by

Sidang Kades Pemalsu Surat Masuk Tahap Tuntutan

 

BOGORONLINE.com, CIKARANG – Sidang Kasus pemalsuan surat sebagaimana KUHP pasal 263 oleh oknum Kepala Desa (Kades) Taman Rahayu Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi Abdul Wahid di PN Cikarang, memasuki agenda pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Tindak Pidana yang dilakukan sang kades beserta Ketua BPD Irfan Firmansyah, Kaur Perencanaan Sukri dan Mantan Sekdes yang sekarang aparatur sipil negara (ASN) di Kecamatan Setu, Ahmad Rifai menjadi sorotan masyarakat Kabupaten Bekasi. Empat terdakwa yang menjadi pesakitan, sedianya adalah panutan warga dan masyarakat Taman Rahayu, namun tindakannya tidak terpuji karena merugikan masyarakat.

Kelicikan keempat terdakwa yang ingin menguasai lahan milik Ahli waris Ontel bin Teran, dengan membuat surat untuk selanjutnya menjadi ikrar wakaf atas nama Utar, diakui Abdul Wahid dalam persidangan sebagai suatu kebodohan dirinya.

Berkas yang displit atau dibagi menjadi dua berkas dalam persidangan sebagaimana register PN Cikarang Nomor 285/Pid.B/2020/PN Ckr terdakwa Abdul Wahid dan rekan serta 286/Pid.B/2020/PN Ckr terdakwa Irfan Firmansyah dan rekan disidangkan bersamaan.

Lima saksi A de Charge atau saksi meringankan terdakwa, diajukan pengacara Taufik Hidayat dan rekan. Namun tiga diantaranya, Nanta Johan, Iyan Cakra Binekas dan Cucum ditolak majelis hakim dengan alasan tidak sesuai Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Seorang saksi lain yang berprofesi sebagai dokter diajukan pada sidang Selasa (24/5). Saksi itu pun tidak hadir memberi kesaksian karena persyaratan administrasi. Akibat ketidakhadiran saksi tersebut, Majelis Hakim Chandra Ramadhani, S.H, M.H (Ketua) didampingi Khalik, S.H menggantikan Agus Sutrisno (Hakim I ) dan Albert Dwi Putra Sianipar, S.H (Hakim II) langsung menunda sidang sampai Kamis (3/6) dengan agenda pembacaan tuntutan JPU.

Sehingga, dalam memberikan kesaksian untuk meringankan para terdakwa, tidak dapat dilakukan. Dari lima saksi, hanya satu saksi yang dapat memberi kesaksian dalam persidangan yakni Roy Kamaludin.

JPU Danang Yudha Prawira SH dari Kejari Cikarang, usai sidang mengatakan kesiapannya membacakan tuntutan pada Kamis depan. Sesuai dakwaan, KUHP 263 dengan ancaman kurungan 6 tahun penjara belum dipastikan. Danang berdalih akan berkoordinasi dengan pimpinan dalam penuntutan.

“Pembacaan tidak akan lama karena tuntutannya tidak banyak. Dalam persidangan sudah jelas, para terdakwa mengakui semua perbuatan yang didakwakan. Saat ini, proses masih berjalan, jadi belum bisa dipastikan tuntutannya. Untuk tuntutan, saya akan berkoordinasi dulu dengan pimpinan,” kata Danang di PN Cikarang, Selasa (25/5).

Sementara itu, Pengacara terdakwa, Taufik Hidayat membenarkan, kliennya telah mengakui semua dakwaan. Karena itu, pihaknya akan memohonkan Klemensi agar hukuman kliennya bisa lebih ringan dari tuntutan jaksa. “Kami akan mengajukan klemensi dengan harapan hukuman bisa lebih ringan,” tegas Taufik.

Taufik juga menyoal adanya dana Rp 600 juta yang mengalir ke Saksi pelapor, Gunawan alias Kiwil. Menurut dia, dana dalam bentuk kompensasi kepada pelapor itu mestinya mencegah kasus tidak berujung ke meja hijau seperti sekarang.

“Dalam persidangan sebelumnya, hakim mempertanyakan uang tersebut sampai dua kali. Artinya, kalau kasusnya berlanjut, uang harus dikembalikan. Pelapor telah mengakui menerima uang itu. Kami akan menempuh jalur hukum untuk permasalahan ini,” tegas Taufik.

Terpisah, Saksi pelapor Gunawan mengatakan, tidak ada keterkaitan antara laporannya dengan uang itu. Karena, dalam kesepakatan, tidak dicantumkan uang yang diberikan kepada dirinya.

“Tidak ada kaitan laporan saya dengan uang itu, Kalau pun dikaitkan, itu uang terima kasih keluarga terdakwa Wahid yang telah ditangguhkan penahanannya oleh penyidik Polres Metro Bekasi Kabupaten,” katanya.

Yang menjadi kesepakatan antara dirinya dengan terdakwa Wahid lanjut Kiwil ada 4 poin, Membuat pengantar pembuatan SPPT, membuat sporadik, membuat salinan letter C desa dan membuat surat keterangan tidak sengketa.

“Itu yang jadi kesepakatan saya dan terdakwa melalui keluarganya, bukan uang,” pungkasnya.

(soeft)

ARTIKEL REKOMENDASI

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *