by

Sejahtera Lahir dan Batin Masyarakat

Oleh: Saeful Anwar
Calon Kepala Desa Cileungsi Kidul

Distrust (ketidakpercayaan) sudah menjadi gejala umum yang kini hinggap diseluruh lapisan masyarakat terhadap para pemimpin dan calon pemimpinnya. Mereka sudah mulai apatis (bodo amat), skeptis (ragu), hipokrit (munafik), dan bahkan sudah prustasi (emang gua pikiran), terhadap pemimpin dan calon pemimpin yang ada. Akibatnya politik uang menjadi cara para pemimpin dan calon pemimpin untuk menjaring dan menghimpun suara.

Dua alasan, mengapa pemimpin dan calon pemimpin tidak memiliki kredibilitas (kepercayaan), dan akuntabilitas (pengakuan), pertama, faktor integritas (kesolehan), kedua, faktor skill (kecakapan). Hari ini, mahal sekali kita bisa menyaksikan para pemimpin dan calon pemimpin yang memiliki intergitas yang mengakar kuat dijantung nilai – nilai religious dan budaya serta pemimpin / calon pemimpin yang memiliki kecakapan manajerial dan professional dalam mempengaruhi dan mengendalikan masyarakat. Pemimpin kali ini telah menjadi sosok atau pribadi – pribadi yang feodalis yang inginnya dilayani bukan melayani, yang seharusnya sederhana dan bersahaja, bukan elitis dan glamaour, yang seharusnya berada ditengah tengah masyarakat merasakan getar nadi dan detak jantung masyarakat kemudian bisa membaca harapan dan keinginan terdalam masyarakat, bukan mereka yang berada di menara gading asyik menikmati hidangan dari jerih payah rakyatnya.

Pemimpin sejati yang bisa membawa perubahan, perbaikan, dan kemajuan dalam mensejahterakan lahir dan batin masih berupa harapan dan impian yang masih berada tersimpan didalam rahim masyarakat. Proses demokrasi procedural (PILKADES) adalah sebuah upaya membidani lahirnya pemimpin dimaksud. Maka, kelahiran pemimpin sejati itu tidak mungkin bisa lahir dengan cara yang kotor, curang, licik, dan manipulative.

Ada dua misi besar bagi siapa saja yang hendak mencalonkan menjadi seorang pemimpin bagi masayarakatnya, misi dimaksud berangkat dari sebuah landasan filosofis atau ideologis tentang hakikat manusia itu sendiri. Bahwa manusia memiliki fitrah yang melakat erat pada dirinya, yaitu potensi yang tersimpan dalam akal-pikiran, hati-nurani, jasmani, dan social. Dengan demikian, misi pertama bagi seorang calon pemimpin adalah, menyejahterakan batin masyarakat yang menyentuh aspek akal-pikiran dan hati-nurani, maka mencerdaskan masyarakat harus menjadi misi penting yang sesuai dengan Pembukaan UUD 45 yang kita miliki. Mencerdaskan pada aspek pemikiran (IQ) dan mencerdaskan pada aspek emosional-spiritual (ESQ). strategi yang dapat dijalankan untuk mewujudkan misi ini adalah, menjalin sinergi dengan stakeholder yang concern atau bersentuhan langsung dengan masalah ini, maka lembaga – lembaga pendidikan, keagamaan, dan lembaga staretegis lainnya, serta sinergi secara individual dengan tokoh – tokoh agama, pemuda, pendidikan menjadi pilihan penting dan mendesak.

Misi kedua, adalah menyejahterakan lahiriah masyarakat, dengan membuat program / kegiatan yang bisa menstimulus tumbuh berkembangnya kebersihan, kesehatan dan kekuatan jasmani masyarakat, dan secara social dengan memberdayakan masyarakat baik secara ekonomi, seni-budaya, olar raga serta pengembangan sarana – prasarana yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya rasa persatuan, kesatuan, persahabatan, dan persaudaraan, dan sarana – prasarana yang bisa menstilmulus daya keratifitas dan inovasi kaum milenial. Ini bisa dilakukan secara cepat dan tepat dengan menjalin sinergi yang terprogram secara baik dengan pihak – pihak pemerintahan, perusahaan, dan organisasi masyarakat (LSM). Kemudian, menjadikan Karang Taruna sebagai organisasi / wadah kaum muda untuk aktif, proaktif, kreatif, dan responsive terhadap permasalahan kaum muda, serta memfungsikan BUMDES sebagai katalisator dalam pengembangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed