelas pemakaian kayu samidha bukanlah untuk pemujaan dewa api.

Berdasarkan penulusuran ditemukanlah suatu situs di rancamaya. Kuncen situs tersebut mengatakan, dia pernah merawat pohon samidha sebelum pohon tersebut tumbang pada tahun 1975.

Menurut kuncen tersebut pohon samida kulitnya pecah-pecah seperti kulit pinus, kayunya hitam dan daunnya seperti pohon beringin.

Lalu ditelusuri oleh saya jenis-jenis pohon yang kayunya wangi dan mengandung getah dan mudah terbakar. Terdapat pohon seperti Cendana, Aras, Damar dan 15 jenis pohon Gaharu.

Dari semua pohon tersebut diambil contoh foto kayunya dan oleh team kami disodorkan kepada bapak kuncen tersebut. Lalu beliau menunjuk satu kayu pohon yang bernama pohon gaharu beringin, yaitu pohon gaharu yang mempunyai nilai jual paling tinggi.

Adapun nama latinnya adalah Aquilaria Malaccensis. Jadi tidak salah jika kuncen tersebut bilang daunnya seperti pohon beringin. Karena gaharu beringin dinamakan seperti itu, memang daunnya menyerupai daun dari pohon beringin.

Kenapa Prabu Sribaduga membuat hutan Samidha?.

1. Karena pohon gaharu beringin bukanlah tumbuhan asli jawa barat atau pulau jawa. Sehingga perlu ditanam dan diperbanyak.

2. Pohon gaharu mempunyai nilai ekonomis paling tinģgi dan telah diperdagangkan sebagai komoditi antar pulau.

3. Pohon gaharu beringin yang paling wangi diantara semua pohon gaharu dan dipakai untuk ritual pemujaan dalam upacara keagamaan di Pajajaran.

Untuk perbandingan, ternyata komoditi kerajaan Sriwijaya juga adalah pohon gaharu jenis beringin. Tidak jauh dari situs-situs kerajaan Sriwijaya, banyak ditemukan pohon gaharu beringin sampai dengan sekarang.

Jadi tidaklah heran Prabu Sribaduga menanam pohon Samidha atau gaharu beringin, karena memang saat itu adalah komoditas yang bernilai ekonomi tinggi hingga saat ini. (*)

Penulis : Maki Sumawijaya
Pemerhati dan Pelestari Budaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed