by

Sidang Kasus Pemalsuan Surat Puluhan Ahli Waris Kawal Persidangan

BOGORONLINE.com, CIKARANG – Keluarga Ahli waris Ontel bin Teran yang mengejar haknya atas lahan seluas 11 ribu meter persegi melalui jalur hukum, disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Cikarang. Kepala Desa (Kades) Tamanrahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi AW bersama tiga aparat desa lainnya, Ketua BPD IRF, Kaur Pemerintahan SKR dan mantan sekretaris desa AHM menjadi pesakitan.

Memasuki sidang ke empat, Selasa (4/5) lalu dengan agenda pemeriksaan saksi, pengunjung yang hadir semakin membludak. Sekitar 50 keluarga ahli waris serta simpatisan pelapor Gunawan alias Kiwil ikut memantau jalannya persidangan. Walau mereka tidak masuk ruang sidang, namun perkembangan persidangan dapat diketahui.

Empat orang saksi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Surya Wijaya Camat Setu, Imam Santoso Mantan Plt Camat Setu, Kades Tamansari (Desa induk Tamanrahayu) Jahi Hidayat dan Zaenal Arifin mantan Kepala KUA Setu. Dalam kesaksian, keterangan saksi ada yang dibantah terdakwa.

Saksi Zaenal Arifin menjadi sorotan pengunjung sidang. Keterangan saksi yang dibantah terdakwa IRF itu, menimbulkan kecurigaan pengunjung sidang. Kesaksian di depan hakim, saksi Zaenal mengakui, terdakwa IRF ada hubungan keluarga yakni ipar.

Saat mengurus ikrar wakaf dari Utar ke pemerintah desa, berkas diantar oleh terdakwa IRF. “Ya, yang mengantar berkas ke KUA adalah terdakwa IRF,” kata Zaenal dalam persidangan Selasa.lalu.

Namun, keterangan saksi dibantah terdakwa. Menurut IRF, bukan dirinya yang mengantar berkas, tapi orang lain. “Saya ke KUA, tapi bukan saya yang mengantar berkasnya,” bantah terdakwa IRF.

Walau ada bantahan dari terdakwa, saksi tetap pada kesaksiannya. “Saya tetap pada kesaksian,” tegas Zaenal.

Salah satu simpatisan Kiwil yang hadir ke PN Cikarang, merasa kaget setelah saksi mengutarakan hubungan dengan terdakwa IRF. Ia menduga ikrar wakaf itu telah direncanakan antara saksi Zaenal dengan terdakwa IRF. Karena hubungan keduanya sangat dekat yakni adik ipar.

“Walau kami di luar ruang sidang, tetap mendengar informasi dari dalam. Apalagi, setelah mengetahui saksi dan terdakwa ada hubungan keluarga. Sangat memungkinkan ada pembahasan diantara keduanya sebelum ikrar wakaf terbit,” tutur salah satu simpatisan yang tidak mau diketahui jatidirinya, Jumat (7/5) di Tamanrahayu.

Karena itu, dirinya yakin putusan hakim akan sesuai dengan pasal yang didakwakan sebagaimana KUHP 263. Sekalipun ikrar wakaf sudah dicabut, rencana awal pasti mengarah kesana, penerbitan surat wakaf. “Semoga hasil persidangan diputus dengan seadil-adilnya,” tandas dia.

Diberitakan sebelumnya, Kasus Nomor 285/Pid.B/2020/PN Ckr terdakwa Abdul Wahid dan rekan serta 286/Pid.B/2020/PN Ckr terdakwa Irfan Firmansyah dan rekan disidangkan bersamaan. Terdakwa dijerat pasal 263 KUHP dengan ancaman kurungan penjara diatas lima tahun.

Sidang dipimpin Hakim Chandra Ramadhani, S.H, M.H (Ketua) didampingi Agus Sutrisno, S.H, (Hakim I ) dan Albert Dwi Putra Sianipar, S.H (Hakim II). Jaksa Penuntut Umum, Danang Yudha Prawira, S.H. Sementara, terdakwa didampingi pengacara Taufik Hidayat Nasution, S.H, M.H.

(soeft)

ARTIKEL REKOMENDASI

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *